12 Feb 2015

Guru Harus Jadi Teladan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Bagi Para Siswa

PARA guru di sekolah merupakan figur yang seringkali menjadi contoh oleh para siswa. Karena itu, hendaknya para guru senantiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga dapat menjadi teladan yang tepat dalam menumbuhkan nilai-nilai kesehatan bagi para siswa.

Kami sangat mengharapkan guru-guru dapat berperilaku sehat agar dicontoh oleh anak-anak muridnya, ujar Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), usai bertemu dengan Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Anies Rasyid Baswedan Ph.D, di Kantor Kemenbuddikdasmen, Jakarta (28/1).

Menkes mengungkapkan harapannya adalah mewujudkan etika perilaku sehat masyarakat. Hal ini tentu diawali dari anak-anak, dibiasakan oleh orang tuanya di rumah, juga meneladani guru-gurunya di sekolah yang memang mengerti betul tentang apa yang disebut sehat.

Sehat itu bukan hanya sekedar sehat fisik, namun juga dalam arti psikologis, ujar Menkes.

Menkes menekankan pentingnya anak-anak sekolah mengetahui perilaku sehat agar dapat menjadi sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
       
"Kita harus tahu apa itu sehat, berperilaku sehat dan saya yakin kita akan berpendidikan dengan baik nantinya, tandas Menkes.

Pada kesempatan yang sama, Mendikbud RI, Anies Rasyid Baswedan Ph.D, menyatakan bahwa telah bersepakat pada tahun ajaran baru mendatang revolusi mental dalam kehidupan sekolah, utamanya penerapan perilaku sehat, akan diterapkan.

Dimulai dari guru agar berperilaku lebih sehat, siswa juga seperti itu. Kita ingin mengatur sedemikian rupa, sehingga tidak membebani sekolah, guru, dan anak-anak. Namun justru melihat ini sebagai sesuatu yang positif dan edukatif, karena tujuannya untuk mempromosikan hidup sehat, tuturnya.

Lebih lanjut, Mendikbud RI menambahkan bahwa pertemuan dengan Menkes RI, pada kesempatan tersebut merupakan pertemuan pembuka dan akan ditindaklanjuti oleh direktorat terkait di masing-masing kementerian.


Para guru di sekolah merupakan figur yang seringkali menjadi contoh oleh para siswa. Karena itu, hendaknya para guru senantiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga dapat menjadi teladan yang tepat dalam menumbuhkan nilai-nilai kesehatan bagi para siswa.

Kami sangat mengharapkan guru-guru dapat berperilaku sehat agar dicontoh oleh anak-anak muridnya, ujar Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), usai bertemu dengan Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Anies Rasyid Baswedan Ph.D, di Kantor Kemenbuddikdasmen, Jakarta (28/1).

Menkes mengungkapkan harapannya adalah mewujudkan etika perilaku sehat masyarakat. Hal ini tentu diawali dari anak-anak, dibiasakan oleh orang tuanya di rumah, juga meneladani guru-gurunya di sekolah yang memang mengerti betul tentang apa yang disebut sehat.

Sehat itu bukan hanya sekedar sehat fisik, namun juga dalam arti psikologis, ujar Menkes.

Menkes menekankan pentingnya anak-anak sekolah mengetahui perilaku sehat agar dapat menjadi sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
       
"Kita harus tahu apa itu sehat, berperilaku sehat dan saya yakin kita akan berpendidikan dengan baik nantinya, tandas Menkes.

Pada kesempatan yang sama, Mendikbud RI, Anies Rasyid Baswedan Ph.D, menyatakan bahwa telah bersepakat pada tahun ajaran baru mendatang revolusi mental dalam kehidupan sekolah, utamanya penerapan perilaku sehat, akan diterapkan.

Dimulai dari guru agar berperilaku lebih sehat, siswa juga seperti itu. Kita ingin mengatur sedemikian rupa, sehingga tidak membebani sekolah, guru, dan anak-anak. Namun justru melihat ini sebagai sesuatu yang positif dan edukatif, karena tujuannya untuk mempromosikan hidup sehat, tuturnya.

Lebih lanjut, Mendikbud RI menambahkan bahwa pertemuan dengan Menkes RI, pada kesempatan tersebut merupakan pertemuan pembuka dan akan ditindaklanjuti oleh direktorat terkait di masing-masing kementerian.
- See more at: http://www.depkes.go.id/article/view/15020200001/menkes-harapkan-guru-jadi-teladan-perilaku-hidup-sehat-bagi-para-siswa.html#sthash.V8vstSbL.dpuf

11 Feb 2015

Mahasiswi Cabid Praktik Kebidanan Komunitas di Sindanglaut



32 mahasiswi Akademi Kebidanan (Akbid) Pelita Persada, Grogol, Jakarta mulai Senin (9/2) melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Kebidanan Komunitas di Desa Sindanglaut, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Rencananya para mahasiswi calon bidan (cabid) tersebut akan PKL selama dua pekan hingga 21 Februari 2015.
Pantauan di lokasi, rombongan mahasiswi dan dosen disambut Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang  DR. H. Didi Mulyadi di Kantor Balai Desa Sindanglaut. Hadir dalam sambutan penerimaan Kades Sindanglaut Sulaeman, Kepala Puskesmas H. Ajat, Kepala Bidang Sumberdaya
Kesehatan dr.H. Kodiat Juarsa, serta puluhan tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat yang memadati ruang balai desa.
Sekretaris Dinkes DR. H. Didi Mulyadi dalam sambutannya mengatakan, Kesehatan harus menjadi tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, dan pemerintah. “Apapun peran yang dimainkan pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dapat dicapai,” ungkap Didi.
Oleh karena, dia menegaskan dalam praktek kebidanan komunitas mahasiswi harus mampu menggerakan peran serta masyarakat  agar tahu, mampu dan mandiri dalam memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan. “Pada intinya, praktek kebidanan komunitas ini harus menekankan pada aksi memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu untuk hidup sehat,” katanya..
Sementara itu Dosen pembimbing Akbid Pelita Persada Sri Agustina Dewi mengatakan, kegiatan praktek kebidanan komunitas adalah penerapan ilmu selama perkuliahan oleh mahasiswa di bidang kesehatan yang menyeluruh.  Dalam prosesnya selama dua pekan PKL, mahasiswa diharapkan mampu mengenal masalah, merumuskan alternatif terbaik dalam pemecahan masalah yang ada bersama masyarakat.
“Kami berharap mahasiswi bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat yang bermanfaat,” katanya.
Kepala Puskesmas Carita H. Ajat, SKM mengatakan  pelayanan kesehatan yang lebih banyak berperan justru bergantung pada perilaku masyarakat sendiri. “Disini peran mahasiswi menggerakan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sangat membantu tugas-tugas Puskesmas,” katanya.
Dia berharap praktek kebidanan komunitas ini memberikan kontribusi  dalam perubahan perilaku dan lingkungan masyarakat setempat.
Usai penyambutan dan penyerahan para mahasiswi dari Akbid Pelita Persada kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang para mahasiswi  juga diberikan pembekalan materi dari Kabid SDK Dinkes Pandeglang dr. H. Kodiat Juarsa diantaranya persoalan kesehatan ibu dan anak, tentang desa siaga dan pemberdayaan masyarakat sesuai budaya karakteristik setempat. Selanjutnya pihak Dinkes Pandeglang menyerahkan para mahasiswi kepada Kepala Desa Sindanglaut untuk melaksanakan PKL Kebidanan Komunitas selama dua pekan.


9 Feb 2015

Hari Pers Nasional 9 Februari 2015 : PWI Pandeglang Gelar Turnamen Catur

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pandeglang bakal menggelar Turnamen Catur PWI Cup Non Master 2015 pada Selasa (17/2/2015) mendatang. Kegiatan ini dalam rangka memeriahkan Hari Pers Nasional dan mempererat tali silaturahmi antar pecatur di Banten.

Ketua panitia pelaksana turnamen, Dadang Granat mengatakan, catur merupakan olahraga yang sangat memasyarakat dan dikuasi oleh semua kalangan. Atas dasar ini kata Dadang, PWI tergerak untuk menggelar event. “Banyak manfaat yang bisa diambil antara lain kebersamaan. Namun tak menutup kemungkinan juga dari event ini kita bisa melihat potensi pecatur daerah untuk diikutsertakan dalam event yang lebih bergengsi,” kata Dadang, keamarin.

Dadang berharap, event ini tak disia-siakan oleh penghobi catur di Banten. Soalnya kata Dadang panitia menyediakan hadiah berupa uang tunai serta piala tetap PWI dan Percasi Pandeglang “Turnamen ini akan menggunakan sistem swis 7/9 babak. Pokonya dijamin menarik dan menantang bagi pecatur,” kata Dadang.

Terpisah, Ketua Pengkab Percasi Pandeglang Fery Hasanudin menyamut baik turnamen catur yang akan digelar PWI Pandeglang. “Turnamen sangat penting untuk mengasakah kemampuan penghobi catur. Kami juga akan memantu kemampuan masing-masing pencatur karena bukan tidak mungkin jika ada yang bagus kita inventarisir untuk diikutkan di Kejurda atau event lainnya di Banten,” terang Sekwan DPRD Pandeglang ini. (muhaemin)***

8 Feb 2015

Yuk Berhenti Merokok



Sehat adalah dambaan setiap orang. 
Berapapun harganya akan kita bayar untuk sehat. 
Sehat berawal dari kebiasaan. Kebiasaan terbentuk dari pola pikir. 
Teknologi telah berhasil merubah pola pikir. 
Sebuah jalan untuk hidup sehat dengan berhenti merokok….

7 Feb 2015

Sekdinkes : Siap Mengemban sebagai Pembantu PPID

SEJAK dilantik menjadi Sekretaris, DR. H. Didi Mulyadi, SKM, M.Kes mulai melakukan tugas-tugas sebagai orang nomor dua di Dinas Kesehatan (Dinkes) Pandeglang. Pria sederhana dan murah senyum kelahiran Menes 16 Agustus 1964 ini mengatakan sejak awal telah ditugaskan Kadinkes Pandeglang H. Deden Kuswan untuk menata pelayanan di Puskesmas agar semakin baik dalam memberikan pelayanan.
Sejumlah instrumen penilaian ia persiapkan sebagai langkah memonitoring kinerja petugas Puskesmas.
Untuk tugasnya itu, mantan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pandeglang yang dilantik menjadi Sekretaris Dinkes Pandeglang pada 31 Desember 2014 itu mengaku akan sering kunjungan ke Puskesmas-puskesmas melihat langsung pelayanan kesehatan masyarakat.
“Fokus saya kalau ke Puskesmas menata aset yang ada di Puskesmas, memastikan jika sumberdaya kesehatan yang ada memadai untuk melayani masyarakat dan manajemen Puskesmas sudah dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang ada,” terang Pemilik Klinik Difa ini ditemui usai mengunjungi Puskesmas Mekarjaya, Kamis(5/2/2015).
Dia beralasan pentingnya peningkatan pelayanan di Puskesmas mengingat fasilitas kesehatan pemerintah tersebut merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Pada bagian lain dia menambahkan kesiapannya mengemban tugas sebagai pembantu Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) sesuai tupoksi yang diembannya sebagai sekretaris. “Saya siap menjalin mitra dengan media massa, karena memang dinas kesehatan sangat membutuhkan untuk menyebarluaskan informasi setiap program baik kegiatan yang di Puskesmas maupun di dinkes,” tandasnya.

6 Feb 2015

Kemenkes RI Canangkan Komitmen Penanggulangan Kanker



World Cancer Day 2015 Jakarta, Rabu (4/2)

Tanggal 4 Februari setiap tahun, diperingati sebagai World Cancer Day atau Hari Kanker Se-Dunia. Peringatan Hari Kanker Sedunia 2015 mengambil tema Kanker Bukan di luar Kemampuan Kita. Bertepatan dengan peringatan tersebut, Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), mencanangkan Komitmen Penanggulangan Kanker di Indonesia di Kantor Kemenkes, Rabu (4/2/2015)

Penandatangan komitmen dilakukan bersama-sama dengan Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN), Prof. Dr. dr. Soehartati G, Sp.Rad(K)Onk.Rad; perwakilan dari organisasi profesi Wakil Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI),. Bersamaan dengan pencanangan komitmen tersebut, juga dilakukan peluncuran website kanker.kemkes.go.id yang berisi data kanker di Indonesia dan akan dikelola oleh KPKN.

Isi Komitmen Penguatan Kegiatan Penanggulangan Kanker di Indonesia, yaitu:
1) Menjadikan kanker sebagai salah satu prioritas masalah kesehatan nasional;
2) Bersatu dan bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah kanker, baik oleh pemerintah, organisasi profesi dan masyarakat;
3) Meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan masyarakat tentang kanker dan pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan;
4) Merencanakan dan mengimplementasikan program kerja secara paripurna dan berkesinambungan yang mencakup deteksi dini, tatalaksana, rehabilitatif dan paliatif;
5) Mendorong terbentuknya regulasi publik yang mendukung hidup sehat hindari kanker.

Berkaitan dengan komitmen tersebut, Menkes mengimbau kepada jajaran kesehatan,  masyarakat, dan stakeholders lainnya untuk mendukung penguatan Komitmen Kegiatan Penanggulangan Kanker di Indonesia, dengan memberikan perhatian khusus pada:
1) Peningkatan upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan awareness  masyarakat  tentang kanker;
2) Pengembangan upaya deteksi dini dalam rangka menurunkan angka kematian akibat kanker;
3) Obati kanker sesuai standar, diperlukan pengawasan dan evaluasi tentang efektifitas  pengobatan alternatif yang banyak ditawarkan melalui  media  massa  maupun elektronik;
4) Peningkatan kualitas hidup pasien kanker melalui upaya paliatif yang efektif;
5) Dukungan semua elemen masyarakat dalam mengendalikan kanker secara komprehensif dan berkesinambungan.

Kanker Bisa Dicegah

WHO menyatakan bahwa 43% kanker dapat dicegah. Kanker sebenarnya dapat dikatakan sebagai penyakit gaya hidup karena dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat dan menjauhkan diri dari faktor risiko terserang kanker. Terjadinya penyakit kanker terkait dengan beberapa faktor risiko, seperti kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum alkohol, kegemukan, pola makan yang tidak sehat, perempuan yang tidak menyusui, dan perempuan melahirkan di atas usia 35 tahun.

Jika kita menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) maka risiko atau kemungkinan untuk terserang kanker akan berkurang, kata Menkes.

Perilaku yang perlu diterapkan yaitu:
1) melakukan aktifitas fisik secara benar, teratur dan terukur;
2) makan makanan bergizi dengan pola seimbang, cukup buah dan sayur; serta
3)  mengelola stres dengan tepat dan benar.

Untuk memudahkan, ingatlah kata CERDIK menjauhkan diri dari kanker, tandas Menkes.

CERDIK merupakan singkatan dari Cek kesehatan secara berkala; Enyahkan asap rokok; Rajin aktivitas fisik; Diet sehat dengan kalori seimbang; Istirahat cukup; dan Kelola stres.

Permasalahan Kanker di Indonesia

Dalam sambutannya, Menkes menerangkan bahwa permasalahan kanker di Indonesia cukup besar. Setiap tahun diperkirakan 12 juta orang di dunia menderita kanker dan 7,6 juta diantaranya meninggal dunia. Diperkirakan pada tahun 2030 kejadian tersebut dapat mencapai hingga 26 juta orang dan 17 juta di antaranya meninggal akibat kanker, dan peningkatan lebih cepat terjadi di negara miskin dan berkembang. Laporan Global Burden Cancer (Globocan, 2012)  memperkirakan insidens kanker di Indonesia sebesar 134 per 100.000 penduduk. Estimasi ini tidak jauh berbeda dengan  hasil  Riskesdas 2013 yang mendapatkan prevalensi kanker di Indonesia sebesar 1,4 per 1000 penduduk.

Meningkatnya mortalitas dan morbiditas penyakit tidak menular, termasuk kanker membawa tantangan berupa pembiayaan yang besar, ujar Menkes

Laporan Jamkesmas menunjukkan bahwa pada tahun 2012 pengobatan kanker menempati urutan ke-2 setelah hemodialisa yaitu mencapai Rp 144,7 milyar. Sementara itu,  menurut data BPJS, pada periode Januari-Juni 2014 dilaporkan pengobatan kanker untuk rawat jalan menempati urutan ke-2 dengan jumlah kasus 88.106 dan pembiayaan sebesar Rp 124,7 milyar, sedangkan untuk rawat inap menempati urutan ke-5, dengan jumlah kasus 56.033 dan pembiayaan sebesar Rp 313,1 milyar.

Pengendalian Kanker di Indonesia

Pengendalian kanker yang komprehensif meliputi upaya-upaya mulai dari pencegahan, deteksi dini, diagnosis, kuratif, pelayanan paliatif, termasuk surveilans dan penelitian, serta support atau dukungan pagi keluarga dan survivor kanker.

Pengendalian penyakit kanker di Indonesia ditentukan oleh keberhasilan penerapan strategi penanganan yang komprehensif, terorganisir, terkoordinasi dan berkesinambungan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Pemerintah bersama segenap lapisan masyarakat, termasuk organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, kalangan swasta dan dunia usaha, serta seluruh individu dalam masyarakat.

Pemerintah saat ini telah melaksanakan beberapa program dalam pengendalian kanker yaitu upaya promotif dengan mengeluarkan regulasi antara lain kawasan tanpa rokok (KTR), diet sehat dan kalori seimbang. Selain itu, dalam upaya  preventif, Kemenkes dengan dukungan organisasi profesi,  Yayasan Kanker Indonesia dan masyarakat telah mengembangkan program deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di Puskesmas

Kita patut bersyukur bahwa kita telah berhasil mengembangkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang paket manfaatnya menanggung deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di Faskes tingkat pertama, tutur Menkes.

Menkes juga menambahkan, bahwa paket manfaat JKN juga mencakup diagnosis dan pengobatan di rumah sakit.  Selain itu juga telah dikembangkan kegiatan penemuan dini kanker pada anak di Puskesmas.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email kontak[at]depkes[dot]go[dot]id

5 Feb 2015

Waspada Demam Berdarah

Demam Berdarah adalah penyakit yang disebarkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Demam Berdarah (Aedes aegypti).
Jangan terlambat untuk mencegah Demam Berdarah dengan 3M Plus, bila ada gejala segera bawa ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat.
3M Plus adalah tindakan yang dilakukan secara teratur untuk memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk Demam Berdarah dengan cara : Menguras tempat-tempat penampungan air, Menutup tempat penampungan air, Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air serta plus mencegah perkembangbiakan nyamuk dengan memelihara ikan pemakan jentik, memasang kasa, mengatur ventilasi serta pencahayaan di dalam ruangan selain itu menghindari gigitan nyamuk, tidur pakai kelambu dan memakai obat nyamuk.