Tampilkan postingan dengan label gerakan sayang ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gerakan sayang ibu. Tampilkan semua postingan

9 Jul 2014

Pemkab Giatkan Gerakan Sayang Ibu

Pemkab Pandeglang kembali menggiatkan Gerakan Sayang Ibu (GSI). Melalui Kelompok Kerja Tetap (Pokjatap) yang terdiri dari lintas program dan sektor terkait, pembinaan GSI diaktifkan guna meningkatkan pengetahuan, kepedulian dan komitmen instansi Pemerintah dan peran serta masyarakat dalam upaya percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) secara integratif dan sinergis untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas.
Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluaraga Berencana (BP3AKB) atas nama Ketua Tim Pokjatap Kabupaten Pandeglang Hj. Tati Suwagiharti mengatakan, pihaknya telah melaksanakan pembinaan sekaligus evaluasi awal kegiatan GSI di tiga kecamatan sayang ibu (KSI) yakni Cisata, Pulosari dan Kecamatan Karangtanjung. “Termasuk didalamnya kami memberikan pembinaan terhadap kegiatan Bina Keluarga Balita dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),” katanya, kemarin.
Selain itu, Pokjatap yang terdiri dari perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diantaranya BP3AKB, Dinkes, Dinas pendidikan, BPMPD, melaksanakan pembinaan di desa siaga, Rumah Sakit Sayang Ibu (RSSI) di RSUD Berkah serta pembinaan disalah satu perusahaan pembina terbaik tenaga kerja perempuan di wilayah Pandeglang.
Kepala Seksi Promosi (Promkes) Kesehatan Dinkes Pandeglang Yudi Hermawan, SKM mengingatkan bahwa GSI merupakan gerakan pemerintah yang dilakukan bersama masyarakat. “Jadi harus ada juga kepedulian dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan, penurunan angka kematian bayi, program ASI eksklusif, kesehatan reproduksi dan peningkatan derajat kesehatan remaja putri ini,” tutur Yudi usai melakukan pembinaan GSI di RSUD Berkah, Rabu (25/6).
Dia mengungkapkan, kegiatan GSI ini rangkaian pembinaan oleh Pokjatap yang digelar mulai tanggal 23 – 27 Juni 2014. “Kegiatan ini pembinaan dan evaluasi awal untuk melihat beragam kegiatan GSI dimuai di kecamatan sayang ibu, desa siaga, RSSI, Puskesmas, Pondok sayang ibu hingga ditingkat warga dan suami siaga,” tandasnya.

17 Mei 2013

RSB Permata Ibunda Dinobatkan Sebagai Pengelola Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi Terbaik

Dari dua rumah sakit di Kabupaten Pandeglang, akhirnya Rumah Sakit Bersalin (RSB) Permata Ibunda dinobatkan sebagai Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) terbaik tingkat Kabupaten Pandeglang tahun 2013.
Pemilihan RSB Permata Ibunda yang berlokasi di kawasan Majasari Pandeglang itu karena dinilai berkomitmen penuh terhadap pelayanan kesehatan, khususnya terhadap ibu dan anak.
"Kami menyambut baik penetapan sebagai RSSIB, karena RSB Permata Ibunda merupakan pelaksana program kesehatan utamanya untuk menekan angka kematian ibu, bayi dan balita," ujar Manajer RSB Permata Ibunda, Hj. Mei Wijaya, SKM, MARS, Kamis (16/5).
Keberhasilan ini ungkap Mei sekaligus membuktikan bahwa RSB Permata Ibunda diakui memiliki sumberdaya kesehatan (SDM) berkualitas dan selalu mengutamakan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Penghargaan ini diberikan dalam rangka rangkaian program Gerakan Sayang Ibu (GSI) tingkat Kabupaten Pandeglang tahun 2013,” katanya.
Menurut Mei, pihaknya sudah siap menjadi wakil Kabupaten Pandeglang untuk bersaing dengan rumah sakit Kabupaten/Kota lainnya dalam seleksi RSSIB Provinsi Banten tahun 2013, yang merupakan bagian dari ranggkaian kegiatan GSI Provinsi Banten.
Untuk diketahui, Rumah Sakit Sayang Ibu Bayi (RSSIB) merupakan salah satu program di Kementerian Kesehatan dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi di fasilitas kesehatan RS melalui 10 Langkah Perlindungan Ibu dan Bayi secara Terpadu dan Paripurna. Melalui program ini setiap tahun diadakan penilaian dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember.
Kemenkes bersama Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) setiap tahun akan memberikan beberapa penghargaan diantaranya penghargaan pada Pengelola Terbaik RSSIB tingkat Propinsi dan Nasional.

14 Apr 2013

Tim Penilai Lintas Sektor Evaluasi Kecamatan Sayang Ibu di Cimanggu dan Sumur



BERAGAM cara dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup warganya. Salah satu yang sedang diupayakan Pemkab Pandeglang diantaranya melalui Gerakan Sayang Ibu (GSI). Gerakan ini pada dasarnya merupakan mobilisasi potensi sumber daya yang ada guna memperbaiki kualitas perempuan, khususnya penurunan kematian ibu dan anak dalam rangka pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kabupaten Pandeglang Hj. Tati Suwagiharti, GSI merupakan gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bersama-sama dengan pemerintah melalui program kegiatan lintas sektoral.
“Mengingat penyebab kematian ibu karena berbagai faktor seperti pendidikan, pengetahuan, sosial budaya, sosial ekonomi, geografis, dan lingkungan yang semuanya di luar aspek kesehatan, maka penanggulangannya pun harus melibatkan sektor di luar kesehatan,”  ,” kata Tati disela-sela memimpin penilaian lomba GSI tingkat Kabupaten Pandeglang yang dipusatkan di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kamis (11/3).
Dengan adanya GSI, kata Tati yang juga istri Kadinkes Pandeglang H. Deden Kuswan ini, diharapkan dapat menggerakkan masyarakat untuk aktif terlibat dalam berbagai kegiatan seperti pemetaan bumil, bina keluarga balita hingga meningkatkan pengetahuan dan kesadaran warga akan pentingnya mengupayakan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana.
Dalam kesempatan pembinaan sekaligus penilaian lomba GSI tingkat Kabupaten Pandeglang, tim lintas sektor kabupaten yang diketuai  Hj. Tati Suwagiharti beserta rombongan mengunjungi Desa Ciburial Kecamatan Cimanggu dan Desa Kertamukti Kecamatan Sumur.
Ditegaskan, hal-hal yang dapat dipelajari dari keberhasilan program GSI adalah adanya komitmen yang tinggi dari kepala daerah dan jajarannya dengan terbentuknya kelompok kerja tetap di tingkat kabupaten dan satuan tugas di tingkat kecamatan maupun desa.
Selain itu, tersedianya bantuan biaya bagi ibu yang memerlukan, termasuk terbentuknya jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat dan tabungan ibu bersalin (tabulin), tersedianya bantuan darah bagi ibu yang memerlukan, termasuk pembentukan paguyuban donor darah di tingkat desa, tersedianya bantuan transportasi bagi ibu yang memerlukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan medis, termasuk pembentukan sistem ambulans desa, tersedianya sistem pendataan, pencatatan dan pelaporan termasuk pemetaan sasaran risiko tinggi dan kantong persalinan.
“Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat perlu kegiatan penyuluhan antara lain melalui kampanye Suami Siaga dan meningkatnya pelayanan kesehatan melalui berbagai fasilitas kesehatan, antara lain Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi, Puskesmas Sayang Ibu dan Bayi, serta Bidan di Desa,” katanya.