6 Des 2011

Puskesmas Banjar Berdayakan Poskestren


SEBAGAI sebuah lembaga pendidikan yang mengakar di masyarakat, peran pondok pesantren (Pontren) sangat penting bagi pembentukan karakter generasi muda. Terlebih  pontren saat ini selain mengajarkan ilmu-ilmu agama juga diajarkan ilmu pengetahuan umum dan ilmu kesehatan. Hal ini merupakan tantangan bagi Kepala Puskesmas Banjar, Hj. Ika Rostika Marliah dalam program pemberdayaan masyarakat yang kini sedang diupayakannya.
Menurut Ika, optimalisasi pemberdayaan masyarakat di lingkungan pontren tidak kalah pentingnya dengan usaha kesehatan sekolah (UKS) yang umumnya sudah berjalan. “Seperi halnya sekolah umum, pontren harus mendapat porsi perhatian yang sama dalam pembinaan kesehatan. Tujuannya agar santri dan penghuni pondok mampu secara mandiri menjaga kesehatan dan menghindarkaan dari penyakit yang mungkin terjadi di lingkungan pontren,” kata Ika, disela-sela pengukuhan pengurus UKS di lingkungan Pontren Terpadu Darul Iman, Desa Kadupandak Kecamatan Banjar, kemarin.
Dijelaskan Ika, pihaknya merintis UKS dilingkungan pontren melalui kemitraan dengan lintas sektor kecamatan. “Melalui wadah UKS ini kami sudah mengembangkan beberapa kegiatan seperti konseling kesehatan reproduksi (KKR) dan menghidupkan kegiatan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren),” katanya.
Dia mengungkapkan, KKR yang sudah berjalan dua bulan sekarang sudah memiliki 35 kader kesehatan remaja yang dibina bersama petugas lapangan keluarga berencana (PL KB) dan UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Banjar. Sedangkan Poskestren, tambah Ika, pihaknya telah melatih dua orang santri husada dan seorang ustadzah (guru red) untuk mengikuti pelatihan manajemen pengelolaan Poskestren tingkat Provinsi Banten yang digelar selama sepekan, pada minggu kemarin

Perawat Telantarkan Pasien Disanksi

Kepala Dinas Ke­sehatan (Dinkes) Pandeglang Is­kandar mengatakan pihaknya ke­sulitan dalam menangani pasien mis­kin. Kata dia, penanganan pa­sien miskin selalu terganjal oleh tidak tersedianya anggaran. “Kami tidak bisa berbuat banyak ketika ada pasien miskin yang menolak di­rawat karena tidak memiliki biaya selama penanganan di pus­kesmas atau rumah sakit,” kata Is­kandar menyikapi keluhan warga ter­hadap mahalnya biaya pengo­batan kepada Radar Banten, Selasa (29/11).
Iskandar mengklaim, semua pa­sien miskin di Pandeglang telah di­tanganinya secara optimal seiring de­ngan diberlakukannya sanksi bagi perawat atau bidan yang sengaja menelantarkan pasien miskin. “Saya sudah mengintruksi­kan kepada semua pegawai di Di­nas Kesehatan untuk tidak mem­beda-bedakan pasien. Saya ter­buka menerima laporan jika ada petugas yang bandel,” ung­kapnya, yang mengatakan akan mencari solusi biaya penang­gula­ngan kesehatan miskin saat di­rawat.
Dikatakan Iskandar, program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Masyarakat Pandeglang (Jamkes­mapan) tidak mencakup biaya selama pasien dirawat. Keluarga pasien, kata dia, tetap harus mengeluarkan biaya ketika mereka berada di rumah sakit. “Kami hanya bisa membebaskan biaya pelayanan kesehatan terhadap pasien. Tetapi tidak bagi penunggu pasien. Mereka harus tetap mengeluarkan biaya makan dan minum sendiri selama anggota keluarga dirawat,” katanya, seraya mengatakan faktor ini yang menyebabkan pasien miskin menolak dirawat. (zis/fau/zen)

Sumber : Radar Banten.Com

5 Des 2011

Penanggulangan AIDS Menunggu Langkah Konkret KPA Pandeglang

AIDS di Kab Pandeglang, Banten: Penanggulangan Menunggu Langkah Konkret KPA

 

Bupati Pandeglang, Prov Banten, Erwan Kurtubi, mengaku prihatin dengan banyaknya kasus HIV/AIDS di Pandeglang. Padahal, 10 atau 20 tahun lalu tidak terdengar di Pandeglang ada penderita HIV/AIDS terlebih daerah ini terkenal sebagai kota santri. Karena itu, Komisi Penganggaulan HIV/AIDS (KPA) Pandeglang harus mengambil langkah serius (Penderita AIDS Terus Bertambah, Harian “Kabar Banten”, 14/10-2011). 

Pernyataan di atas menunjukkan pemahaman yang tidak komprehensif terkait dengan epidemi HIV. Secara statistik rata-rata masa AIDS mulai muncul antara 5 – 15 tahun setelah tertular HIV. Tentulah 10 atau 20 tahun yang lalu belum ada kasus HIV/AIDS yang terdeteksi di Pandeglang.

Saat itu kemungkinan baru terjadi penularan baik di wilayah Pandeglang maupun di luar Pandeglang. Artinya, penduduk Pandeglang melakukan perilaku berisiko tertular HIV di Pandeglang atau di luar Pandeglang.
Penduduk Pandeglang yang berisiko tertular HIV adalah:

(a). Laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti di Kab Pandeglang atau di luar Kab Pandeglang.

(b) Perempuan dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti tanpa kondom di Kab Pandeglang atau di luar Kab Pandeglang.

(c). Laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) langsung (PSK di jalanan, cafe, pub, tempat hiburan, panti pijat, lokasi dan lokalisasi pelacuran, losmen, hotel melati dan hotel berbintang) dan PSK tidak langsung (’anak sekolah’, ’mahasiswi’, ’cewek SPG’, ’cewek cafe’, ’cewek pub’, ’cewek panti pijat’, ’ibu-ibu rumah tangga’, ’ABG’, ’pelacur kelas tinggi’, ’call girl’, dll.), serta perempuan pelaku kawin-cerai di Kab Pandeglang atau di luar Kab Pandeglang.

Pertanyaannya adalah: Apakah Pemkab Pandeglang bisa menjamin bahwa 100 persen penduduk Kab Pandeglang tidak pernah melakukan kegiatan (a), (b) dan (c)?

Kalau jawabannya YA, maka kasus HIV/AIDS yang terdeteksi di Kab Pandeglang bukan pada penduduk, asli atau pendatang, Kab Pandeglang.

Tapi, kalau jawabannya TIDAK, maka sudah ada penduduk Kab Pandeglang yang mengidap HIV/AIDS, tapi belum terdeteksi. Tidak mengherankan kalau kemudian Dinas Kesehatan Pandeglang mencatat ada enam kasus pada tahun 2010 dan tiga kasus tahun 2011.

Angka itu tentu tidak menggambarkan kasus riil di masyarakat karena bisa saja ada yang tertular di sekitar tahun 2010 sehingga masa AIDS baru muncul 5 atau 15 tahun yang akan datang.

Disebutkan oleh Bupati, pemerintah berkewajiban mengupayakan langkah pencegahan terutama di kalangan generasi muda dan kelompok masyarakat lainnya yang rentan tertular seperti orang miskin, perempuan, dan anak-anak.

Pernyataan itu tidak akurat karena mata rantai penyebar HIV yang sangat potensial adalah laki-laki dewasa. Selain menularkan HIV kepada istrinya laki-laki dewasa yang mengidap HIV akan menularkan HIV kepada perempuan lain, seperti istri, selingkuhan, pacar atau pekerja seks komersial (PSK) langsung dan PSK tidak langsung.

Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga membuktikan penyebaran yang dilakukan oleh laki-laki dewasa.

Kerentanan terhadap HIV tidak ada kaitannya secara langsung dengan kemiskinan dan usia. Setiap orang rentan tertular HIV jika perilakunya berisiko yaitu melakukan kegiatan (a), (b) atau (c).

Jika Pemkab Pandeglang mengabaikan penyebaran HIV karena tidak ada lokasi atau lokalisasi pelacuran, maka ledakan AIDS akan mengintai Pandeglang karena penduduk bisa saja melakukan perilaku berisiko di luar Pandeglang. ***[Syaiful W. Harahap]***

Sumber: kompasiana

Tujuh Mitos Palsu Seputar HIV dan AIDS

Hari AIDS Sedunia, setiap 1 Desember, diperingati untuk menumbuhkan kesadaran akan bahaya HIV/AIDS. Apalagi kasus penyakit HIV/AIDS di Indonesia tiap tahun makin meningkat.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI, dalam lima tahun terakhir terjadi peningkatan dalam penyebarannya. Pada 2005, tercatat 5.321 orang terinfeksi HIV dan AIDS sementara pada bulan September 2010 tercatat 22.726 orang.

Agar informasi yang beredar tentang HIV/AIDS tidak menyesatkan dan tidak memunculkan prasangka dan stigma buruk terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS), kenali mitos dan fakta seputar virus dan penyakit mematikan. Berikut 7 Mitos Palsu Seputar Penyakit AIDS, yaitu :


1. Orang Yang Baru Didiagnosis HIV/AIDS Akan Segera Meninggal
Fakta: Pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Karena, orang yang telah terdiagnosis tertular HIV/AIDS, terbukti bisa hidup lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Pemakaian obat, program pengobatan yang baik, dan pemahaman yang lebih baik tentang virus ini memungkinkan mereka yang terinfeksi untuk hidup normal, sehat, dan tentunya tetap hidup produktif.


2. HIV/AIDS Bisa Disembuhkan Lewat Pengobatan Alternatif
Fakta: Tak sedikit orang mengklaim mampu menyembuhkan secara alternatif. Tapi, kenyataannya sekarang ini belum ditemukan obat untuk mengalahkan HIV/AIDS. Jadi, hati-hati terhadap klaim atau penyembuhan mukjizat.


3. Dokter Umum Bisa Mengobati HIV/AIDS
Fakta: para ahli percaya bahwa dengan kompleksitas HIV dan AIDS, berarti hanya dokter spesialis kasus ini yang mampu merawat ODHA. Pastikan untuk memilih dokter tepat untuk merawat pasien HIV/AIDS secara teratur.


4. HIV/AIDS Tidak Bisa Tertular Lewat Seks Oral
Fakta: Sekali lagi, ini tidak benar dan ini mitos yang sangat berbahaya. Kondom harus tetap digunakan setiap kali melakukan hubungan seksual, anal, dan oral.


5. Mengidap HIV/AIDS Tidak Bisa Punya Anak
Fakta: Wanita yang hidup dengan HIV/AIDS tetap bisa hamil dan memiliki keturunan. Untuk mengurangi risiko penularan HIV, maka harus menjalani pengobatan untuk mengendalikan infeksi.


6. Usia Di Atas 50 Tidak Akan Tertular HIV/AIDS
Fakta: Ini tidak benar, karena banyak kasus HIV/AIDS yang ditemukan pada usia di atas itu. Virus ini bisa menyerang segala usia.


7. Pasangan Tang Sama-sama Kena HIV/AIDS, Tak Perlu Pakai Pengaman
Fakta: Tidak benar. Ahli menilai justru bila mereka tidak menggunakan kondom, bisa lebih parah dan proses pengobatan menjadi lebih sulit.

Sumber : forum.kompas.com

4 Des 2011

Hapus Diskriminasi ODHA

KOMISI Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Banten meminta dunia kerja atau dunia usaha tidak mendiskriminasikan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Pasalnya, ada beberapa kasus ODHA yang diberhentikan atau dipecat oleh perusahaan.
Hal itu yang menjadi tema aksi simpatik KPA  Provinsi Banten, Kamis (1/12), dalam rang­ka peringatan Hari HIV/AIDS se-Dunia. Da­lam aksi tersebut, KPA membagi-bagikan bunga mawar dan leafet kepada pengguna jalan. Aksi simpatik juga dilakukan di Alun-alun Kota Serang dan di Kabupaten Pandeglang.
Kusnadi, koordinator lapangan aksi simpatik,  mengatakan, ada beberapa ODHA yang dipecat dari tempat kerjanya melapor ke KPA. “Kami tidak ingin ada kejadian se­perti itu lagi. ODHA tetap dapat bekerja karena ODHA masih tetap dapat beraktivitas,” ujar Kusnadi di sela-sela aksi sim­patik, Kamis (1/12).
Sekadar informasi, HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), yaitu penyakit yang menginfeksi dan merusak sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi.
Pada masa datang, tambah Kusnadi, KPA juga menyosialisasikan HIV/AID kepada perusahaan-perusahaan supaya tidak ada lagi ODHA yang mendapat perlakuan diskriminasi atau dipecat.
Kata dia, tahun ini leading sector peringatan Hari HIV/AIDS se-Dunia yakni Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans). Setiap tahun leading sector-nya  bergantian sehingga seluruh instansi yang ada diharapkan dapat memahami dan mengerti tentang HIV/AIDS.
“Untuk tahun ini, kami mengambil tema hapuskan stigma dan diskriminasi di dunia kerja,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Fasilitator Program untuk Lapas dan Rutan Banten KPA Provinsi Banten ini.
Pengelola Program KPA Provinsi Banten Khoerunisa mengatakan, selain masalah pemecatan ODHA di dunia usaha dan dunia kerja, aksi simpatik tahun ini juga menyerukan agar pekerja laki-laki dapat mencegah penularan HIV. Pasalnya, ada sejumlah pekerja laki-laki yang menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK). “Untuk itu, kami juga ingin melakukan sosialisasi kepada para pekerja laki-laki bahwa penyakit itu dapat menular melalui hubungan seksual. Untuk mencegahnya, para pekerja dapat menggunakan kondom,” terangnya.
Ber­dasar­kan data KPA hingga saat ini, kasus HIV/AIDS yang terungkap di Provinsi Banten yakni 49,3 persen dari jumlah estimasi sebanyak 4.288 orang. (nna/yes)

Sumber : Radar Banten.Com

Perlu Peran Keluarga Cegah HIV/AIDS

PERAN keluarga, terutama orang tua sangat diperlukan untuk mencegah penularan penyakit HIV/AIDS yang saat ini memprihatinkan, termasuk di Provinsi Banten.
Ketua KPA Provinsi Banten Arief Mulyawan menjelaskan penanggulangan penyakit yang mematikan tersebut, harus melibatkan semua komponen, termasuk pemerintah daerah, aparat, tokoh agama, pers, dan organisasi kemasyarakatan.
“Saya minta para orang tua membantu pencegahan penyebaran HIV/AIDS dengan cara mengawasi pergaulan anak-anaknya, karena jika sudah tertular akan menghancurkan keluarga sendiri,” katanya.
Penularan penyakit HIV/AIDS, di antaranya melalui penggunaan jarum suntik bergantian oleh pencandu narkoba, sering berganti pasangan, transfusi darah dari penderita, pemberian air susu dari orang tua yang tertular pada bayinya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang Dais Iskandar, juga mengharapkan para orang dan keluarga secara umum agar bisa berperan aktif dalam membentu pemerintah menanggulangi serta memutus mata-rantai penyebaran penyakit tersebut.
“Upaya pemerintah untuk memberantas dan memutus penyebaran HIV/AIDS tidak akan berhasil secara optimal, tanpa dibantu masyarakat, terutama para orang tua yang memiliki anak usia remaja,” katanya.
Ia mengaku pada setiap kesempatan terus mengajak para orang tua untuk memperhatikan anak-anaknya, agar tidak terjerumus pada prilaku menyimpang, seperti penyalahgunaan narkotika dan hubungan bebas.
Guna mencegah penyebaran panyakit itu, Dinas Kesehatan terus melakukan sosialisasi baik pada keluarga korban maupun masyarakat termasuk di kalangan pelajar dan mahasiswa sehingga diharapkan mereka bisa melakukan upaya pencegahan sejak dini.
“Keluarga harus terlibat langsung dalam penanggulangan HIV/AIDS agar penularan penyakit itu bisa dilakuka sejak dini,” kata Iskandar
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Kota Cilegon Dr Indera Adriani, yang juga menjelaskan untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS yang lebih luas, perlu keterlibatan dan kerjasama semua pihak.
“Semua pihak mulai dari masyarakat, ulama, kepolisian, Badan Narkotika, Dinas Kesehatan, hingga dari kalangan keluarga dan orang tua harus terlibat aktif dalam penanggulangan HIV/AIDS,” katanya.
Menurut dia, keterlibatan keluarga, lingkungan, dan orangtua sangat akan membantu memberikan penyadaran kepada genersi muda khususnya akan bahaya penyakit HIV/AIDS.
Selain itu, juga harus ada pemahaman dan pendidikan yang cukup dari keluarga dan orangtua, agar generasi muda tidak terjerumus pada hal-hal negatif.
Memprihatinkan
Penyebaran HIV/AIDS di Provinsi Banten, sudah berada pada taraf memprihantinkan, dan jika tidak dilakukan penanggulangan secara maksimal bisa lebih parah.
“Jumlah penderita HIV/AIDS di Banten saat ini tercatat 1.800 orang, dan bisa terus bertambah kalau semua pihak tidak berupaya menanggulangi penyebarannya,” kata Ketua Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Provinsi Banten Arief Mulyawan.
Selama periode Januari 1998-September 2010, jumlah penderita penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya itu, mencapai 92 orang.
Korban akibat penyakit mematikan itu, kemungkinan akan terus berjatuhan, mengingat masih banyaknya orang dengan HIV/Aids (Odha) di provinsi itu.
“Kemungkinan jumlah penderita HIV/AIDS yang meninggal akan bertambah hingga akhir 2010,” katanya.
Jumlah penderita HIV/AIDS setiap tahun terus meningkat, sehingga perlu adanya pencegahan mulai dari keluarga hingga lingkungan.
Yang memprihatinkan, sebagian besar penderita yang meninggal dunia tersebut berusia produktif atau berkisar 15 tahun-35 tahun.
Dari beberapa penyebab penularan HIV/AIDS yang paling dominan karena penggunaan jarum suntik secara bergantian, oleh para pencandu narkoba.
“Penggunaan jarum suntik narkoba tersebut tentu penularanya lebih cepat dibandingkan hubungan seks bebas dan lainnya,” katanya.
Sementara penularan penyakit HIV/AIDS melalui hubungan seks bebas, menurut dia, relatif kecil karena banyak yang menggunakan kondom.
Di Kota Cilegon Provinsi Banten, sebanyak 12 orang Odha meninggal, setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah setempat selama beberapa waktu terakhir.
“Ada 12 penderita HIV/AIDS meninggal dunia setelah menjalani perawatan dirumah sakit,” kata Wakil Direktur Pelayanan RSUD Kota Cilegon Dr Indera Adriani.
Secara grafik penderita HIV/AIDS di Kota Cilegon yang dirawat di RSUD terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
“Sejak 2009 hingga Nopember 2010 ini tercatat sebanyak 41 orang terinfeksi HIV/AIDS. Dari jumlah itu, sebagian besar diantaranya tertular dari penggunaan jarum suntik dan hubungan seks bebas yang tidak aman,” katanya menjelaskan.
Berdasarkan data yang ada, penderita HIV/AIDS setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama, tahun 2010 meningkat tajam jumlahnya.
“Pada 2009 hanya tercatat sebanyak 22 pasien penderita AIDS. Umumnya penderita HIV/AIDS itu laki-laki dan pasangan gay, berusia mulai 25 hingga 39 tahun,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang Dais Iskandar, menjelaskan tiga penderita HIV/AIDS di daerah meninggal selama 2010.
“Pada 2010, kita mendapat laporan tiga orang penderita HIV/AIDS meninggal, berarti dalam tiga tahun terakhir ini sudah 14 penderita yang meninggal,” katany.
Ia juga menjelaskan, selama 2010 tidak ada temuan baru penderita HIV/AIDS, dan yang dilaporkan meninggal itu, kemungkinan penderita yang terjangkit penyakit itu pada tahun sebelumnya.
Sejak 2004 Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang menemukan 19 penderita HIV/AIDS dan 11 di antaranya terindentifikasi pada 2008 dan 2009, tahun ini tidak ada temuan baru.
“Khusus yang ditemukan pada 2008 sebanyak enam orang dan 2009 sebanyak lima orang, seluruhnya telah meninggal,” ujarnya.
Menurut dia, sebagian besar atau 80 persen penderita HIV/AIDS di daerah itu tertulur virus mematikan itu melalui jarum suntik, dan mereka merupakan korban dan penyelahgunaan Narkoba.
Ia juga menjelaskan, seluruh penderita itu merupakan warga setempat namun selama ini mereka merantau ke daerah lain bahkan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri.
“Di perantuan itulah mereka terjangkit virus HIV/AIDS dan setelah penyakitnya parah kembali ke Pandeglang,” ujarnya.
Iskandar juga tidak memastikan jumlah penderita penyakit itu di daerah tersebut, bisa saja yang sebenarnya jauh lebih besar dari yang terindentifikasi, karena gejalanya bagaikan gunung es yang tampak kecil dipermukaan tapi di bawahnya besar.
“Korban yang terindentifikasi itu karena mereka berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah Berkah atau Puskesmas, sedangkan yang tidak memeriksanakan diri tidak diketahui,” tegasnya.
Dais juga menjelaskan, dari 14 orang penderita HIV/AIDS di Kabupaten Pandeglang yang meninggal dunia, satu di antaranya merupakan anak berusia di bawah tujuh tahun.
“Penderita HIV/AIDS yang terindentifikasi meninggal dunia merupakan anak-anak yang usianya masih di bawah tujuh tahun,” kata Dais Iskandar.
Anak malang itu meninggal setelah dinyatakan terinfeksi penyakit itu, karena tertular dari orang tuanya yang memang terjangkit virus tersebut.
“Ibu dari anak itu merupakan pekerja seks komersial (PSK), karena itu ketika melahirkan anaknya juga tertular penyakit itu dan setelah berusia tujuh tahun akhirnya meninggal,” katanya. B/Z003 (T.S031/B/Z003/Z003) 05-02-2011 11:39:18 NNNN

Puskesmas Bangkonol Sosialisasi PHBS di Pontren


PUSKESMAS Bangkonol Kecamatan Koroncong menggelar sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Pondok Pesantren (Pontren) Nurul Huda Al-Hasani Desa Koroncong, Senin (28/11) kemarin.
Menurut Kepala Puskesmas Bangkonol, Hj. Umbiyati, SKM kegiatan sosialisasi PHBS ditujukan bagi santri dan pengurus Pontren untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungannya.
“Hidup sehat bukan hanya milik sebagian orang, tapi harus dinikmati seluruh masyarakat, termasuk kalangan pondok pesantren (Pontren),” katanya.
Agar bisa menjaga kesehatan, ujar Umbiyati, santri dan pengurus Pontren perlu menerapkan PHBS di lingkungan pontren seperti selalu menggunakan air bersih, membuang air besar (BAB) di jamban yang sehat serta membiasakan cuci tangan dengan air bersih memakai sabun.
“Kami juga mengajak para santri untuk secara rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan pondok seminggu sekali untuk menghindarkan diri dari penyakit demam berdarah,” tuturnya.
Selain itu, ungkap Umbiyati, santri diberikan pengetahuan tentang pentingnya aktivitas fisik dan olah raga secara teratur, mengkonsumsi makanan beragam dan seimbang serta menghindarkan diri dari merokok di dalam ruangan. “Saya sampaikan kalau merokok itu tidak baik bagi kesehatan dan sebaiknya kalaupun merokok tidak didalam kobong atau ruangan tertutup,” imbuhnya.
Kegiatan sosialisasi yang diikuti  sekitar 50 santri ini, tampak hadir sejumlah stap puskesmas, bidan desa Koroncong, nara sumber kabupaten dan pimpinan pondok pesantren.
Sementara itu, pimpinan Pontren Nurul Huda Al-Hasani Kampung Ratu Desa/Kecamatan Koroncong KH. Hasan Bisri mengaku mendukung langkah yang dilakukan puskesmas memberikan penyuluhan kesehatan. Dia bahkan berminat untuk bekerja sama dengan puskesmas meningkatkan kesehatan santri dengan pelayanan pengobatan. “Kedepan kami berharap petugas puskesmas datang secara rutin setiap pekan atau sebulan sekali memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan pada santri,” harapnya.