3 Des 2011

Pencanangan Kampanye HIV/AIDS, "Aku Bangga Aku Tahu"

Hari Minggu (27/11/11), Wakil Presiden RI, Bapak Boediono beserta Ibu Herawati Boediono, didampingi oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, Menteri Perhubungan, Evert Erenst Mangindaan, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Nafsiah Mboi mencangakan Kampanye Penanggulangan HIV/AIDS “Aku Bangga Aku Tahu”, di Silang Monas, Jakarta. Pencangan tersebut disaksikan oleh Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes,dan pejabat lain dari Kemenkes, Kemenakertrans, Kemenhub, serta perwakilan lembaga swadaya masyarakat peduli AIDS. Pada saat yang bersamaan, sekitar 36 siswa membentangkan banner bertuliskan “Aku Bangga Aku Tahu”, diikuti pelepasan balon pita merah dan raungan bunyi sirine.

Pencanangan ini merupakan rangkaian peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2011 yang diperingati setiap tanggal 1 Desember di seluruh negara di dunia, begitu pula di Indonesia. Peringatan HAS 2011 mengangkat tema “Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV/AIDS”. Pada peringatan tersebut, dilakukan pembacaan Komitmen Tripartit tentang penanggulangan dan pencegahan HIV AIDS di tempat kerja oleh perwakilan dari pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Selain itu, dimeriahkan pula oleh 1000 pesepeda “Bike 4 Life” tarian massal “Dance 4 Life” oleh 3000 siswa/i SMP dan SMA se-DKI Jakarta, dan dilanjutkan sajian musik “Sound 4 Life”, dan penampilan pemenang lomba rap remaja.

Menurut Wapres, jumlah orang yang meninggal karena AIDS masih signifikan, yaitu sekitar 3000-5000 orang per tahun atau sekitar 10 orang per hari, meninggal karena AIDS. Selain itu, penderita AIDS yang memiliki akses terhadap obat antiretroviral belum mencapai 40%.

Wapres juga menyatakan, bahwa meskipun angka prevalensi AIDS di Indonesia hanya 0.17% dari jumlah penduduk, namun jumlah infeksi HIV baru masih terus meningkat.

“Peningkatan bisa dikarenakan pencatatan yang kini sudah lebih baik, namun perlu diperhatikan bahwa bisa juga dikarenakan oleh upaya pencapaian sasaran untuk pencegahan yang mungkin, masih belum optimal”, ujar Wapres.

Sampai akhir Juni 2011, jumlah kumulatif kasus AIDS sebanyak 26.483 kasus. Pengidap terbesar adalah kelompok umur 20-29 tahun (36,4%) dan 30-39 tahun (34,5%). Ini menunjukan waktu terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), berada pada kelompok umur yang lebih muda, yakni sekitar 15-24 tahun, karena masa tenggang sejak terinfeksi hingga berkembang menjadi AIDS sekitar 5-10 tahun.

Mengutip data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, secara nasional pengetahuan tentang HIV/AIDS yang benar dan komprehensif pada penduduk umur 15-24 tahun, baru mencapai 11,4%. Maka tidak heran bila penderita AIDS semakin bergeser ke kelompok yang lebih muda. Di samping itu, seringkali pengidap HIV tidak menyadari dirinya telah terinfeksi. Akibatnya, mereka tidak memeriksakan diri, dan masih berperilaku yang berisiko dapat menularkan kepada orang lain.

Cara penularan HIV di Indonesia, paling banyak disebabkan oleh hubungan seks heteroseksual, Injecting Drug User (IDU), hubungan seks sesama jenis, dan perinatal. Sementara itu, penyebab utama penularan HIV di Indonesia adalah melalui cairan kelamin saat berhubungan seksual, darah melalui jarum suntik diantara pengguna narkoba, dan air susu ibu (ASI) dari ibu pengidap HIV kepada bayinya.

Sebagian besar pengidap AIDS adalah usia produktif. Karena itu, dunia usaha memiliki peran penting untuk aktif mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS Hal yang dapat dilakukan adalah melalui kebijakan dan upaya-upaya yang diharapkan dapat mencegah kerugian akibat dampak HIV/AIDS pada dunia usaha itu sendiri. Bersamaan dengan itu, upaya tersebut juga dapat memutus salah satu mata rantai penularan HIV pada kalangan pekerja.

Kebijakan dikembangkan untuk meningkatkan kesehatan, perlindungan pekerja dari HIV/AIDS, sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan dan memelihara produktivitas. Dunia usaha bersama pekerja juga dapat berperan menciptakan masyarakat yang senantiasa membantu mempromosikan nilai-nilai anti stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS. Hal ini menjadi penting, karena apabila diskriminasi terjadi, hal ini akan mengakibatkan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) termarginalisasi dan lepas dari jangkauan pelayanan program penanggulangan HIV/AIDS.

Pencanangan  Kampanye HIV/AIDS “Aku Bangga Aku Tahu”, menjadi salah satu upaya penyadaran bersama, bahwa upaya pencegahan HIV/AIDS harus lebih diperluas dan ditingkatkan kualitasnya. Kegiatan kampanye akan dilaksanakan di 10 provinsi terpilih, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi dan Papua. Dengan demikian diharapkan, pemerintah, dunia usaha, pekerja dan lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat, khususnya generasi muda,  dapat lebih mengenal HIV/AIDS, dapat melindungi diri dan orang lain dari risiko penularan HIV/AIDS.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor  tlp. (021) 52907416-9, faks. (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC) 021-500567, atau e-mail ke info@depkes.go.id dan kontak@depkes.go.id.

Sumber : Depkes.go.id

KPA Gelar Mobile Konseling HIV/AIDS

Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kabupaten Pandeglang bekerjasama dengan Klinik Teratai RSUD Serang dan manajemen PT Cibaliung Sumber Daya (CSD) menggelar mobile konseling yang dipusatkan di lingkungan perusahaan tambang emas. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari AIDS se-Dunia yang jatuh pada 1 Desember 2011 mendatang.
Ketua Pelaksana Harian KPA Pandeglang, Siti Erna Erwan mengungkapkan, konseling yang dilakukan di PT CSD sejalan dengan tema Hari AIDS 2011 yakni menghapuskan stigma dan diskriminasi di dunia kerja.
“Tim KPA Pandeglang cukup komit ntuk terus mengkampanyekan penanggulangan HIV/AIDS khususnya di dunia kerja. Kami bersyukur karena manajemen PT CSD juga memberikan respon positif dan mereka juga sadar jika kesehatan karyawannya memang sangat penting,” jelasnya.
Ketua Pokja Penanggulangan HIV/AIDS KPA Pandeglang Dr. Asmani Reneyanti menyatakan, mobile konseling kali ini bertepatan dengan kegiatan medical chek up rutin PT CSD yang dilaksanakan dari 28-30 November 2011. Jumlah peserta konseling dihari pertama sebanyak 150 orang karyawan.
“Kami menargetkan semua karyawan sebanyak 518 orang juga dikonseling sehingga tidak ada yang tercecer,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Konseling Global Fund Dinkes Kesehatan Provinsi Banten, Taufik Darmawan menyatakan, konseling bertujuan untuk mengidentifikasi karyawan yang terinfeksi HIV/AIDS.
“Kalau sudah teridentifikasi kedepannya diharapkan bisa memutus rantai penyakit, mengobati, dan mendampingi pasien jika memang ada yang terindikasi,” kata Taufik.
Terkait dengan kegiatan ini, dokter yang bertugas di PT CSD Dr. Rais Syaeful Haq kegiatan konseling sangat mendukung Kep Menakertrans No. 68/2004 mengenai pencegahan dan penanggulangan AIDS di tempat kerja.
“Semoga ke depannya di internal PT CSD dapat dibuat kebijakan tersendiri mengenai penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja serta untuk mendukung performance prestasi K3 perusahaan tambang. Salah satu isi performance K3 adalah mempunyai kebijakan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja,” jelas Dr Rais. (H-18)***

Sumber : Kabar Banten.Com

Wartawan Pegiat Aids Kampanye Peduli ODHA


MENJADI pegiat Aids bagi Muhaemin memang belum lama ditekuninya. Namun semangatnya untuk mengkampanyekan pencegahan Aids di Pandeglang harus diakui sebulan belakangan ini sangat besar. Hal itu terbukti dari kehadirannya pada setiap acara rangkaian kegiatan hari Aids sedunia 2011 yang digelar Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Pandeglang.
Diawali dengan kursus singkat penulisan HIV/AIDS bagi wartawan yang diikutinya, tanpa absen dia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga yang terjauh sekalipun di Pandeglang Selatan saat KPA Pandeglang menyambangi PT. Antam Cibaliung Sumber Daya.
Kepedulian ini bukan tanpa sebab. Selain memang sebagai seorang Jurnalis yang salah satu tugasnya meliput berita, dia menyatakan tertarik ingin lebih tahu secara mendalam soal seluk beluk HIV/AIDS.
Disisi lain Muhaemin mengaku prihatin karena jumlah penderita HIV/AIDS di Pandeglang terbilang banyak yakni 62 orang. Dia meyakini, jumlah tersebut penomena gunung es, karena sepengetahuannya diduga masih banyak pengidap HIV yang belum teridentifikasi. Karenanya, dia berinisiatif melakukan kampanye peduli Aids pada Hari Aids sedunia, kemarin.
Mengajak aktivis lainnya, Muhaemin dengan yang mengenakan pita merah di dadanya bersemangat menghentikan kendaraan yang lewat untuk memberi kesempatan menyematkan pita merah. “Pemberian pita merah kepada masyarakat untuk menunjukan kepedulian dan dukungan kita terhadap ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS),” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Muhaemin yang juga Wartawan HU. Banten Raya Pos mengajak warga untuk bersama mencegah dan menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Pandeglang agar tidak semakin bertambah.
“Kita melakukan aksi peduli ini spontan, menyiapkan pitanya juga baru semalam,” ujar Muhaemin disela-selama penyematan pita kepada salah seorang anggota Polri yang kebetulan mengamankan jalannya aksi peduli, Kamis (1/12) kemarin.
Dia juga mengaku mengajak beberapa aktivis mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat serta organisasi profesi dan wartawan media cetak dan tv lokal untuk mengkampanyekan pencegahan Aids pada Hari Aids sedunia ini.
Aksi peduli Aids sendiri berlangsung selama kurang lebih satu jam diantaranya diikuti oleh Ketua PWI Pandeglang, pengurus dan anggota KPA, petugas lembaga pemasyarakatan, Ketua IBI Pandeglang, Ketua Forum Organisasi Profesi Kesehatan Pandeglang, mahasiswa Staisman, LSM Laz-Harfa dan sejumlah aparat kepolisian setempat ikut mendampingi.
Kendati sempat menghambat arus lalu lintas, aksi ini berjalan tertib. Masyarakat pengendara bermotor baik roda dua maupun mobil antusias mengenakan pita yang diberikan para aktivis disela-sela berkendara di jalan raya Pandeglang. Selain itu mereka diberikan brosur, leaflet, buku saku dan atau stiker untuk bekal pengetahuan dalam pencegahan HIV/AIDS.

2 Des 2011

Jumlah ODHA di Pandeglang Tembus Angka 62


KOMISI Penanggulangan Aids (KPA) Pandeglang merilis informasi terbaru jumlah orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Pandeglang, bertepatan dengan Hari Aids sedunia, Kamis (1/12).
dr. Asmani Raneyanti, MHA, MARS selaku anggota KPA yang membidangi penanggulangan Aids mengungkapkan,  up date terakhir jumlah ODHA sudah menembus angka 60 kasus lebih atau tepatnya sebanyak 62 ODHA.
Kepada sejumlah Wartawan saat peringatan Hari Aids sedunia, Asmani menerangkan, penambahan jumlah Aids di Pandeglang sebagai berikut :
1.       Jumlah ODHA yang positif per-1 Desember 2011 adalah 62 orang dengan perincian 45 orang positif HIV dan 17 orang positif Aids.
2.       Jumlah pengidap positif Aids meninggal sebanyak 17, penambahan seorang meninggal akibat HIV yakni warga Kecamatan Menes beberapa waktu lalu di RSUD Berkah.
3.       Peningkatan jumlah pengidap HIV positip dari 16 menjadi 45 orang diketahui dengan keluarnya kepastian hasil tes Aids lanjutan terhadap 27 orang yang sebelumnya teridentifikasi melalui sero survei selama kurun waktu 2011.
4.       Kelompok umur terbanyak ODHA di Pandeglang yakni usia produkti (19-35 tahun), namun ditemukan juga seorang bayi tertular HIV/AIDS dan seorang lagi berumur diatas 50 tahun.
5.       Berdasarkan jenis kelamin, jumlah ODHA laki-laki lebih banyak (80%) dibanding jumlah ODHA perempuan (20%)
6.       Penyebaran ODHA di Pandeglang menurut status pekerjaan dan pendidikan cukup beragam mulai karyawan, waria, buruh hingga TKW dan ibu rumah tangga biasa. Pelajar dan mahasiswa Pandeglang juga ada yang mengidap HIV/AIDS.
7.       Berdasarkan faktor resiko yang ditelusuri melalui pengamatan epidemiologi (surveilans) diketahui sebagian besar ODHA adalah pengguna narkoba suntik (penasum) dan heteroseksual.
8.       Pola penyebaran ODHA sebagian besar tinggal di kecamatan Pandeglang.
9.       Penularan HIV  sebagian besar terjadi di luar wilayah Pandeglang ketimbang di dalam wilayah Pandeglang. Hal ini terjadi karena  tingginya tingkat mobilitas warga Pandeglang dari dan keluar Pandeglang.
10.   Untuk mendeteksi penyebaran/penularan HIV di wilayah Pandeglang, KPA secara intensif terus melakukan sero survei pada daerah/wilayah kelompok masyarakat yang berisiko terjadi penularan HIV seperti lembaga pemasyarakat, tempat-tempat kerja, tempat PSK, kelompok waria termasuk pada lokasi ‘salon’ Pasar Badak Pandeglang.
Sebelumnya sering disampaikan dalam berbagai kesempatan, per-Oktober 2011 KPA Pandeglang mengungkapkan baru 32 ODHA yang terdeteksi dengan 16 diantaranya meninggal karena AIDS. Selain itu, berdasarkan hasil sero survei (tes HIV red) terdeteksi sebanyak 27 orang diduga mengidap HIV, namun belum dipastikan positif HIV. Karena itu membutuhkan tes lanjutan untuk kepastiannya.
KPA juga mengungkapkan dari hasil sero survei terhadap 771 orang selama kurun waktu 2011, selain teridentifikasi  27 mengidap HIV/AIDS, terdapat tiga orang positif mengidap penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), sedangkan sisanya 741 orang dinyatakan negatif (-) atau tidak tertular.

KPA Ambil Darah Narapidana

Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang melakukan zero survei dan mengambil sampel darah penghuni rumah tahanan kelas II B Pandeglang, Kamis (17/11). Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan identifikasi penyebaran HIV/AIDS terhadap penghuni LP yang datang dari berbagai latar belakang dan daerah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Rutan kelas II Pandeglang Kunrat Kasmiri, Kadis Kesehatan H. Iskandar serta sejumlah pengurus KPA Pandeglang dan KPA Banten.
Ketua Harian KPA Pandeglang Siti Erna Erwan mengungkapkan, zero survei merupakan salah satu upaya KPA untuk meminimalisasi penyebaran HIV/AIDS khususnya di lingkungan LP. Jika ditemukan ada yang terindikasi, akan segera dilakukan penanganan sehingga virus tidak menyebar dan sipenderita dapat melakukan upaya penyembuhan.
“Kegiatan ini adalah rangkaian peringatan hari AIDS 1 Desember. Kami harap penghuni LP jangan takut karena kegiatan ini sangat positif,” jelasnya. KPA Sosialisasi Pencegahan HIV dan Aids di Rutan Pandeglang.
Dia menambahkan, selain di Lapas, pihaknya melakukan kegiatan serupa disejumlah tempat kerja diantaranya perusahaan PT Antam Cibaliung dan PLTU 2 Labuan.
“Untuk meningkatkan kapasitas pemahaman wartawan, KPA juga telah memberikan pembekalan bagi para wartawan untuk pemberitaan pencegahan HIV dan Aids di Pandeglang,” katanya.
Kadis Kesehatan H. Iskandar mengatakan, selain sosialisasi tim medis Dinkes Pandeglang yang tergabung dalam KPA melakukan screening (penjaringan melalui tes HIV red) kepada seluruh tahanan dan narapidana termasuk memberikan konseling HIV dan Aids.
“Screening dilakukan dengan mengambil sampel darah seluruh napi dan selanjutkan sampel akan diperiksa apakah sudah terinfeksi HIV. Untuk mengetahui hasilnya kita masih harus menunggu sepekan, ” katanya.
Dia berharap seluruh napi terbebas dari HIV, karena dengan demikian akan mengurangi risiko penularan di dalam lingkungan Rutan. (H-18/H-21)***

Sumber : Kabar Banten.Com

Hari AIDS Sedunia, “Stop Aids, Tingkatkan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua”


HARI Aids sedunia yang diperingati 1 Desember 2011 Hari Kamis ini disambut aksi peduli Aids dengan membagikan pita merah, brosur, leaflet, booklet (buku saku red) serta stiker tentang HIV/AIDS.
Hal itu terlihat dari hadirnya sejumlah aktivis Komisi Pananggulangan Aids (KPA) Pandeglang, para mahasiswa dan LSM peduli Aids, organisasi profesi hingga para jurnalis yang turun ke jalan untuk menyematkan pita kepada pengemudi kendaraan di jalan seputar alun-alun barat Pandeglang, Kamis (1/12) sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 wib. Dengan mengenakan pita merah di dada masing-masing, para aktivis tersebut bersemangat berdiri berjajar dijalan sepang 200 meter dengan sesekali menghentikan kendaraan yang lewat.
“Ini bentuk kepedulian masyarakat terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS di Pandeglang,” kata Ketua Harian KPA Pandeglang Hj. Siti Erna Nurhayati, terkait upaya pencegahan dan penanggulangan Aids di Pandeglang.
Lebih jauh Erna menyatakan dukungannya atas prakarsa masyarakat peduli Aids melakukan kampanye pencegahan HIV/AIDS. “Kami sangat mendukung dan kita akan terus berupaya mengatasi persoalan Aids di Pandeglang sekuat kemampuan yang ada,” katanya.
Menurut pendapat dia juga, tidak seharusnya seseorang yang diduga mengidap HIV/AIDS dikucilkan karena alasan moralitasnya. “Pemahaman yang keliru semacam ini menjadi tugas kita bersama menyampaikan pemahaman yang benar agar tidak menjadi stigma di masyarakat, karena itu tidak sepenuhnya benar,” tegasnya.
Untuk itu, Erna yang juga Istri Bupati Pandeglang H. Erwan Kurtubi mengajak semua lapisan masyarakat untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS secara masif (terus-menerus red). “Stop Aids, tingkatkan hak dan akses pendidikan untuk semua,” serunya.
Dia mengungkapkan, tahun ini Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2011, mengambil tema ‘lindungi pekerja dan dunia usaha dari HIV dan AIDS’. “Beberapa kegiatan telah kita lakukan menyambut hari Aids seperti pelatihan wartawan, sosialisasi pencegahan dan tes HIV  di tempat kerja, lembaga pemerintah maupun sosialisasi kepada masyarakat,” katanya.

1 Des 2011

Aktivis KPA Pandeglang Sematkan Pita Merah untuk Stop AIDS


HARI Aids sedunia yang diperingati 1 Desember hari ini disambut aksi peduli Aids dengan membagikan pita merah, brosur, leaflet, booklet (buku saku red) serta stiker tentang HIV/AIDS.
Hal itu terlihat dari hadirnya sejumlah aktivis Komisi Pananggulangan Aids (KPA) Pandeglang, para mahasiswa dan LSM peduli Aids, organisasi profesi hingga para jurnalis yang turun ke jalan untuk menyematkan pita kepada pengemudi kendaraan di jalan seputar alun-alun barat Pandeglang, Kamis (1/12) sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 wib. Dengan mengenakan pita merah di dada masing-masing, para aktivis tersebut bersemangat berdiri berjajar dijalan sepanjang 200 meter dengan sesekali menghentikan kendaraan yang lewat.
“Ini bentuk kepedulian masyarakat terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS di Pandeglang,” kata Ketua Harian KPA Pandeglang Hj. Siti Erna Nurhayati, terkait upaya pencegahan dan penanggulangan Aids di Pandeglang.
Lebih jauh Erna menyatakan dukungannya atas prakarsa masyarakat peduli Aids melakukan kampanye pencegahan HIV/AIDS. “Kami sangat mendukung dan kita akan terus berupaya mengatasi persoalan Aids di Pandeglang sekuat kemampuan yang ada,” katanya.
Menurut pendapat dia juga, tidak seharusnya seseorang yang diduga mengidap HIV/AIDS dikucilkan karena alasan moralitasnya. “Pemahaman yang keliru semacam ini menjadi tugas kita bersama menyampaikan pemahaman yang benar agar tidak menjadi stigma di masyarakat, karena itu tidak sepenuhnya benar,” tegasnya.
Untuk itu, Erna yang juga Istri Bupati Pandeglang H. Erwan Kurtubi mengajak semua lapisan masyarakat untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS secara masif (terus-menerus red). “Stop Aids, tingkatkan hak dan akses pendidikan untuk semua,” serunya.
Dia mengungkapkan, tahun ini Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2011, mengambil tema ‘lindungi pekerja dan dunia usaha dari HIV dan AIDS’. “Beberapa kegiatan telah kita lakukan menyambut hari Aids seperti pelatihan wartawan, sosialisasi pencegahan dan tes HIV  di tempat kerja, lembaga pemerintah maupun sosialisasi kepada masyarakat,” katanya.
Sementara itu Koordinator aksi peduli Aids, Muhaemin mengatakan, aksi peduli ini dalam rangka Hari Aids sedunia. “Pemberian pita merah kepada masyarakat untuk menunjukan kepedulian dan dukungan kita terhadap ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS),” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Muhaemin yang juga Wartawan Senior Baraya Pos dan salah seorang yang masuk dalam anggota KPA Pandeglang mengajak untuk bersama mencegah dan menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Pandeglang agar tidak semakin bertambah.
“Kita melakukan aksi peduli ini spontan, mengajak beberapa aktivis mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat serta organisasi profesi dan wartawan media cetak dan tv lokal untuk mengkampanyekan pencegahan Aids pada Hari Aids sedunia,” katanya.
Aksi peduli Aids sendiri berlangsung selama kurang lebih satu jam diantaranya diikuti oleh Ketua PWI Pandeglang Tb. A. Turmahdi dan sejumlah wartawan media cetak dan media elektronik lainnya, pengurus dan anggota KPA, petugas lembaga pemasyarakatan, Ketua IBI Pandeglang Hj. Eniyati, Ketua Forum Organisasi Profesi Kesehatan Dr. Kodiat Juarsa, mahasiswa Staisman, LSM Laz-Harfa dan sejumlah aparat kepolisian setempat ikut mendampingi.
Kendati sempat menghambat arus lalu lintas, aksi ini berjalan tertib. Masyarakat pengendara bermotor baik roda dua maupun mobil antusias mengenakan pita yang diberikan para aktivis disela-sela berkendara di jalan raya Pandeglang. Selain itu mereka diberikan brosur, leaflet, buku saku dan atau stiker untuk bekal menambah pengetahuan dalam pencegahan HIV/AID