Tampilkan postingan dengan label yudi hermawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yudi hermawan. Tampilkan semua postingan

1 Mar 2014

Yudi Hermawan Aktif Kampanye


GENAP setahun lebih menjadi Kepala Seksi Promosi Kesehatan (Promkes) Dinkes Pandeglang, Yudi Hermawan rupanya telah memberi banyak inspirasi bagi rekan sejawatnya, diantaranya soal kampanye anti merokok.
Kegigihan dan konsistensi Yudi memberikan pemahaman tentang bahaya merokok dikalangan orang terdekat dilakukannya pada setiap kesempatan. Terakhir kesempatan itu ia lakukan terhadap para Koordinator Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas se Kabupaten Pandeglang, saat mengikuti training, selama tiga hari kemarin. Mengetahui masih banyak petugas kesehatan yang masih merokok, diapun mengingatkan bahwa merokok membunuhmu.
“Kalau benar peringatan yang tercantum pada kemasan rokok itu, bukankah itu berarti ketika seseorang membeli sebungkus rokok dan menghisapnya, ia sedang berusaha untuk membunuh diri sendiri,” terangnya, kemarin.
Yudi mengaku kerap melontarkan pertanyaan serupa, untuk menggugah orang supaya menghentikan aktivitas merokoknya. Apalagi sebagai tenaga kesehatan harus menjadi contoh bagi masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. “Terlebih rokok tidak hanya dikonsumsi kalangan dewasa tetapi juga para pemuda dan anak-anak. Kondisi inilah yang membuat risau saya, para orang tua dan aktivis anti rokok,” tegas Yudi yang mengaku sempat mengalami menjadi  pecandu rokok saat dirinya pelajar.

3 Apr 2013

Harfa Pandeglang Gelar Pelatihan Pembekalan Penanganan Difabel



GUNA meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga (orang tua red) dalam mendidik dan memotivasi anak yang berkebutuhan khusus (difabel), Yayasan Harapan Duafa (Harfa) Banten Cabang Pandeglang menggelar pelatihan bagi keluarga difabel di Cottage Villa Carita Asri, Pandeglang, Minggu (31/3) akhir pekan kemarin.
Direktur Harfa Banten Cabang Pandeglang, Yudi Hermawan dalam sambutan membuka pelatihan mengatakan, Allah SWT menciptakan segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang sia-sia. “Terkadang kita sendiri yang tidak memahami bahwa dibalik kekurangan itu ada kelebihan,” ungkap Yudi.  Oleh karena itu, menurutnya, sedikitnya dibutuhkan tiga bekal dalam menjalani kehidupan ini yakni niat, tujuan dan ilmu. “Jika ketiga hal itu dilakukan dengan baik maka kesuksesan akan dijalani sekalipun mendapatkan ujian dengan kekurangan,” tandasnya.
Narasumber pelatihan  Dr. H. Achmad  Chubaesi Yusuf, Sp.KFR.M.Kes.  menuturkan, orang dengan berkebutuhan khusus (difabel) itu bukan aib atau produk gagal. “Karena sekali lagi Tuhan tidak pernah menciptakan hamba-Nya dengan sia-sia,” jelas  dokter  Achmad  Chubaesi Yusuf.
Dalam pelatihan tersebut, sang dokter spesialis rehabilitasi medik dengan cermat mengidentifikasi beberapa difabel dengan masalah, sekaligus memberikan solusi secara psikis dan psikologis yang bisa dilakukan keluarga. “Cara ini untuk memotivasi keluarga difabel untuk bisa membimbing dan mengaplikasikan ilmu pelatihan dirumahnya masing-masing,”  katanya.
Dia mencontohkan, bagi difabel  Khaerudin (14 tahun) yang menderita down syndrome (keterbelakangan mental red) dan sering mengeluarkan air liur, disarankan kepada  ibunya  untuk mengatasi kekurangan anaknya yaitu dengan memijat secara melingkar kebawah secara rutin setiap hari. “Selain itu Khaerudin diupayakan sering mengunyah permen karet untuk melatih berbicara,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator lapangan (Korlap) Divisi Environmental Services Program (ESP) Harfa Pandeglang  Ii Irfan mengatakan peserta yang hadir pada kegiatan ini sebanyak 40 keluarga, yang terdiri dari 25 anak laki-laki difabel dan 15 difabel anak perempuan. “Keluarga difabel yang hadir sangat antusias mengikuti acara ini, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang melontarkan seputar kondisi difabel anak-anak meraka,” kata Ii Irfan disela kegiatan berlangsung.
Dikatakan Ii, para keluarga difabel merasa senang dan lebih termotivasi, sehingga tumbuh rasa percaya diri walaupun awalnya merasa minder dengan memiliki anak atau keluarga yang difabel.
Ibu Kamah salah seorang keluarga difabel dari Kampung Cibodas Desa Sumurlaban mengatakan harapannya agar ilmu yang didapat bisa memberikan gambaran bagaimana merawat dan memotivasi  anak difabel agar berdaya guna kedepannya.  “Sebelum mengikuti acara ini, saya merasa tidak percaya diri, malu punya anak difabel dan merasa  yang paling menderita, tapi setelah mengikuti  acara ini, ternyata ada orang yang lebih dari anak saya kekurangannya.” tutur Kamah. (red)***

12 Mar 2013

PKL Calon Bidan Gelar MMD di Kecamatan Carita



SEBANYAK 34 mahasiswi calon bidan asal Akademi Kebidanan (Akbid) Pelita Husada Jakarta sejak pekan lalu di terjunkan untuk melakukan praktek kerja lapangan (PKL) di Desa Sukarame Kecamatan Carita. Rencananya PKL  akan dilakukan selama dua pekan.
“Selama seminggu para mahasiswi melakukan survei mawas diri (SMD) di desa, dilanjutkan dengan kerja lapangan berdasarkan hasil kesepakatan dalam musyawarah masyarakat desa (MMD),” kata Kepala Puskesmas Carita H. Ajat, SKM, kemarin.
Dikatakan, MMD sudah digelar pada Sabtu (9/3) akhir pekan kemarin dengan pelibatan tokoh dan masyarakat setempat.
Hadir dalam MMD yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Muawanah Kampung Cibenda Desa Sukarame Kec. Carita itu, Camat Carita, Kepala Desa setempat, pengurus RT/RW, kader kesehatan, paraji serta Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinkes Pandeglang Yudi Hermawan, SKM
Menurut Ajat, kegiatan PKL yang digelar para mahasiswi kebidanan sangat bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat, melainkan bagi petugas kesehatan juga terutama yang ada di desa (bidan desa red). “Bidan desa sebagai kepanjangan tangan dari Puskesmas tentu sangat terbantu dengan adanya praktek kerja lapangan calon bidan di desa Sukarame,” katanya.
Dia berharap keberadaan mahasiswi di desa selama dua pekan memberikan dampak positif bagi warga setempat. “Selain mendapatkan pelayanan kesehatan gratis selama PKL, minimal masyarakat mendapat pembelajaran bahwa untuk mengatasi masalah kesehatan, warga harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan,” kata Ajat.
Kepala Seksi Promosi Kesehatan Yudi Hermawan mengapresiasi pelaksanaan MMD yang digagas pihak Akbid Pelita Husada Jakarta. Dia menilai metode pelaksanaan MMD terbilang kreatif dan sangat menggugah peserta MMD yang sebagian besar adalah perwakilan warga Desa Sukarame.
"Cara yang ditampilkan para mahasiswi dalam MMD dengan penyajian data hasil SMD dibarengi dengan menggambarkan kondisi kesehatan masyarakat Desa Sukarame secara 'teatrikal' sangat menyentuh peserta MMD," ungkap Yudi.

Sebelumnya, selama pada tanggal 4 sampai 8 Maret 2013 para Mahasisiwi dengan bimbingan dosen telah melakukan SMD di Desa Sukarame sepekan


Dijelaskan, MMD ditujukan untuk merumuskan dan penentuan prioritas masalah kesehatan ditingkat desa atas dasar pengenalan masalah kesehatan dan hasil SMD,”  katanya.
Selajutnya, tambah Yudi, hasil MMD diharapkan tersusun rencana kerja bersama antara mahasiswi dan masyarakat dalam penanggulangan masalah kesehatan yang dipimpin oleh kepala desa.