 |
| Sosialisasi bank sampah oleh LAZ Harfa Kabupaten Pandeglang yang
difasilitasi Tim Community Engagement Grants 2014 Universitas Indonesia
(Foto: Dok. Community Engagement Grants 2014 UI) |
SAAT ini semakin banyak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Indonesia
yang sudah penuh karena timbulan sampah meningkat setiap harinya. Sampah
menimbulkan banyak masalah, mulai lingkungan tidak nyaman sampai
masalah kesehatan. Melihat persoalan ini, maka penanganan sampah yang
mengacu pada prinsip
reduce-reuse-recycle (mengurangi-menggunakan kembali-mendaur ulang) menjadi penting.
Bagaimana kita dapat berkontribusi untuk mengurangi timbulan sampah?
Bank sampah merupakan salah satu solusi yang efektif. Di bank sampah,
masyarakat diberikan edukasi tentang pentingnya memilah sampah mulai
dari tingkat rumah tangga. Sampah dipilah menjadi sampah organik,
nonorganik, dan residu. Sampah organik, seperti sisa makanan dan daun,
dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos. Sementara, sampah nonorganik,
seperti plastik, kertas/kardus, beling/kaca, kaleng/besi, dan lain-lan
yang dapat didaur ulang kemudian ditabung di bank sampah. Yang terakhir,
sampah residu atau sampah sisanya akan dibuang ke TPA. Dengan model
ini, sampah yang dibuang ke TPA akan semakin sedikit karena semakin
banyak sampah yang digunakan kembali. Menarik bukan?
Depok merupakan kota dengan jumlah bank sampah terbanyak di
Indonesia. Sampai saat ini diestimasi jumlah titik bank sampah di Depok
mencapai 500 lokasi. Kegiatan ini dimulai dari tahun 2008, dan meningkat
pesat mulai akhir 2012. Program bank sampah di Kota Depok merupakan
inisiasi masyarakat murni. Pengurus bank sampah pada umumnya adalah
mereka yang aktif di kegiatan komunitas, seperti Posyandu, PKK, karang
taruna, atau lainnya. Di bank sampah, anggota dapat menyetorkan sampah
nonorganiknya yang kemudian menjadi tabungan. Di saat tertentu yang
disepakati (setiap bulan, tiga bulan, atau setahun sekali), anggota
dapat mengambil hasil tabungannya.
Walaupun bisnis utamanya adalah mengelola sampah nonorganik, bank
sampah di Kota Depok juga memberikan edukasi untuk menangani sampah
organik, seperti melalui pembuatan lubang biopori. Selain itu,
Pemerintah Kota Depok juga telah menyediakan tempat mengolah sampah
organik di UPS (Unit Pengolahan Sampah Organik) dimana masyarakat dapat
mengambil kompos secara gratis.
Di satu sisi, Kabupaten Pandeglang merupakan wilayah yang sedang
berkembang dan mempunyai masalah sampah yang relatif serupa dengan Kota
Depok. Hal tersebut dirasakan membutuhkan penanganan segera. Oleh karena
itu, dengan dimotori oleh LAZ Harfa Kabupaten Pandeglang dan
difasilitasi oleh Tim Community Engagement Grants 2014 Universitas
Indonesia, program bank sampah diujicobakan di Kabupaten Pandeglang.
Asosiasi Bank Sampah Kota Depok berperan dalam membantu sosialisasi dan
berbagi pengalaman dalam pengembangan dan teknis operasional bank sampah
di Kota Depok.
Pada kegiatan sosialisasi pendirian bank sampah di Pandeglang,
peserta sangat antusias mengikuti acara. Kegiatan dilakukan sehari penuh
dengan metode interaktif. Selain presentasi dan diskusi, peserta juga
diajak menonton video tentang bank sampah dan bagaimana operasional bank
sampah di Depok. Selain itu, peserta diminta untuk mempraktekkan secara
langsung dalam memilah sampah dan mengoperasikan bank sampah. Peserta
diminta berlatih untuk mendaftarkan diri menjadi anggota, menimbang
sampah, mencatat hasil timbangan di buku tabungan, mencatat penjualan
sampah, dan membayarkan uang tabungan ke anggota. Pada kegiatan ini
selain dihadiri calon pengurus bank sampah, juga aparat Pemda Kabupaten
Pandeglang, Dinas Kesehatan, dan Dinas Kebersihan.
Saat ini telah berdiri dua Bank Sampah Harfa UPS (Unit Pengolahan
Sampah) di daerah Curug Sawer dan Batu Raja. Antusiasme masyarakat dalam
berpartisipasi di bank sampah cukup tinggi. Bank sampah tersebut telah
berhasil mengurangi timbulan sampah sebanyak 1.817 kg dalam waktu 2,5
bulan. Selain itu, tabungan sampah yang terkumpul cukup besar, yaitu
Rp2.394.047. Jumlah ini akan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Ke depannya, masih banyak tantangan untuk mempertahankan dan
mengembangkan bank sampah yang sudah ada maupun mendirikan bank
sampah-bank sampah baru di Pandeglang. Hal tersebut tentu saja
membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, yaitu masyarakat, pemerintah
kabupaten, maupun sektor swasta agar semangat untuk menjaga lingkungan
serta menjadikan motif ekonomi sebagai bonus dari kegiatan positif ini
tetap terjaga.
Video sosialisasi Bank Sampah dapat dilihat di link berikut:
1. Video sosialisasi untuk calon anggota bank sampah :
https://www.youtube.com/watch?v=Sj-gXdFs1bw
2. Video cara mendirikan dan mengoperasikan bank sampah :
https://www.youtube.com/watch?v=nZoaGy9fHzA
Penulis:
– Alin Halimatussadiah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
– Windri Handayani, MSi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI (fyu)
Sumber :
Depok.News