24 Mar 2016

24 Maret Hari Tuberkulosis Sedunia: "Unite To End TB"

SETIAP tanggal 24 Maret diperingati World TB Day atau Hari TB Sedunia (HTBS). Pada tahun 2016, Tema Global HTBS adalah "Unite To End TB". Sedangkan Tema Nasional HTBS 2016 adalah "Gerakan Keluarga Menuju Indonesia Bebas TB" melalui Gerakan “Temukan TB, Obati Sampai Sembuh (TOSS TB)".
Tema TB day ini cukup berat untuk diwujudkan, karena kita harus melakukan upaya yang cukup besar dalam menjangkau, memeriksa dan mengobati . Ada 3 juta penderita TB yang belum mengatakan Indonesia bebas TB, dengan menemukan dan mengobati TB di seluruh Indonesia. Amanat Bapak Presiden dengan Nawa Cita-nya bahwa agar kita menghadirkan negara untuk melindungi segenap bangsa dan negara. Masih banyak tantangan yang masih harus disikapi. Dari indikator MDGS berhasil menurunkan insiden dan prevalensi. Insiden turun 45% dari tahun 1990 sampai dengan 2010. prevelance 35%, dan  angka kematian TB turun hingga 71%.  
Lalu, benarkah TB berselingkuh dengan perokok? Jawabannya, tidak selalu benar, meski kecenderungannya ternyata cukup tinggi. Hal itu dibuktikan oleh beberapa penelitian, di antaranya seperti yang dilakukan Hsien-Ho Lin dan timnya dari Harvard School of Public Health, Amerika Serikat.
Lin menyatakan bukti hubungan antara kebiasaan merokok, perokok pasif, dan polusi udara di dalam ruangan dari kayu bakar dan batu bara terhadap risiko infeksi, penyakit, dan kematian akibat TBC. Dari sekitar 100 orang yang diteliti, ditemukan yang merokok tembakau dan menderita TBC sebanyak 33 orang, perokok pasif dan menderita TBC 5 orang, dan yang terkena polusi udara dan menderita TBC 5 orang. Penelitian lain dilakukan di Afrika Selatan menunjukkan kaitan antara perokok pasif dan meningkatnya risiko infeksi Mycobacterium tuberculosis pada anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC.
Dr. Saskia den Boon dari KNCV Tuberculosis Foundation di Belanda menulis hasil penelitian mereka dalam jurnal Pediatric edisi April 2007. Ia mengungkapkan tuberkulosis dan merokok merupakan dua masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Kaitan perokok pasif dan infeksi TBC pada anak menjadikannya bahan pemikiran yang sangat penting, mengingat tingginya prevalensi merokok dan tuberkulosis di negara berkembang.
Di India, merokok diperkirakan mampu membunuh hampir satu juta warganya di usia produktifnya pada 2010. Penelitian itu juga menunjukkan, kebiasaan tersebut menjadi penyebab utama kematian pada penderita TBC, penyakit saluran pernapasan, dan jantung.
Di Indonesia, sejauh ini memang belum ada penelitian resmi yang mengungkapkan "perselingkuhan" antara rokok dan TBC, tetapi fakta di lapangan dapat memberikan gambaran bahwa hubungan itu memang ada. Setidaknya prevalensi penderita TBC yang berobat di pusat pengobatan TBC RS Persahabatan yang punya kebiasaan merokok lebih besar dibandingkan yang tidak.

Banyak orang, terutama perokok, bakal menyangkal keras perselingkuhan antara rokok dan TBC. Percayalah, sudah banyak fakta mengungkapkan bahwa kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko TBC.
Fakta berbicara, tembakau merupakan penyebab kematian lima terbesar di dunia. Satu di antara 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia disebabkan kebiasaan merokok (sekitar 5 juta kematian tiap tahun). Bila pola merokok ini terus berlanjut, sampai tahun 2020 diperkirakan akan ada 10 juta kematian.
Setidaknya kini lebih dari 1 miliar orang termasuk pemakai tembakau aktif (70 persen di antaranya berada di negara berpenghasilan rendah) di mana setengahnya akhirnya meninggal oleh tembakau. Tak heran, dalam 50 tahun ke depan diperkirakan 450 juta orang akan meninggal karena tembakau.
Selain itu, tembakau -sebutan lain rokok- merupakan faktor risiko keempat timbulnya semua jenis penyakit di dunia. Pemakaian tembakau merupakan penyebab utama kematian pada penyakit berat seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker paru, aneurisma aorta, penyakit jantung koroner, kanker kandung kemih, kanker saluran pernapasan bagian atas, dan kanker pankreas.
Hasil survei tahun 2006 menyebutkan, di Indonesia jumlah seluruh perokok tak kurang dari 160 juta orang (hampir 70 persen dari populasi) dan sekitar 22,6 persen dari 3.320 kematian disebabkan penyakit yang berkaitan dengan kebiasaan merokok.
Kenyataan lain memperlihatkan kondisi memprihatinkan, lebih dari 45 juta anak (usia 0-14 tahun) tinggal bersama perokok. Padahal, anak-anak yang kerap terpapar asap rokok akan mengalami pertumbuhan paru yang kurang normal dan lebih mudah terkena infeksi saluran pernapasan serta penyakit asma.
Terbukti Berhubungan
Studi pada pekerja perkebunan di California, AS, menemukan hubungan bermakna antara prevalensi reaktivitas tes tuberkulin dan kebiasaan merokok. Pada bekas perokok, hubungan ini lebih kuat daripada mereka yang masih merokok. Data lain menunjukkan hubungan antara kebiasaan merokok dengan tuberkulosis aktif, hasilnya hanya bermakna pada mereka yang telah merokok lebih dari 20 tahun.
Di AS, para perokok yang telah merokok 20 tahun atau lebih ternyata 2,6 kali lebih sering menderita TBC daripada yang tidak merokok. Kebiasaan merokok meningkatkan mortalitas akibat TBC sebesar 2,8 kali.
Angka ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan rasio mortalitas pada penyakit jantung iskemik (1,6 kali) dan penyakit serebrovaskular (1,5 kali), walaupun memang jauh lebih rendah dari rasio mortalitas akibat kanker paru, yang 15 kali lebih sering pada perokok dibandingkan bukan perokok.
Kaitan ini bisa dijelaskan bahwa dengan racun yang dibawanya, rokok merusak mekanisme pertahanan paru-paru. Bulu getar dan alat lain dalam paru-paru yang berfungsi menahan infeksi rusak akibat asap rokok.
Asap rokok meningkatkan tahanan pelan napas (airway resistance). Akibatnya, pembuluh darah di paru mudah bocor. Juga merusak sel pemakan bakteri pengganggu dan menurunkan respon terhadap antigen, sehingga bila benda asing masuk ke dalam paru-paru, tidak ada pendeteksinya.
Berdasarkan hasil penelitian maupun survei, sebenarnya sudah cukup bukti "perselingkuhan" rokok dan TBC. Meski bagi perokok dan sebagian orang fakta ini tak berarti apa pun, cobalah lebih peduli dengan orang terdekat Anda. Mungkin selama ini mereka yang sebenarnya menjadi korban "perselingkuhan" itu.


23 Mar 2016

Hari Gizi Nasional : Gizi Baik Untuk Membangun Generasi yang Tinggi, Sehat dan Berprestasi

GIZI yang baik menjadi landasan bagi setiap individu untuk mencapai potensi maksimal yang dimilikinya. Sementara itu, periode 1000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode sensitif yang menentukan kualitas hidup di masa yang akan datang, dimana akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi.
Perbaikan gizi khususnya penurunan stunting menjadi salah satu agenda prioritas pembangunan kesehatan, ujar Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) pada pembukaan Puncak Peringatan Hari Gizi Nasional ke-56 tahun 2016 di salah satu gedung pertemuan di kawasan Jakarta Selatan, Selasa pagi (21/3). Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Menurut Menkes, perbaikan gizi dilakukan melalui pendekatan continuum of care dengan fokus pada 1000 hari pertama kehidupan, yaitu mulai dari masa kehamilan sampai anak berumur 2 tahun.
Sasaran diperluas dengan mengembangkan jangkauan pelayanan gizi pada remaja puteri dan calon pengantin, yaitu pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sesuai standar, kata Menkes.
Menkes juga menambahkan bahwa pelayanan gizi pada ibu hamil terus diperkuat dan ditingkatkan melalui integrasi gizi dengan KIA, deteksi dini ibu hamil kurang energi kronis (KEK) dan ibu hamil anemia melalui antenatal care (ANC) terpadu.
Di samping itu untuk perbaikan gizi, intervensi spesifik yang dilakukan oleh sektor kesehatan tidak akan mencapai hasil maksimal tanpa adanya intervensi sensitif yang dilakukan oleh sektor non-kesehatan, antara lain: Peningkatan produksi pertanian untuk mendukung ketahanan pangan dan gizi di tingkat rumah tangga; perlindungan sosial untuk pengentasan kemiskinan melalui Program Keluarga Harapan (PKH); Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), penyediaan air bersih dan sanitasi, dan program pemberdayaan perempuan. Untuk itu, kolaborasi efektif dan berkesinambungan untuk mengidentifikasi langkah terobosan dalam mempercepat pencapaian sasaran-sasaran peningkatan gizi masyarakat perlu ditingkatkan.
Intervensi gizi sensitif sudah terbukti mampu berkontribusi sampai 70% untuk keberhasilan perbaikan gizi masyarakat, terutama untuk penurunan angka stunting, tutur Menkes.
Program Indonesia Sehat yang difokuskan pada 4 program prioritas yaitu, percepatan penurunan kematian ibu dan kematian bayi, perbaikan gizi khususnya stunting, penurunan prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular. Untuk itu, dilakukan pendekatan keluarga sebagai strategi untuk perubahan perilaku keluarga dan masyarakat, khususnya dalam pengenalan terhadap risiko penyakit.
Pendekatan keluarga diharapkan dapat meningkatkan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan yang komprehensif, kata Menkes.
Menurut Menkes, dari 12 indikator keluarga sehat, upaya perbaikan gizi difokuskan pada target pemberian ASI eksklusif pada bayi selama 6 bulan dan pemantauan pertumbuhan balita setiap bulan yang dilakukan di posyandu melalui penimbangan bulanan dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS).
Anak-anak yang mendapatkan ASI Eksklusif cenderung memiliki intelegensia yang lebih tinggi dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat. Begitu juga dengan ibu yang memberikan ASI memiliki risiko yang lebih rendah untuk terkena kanker payudara dan kanker rahim. Selain itu, pemantauan pertumbuhan setiap bulan diharapkan gangguan pertumbuhan setiap anak dapat diketahui lebih awal sehingga dapat ditanggulangi secara cepat dan tepat, terang Menkes.
Setiap tahun, Hari Gizi Nasional diperingati setiap tanggal 25 Januari. Tahun ini, tema HGN ke-56 Tahun 2016 adalah Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi dengan sub-tema Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Peringatan Hari Gizi Nasional tahun ini harus dijadikan momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi baik untuk membangun generasi yang tinggi, sehat dan berprestasi, tandas Menkes.

22 Mar 2016

Ini Fakta Menarik Tentang PIN Polio 2016

PADA Selasa, 8 Maret 2016, Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016 dimulai dan telah berakhir pada 15 Maret 2016. Melalui PIN ini diharapkan cakupan imunisasi polio rutin merata tahun ini.
Sehingga, lewat PIN Polio 2016 bisa mewujudkan generasi muda bangsa Indonesia yang sehat, bebas dari cacat tubuh akibat polio, berkualitas, produktif dan berdaya saing.
Berikut data-data tentang Fakta PIN Polio 2016 yang perlu diketahui seperti dikutip siaran pers dari Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kemenkes RI ditulis Kamis (9/3/2016).

  1. Indonesia telah berhasil mendapatkan Sertifikat Bebas Polio bersama negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Asia Tenggara atau South East Asia Region (SEARO) pada Maret 2014. Akan tetapi, Afganistan dan Pakistan masih endemis polio. Diperlukan komitmen seluruh negara di dunia - termasuk Indonesia - untuk melakukan berbagai tahapan kegiatan menuju Dunia Bebas Polio Tahun 2020. Salah satunya lewat PIN Polio 2016.
  2. PIN Polio kali ini harus dapat menjangkau minimal 95 persen cakupan dari sasaran. Terutama balita yang belum pernah atau belum lengkap mendapat imunisasi polio rutin. 
  3.  Total sasaran PIN Polio tahun 2016 (usia 0-59 bulan) adalah 23.721.004 anak. 
  4.  Vaksin yang akan digunakan yaitu vaksin polio tetes (trivalent Oral Polio Vaccine) produksi lokal PT. Biofarma. Saat ini vaksin tersebut sudah dikirimkan sampai ke puskesmas. 
  5.  Total provinsi dan kabupaten/kota yang melaksanakan PIN Polio adalah 33 provinsi dan 509 kabupaten/kota. Total Pos PIN tahun ini sekitar 300.000.


21 Mar 2016

Dibalik Kegiatan PIN Polio 2016 dan Isu Halal Haram Vaksin

SEBELUM kegiatan nasional PIN Polio tanggal 8 s/d 15 Maret 2016 ini, berbagai gerakan anti vaksin dan anti imunisasi bermunculan di media social. Pegiat-pegiat anti vaksin, yang selama ini memang sudah berketetapan hati menggagalkan program imunisasi, hiruk pikuk melancarkan hoax anti imunisasi. Diantaranya dengan mengunggah gambar Inactive Polio Vaccine (IPV) dengan tulisan tendensius “Pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi”.
Hoax tersebut, selain kasar, juga tidak teliti. Mengapa?
Karena PIN tidak menggunakan IPV, namun Oral Polio Vaccine (OPV) alias vaksin tetes
OPV yang digunakan merupakan produk dalam negeri, Bio Farma
Ambillah contoh di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, daerah ini sudah menggunakan IPV untuk imunisasi polio rutin sejak tahun 2007
Dan tentu, dari beberapa fakta diatas, tidak ditemukan kalimat provokatif pada bungkus vaksinnya.
Sebetulnya soal halal haram vaksin, atau soal teknis dan detail bahan, proses produksi, atau manfaat imunisasi bisa kita perdebatkan. Tentu dengan metodologi dan landasan berfikir ilmiah. Dengan argumen dan referensi yang jelas. Tidak dengan memasang niat sejak awal untuk sekedar saling menghabisi, debat kusir tiada ujung.
Jika dikaitkan dengan beberapa isu yang dilontarkan para penggiat anti vaksin, entah itu soal halal haram, atau soal pelemahan generasi atau apalah namanya, sangat bisa didiskusikan. Misalnya soal halal haram vaksin, fakta dilapangan menunjukkan, Bio Farma secara statistik masih menunjukkan sebagai salah satu produsen vaksin terbesar di dunia. Produk mereka sudah diekspor ke hampir 120 negara, dengan 46 negara diantaranya Negara Muslim (Timur Tengah, dan lainnya). Fakta juga menunjukkan, program imunisasi menjadi program wajib di Arab Saudi. Ambil yang sering kita jumpai di Indonesia. Sertifikat imunisasi Meningitis (International Serticate Vaccine/ICV), menjadi hal mutlak dimiliki jamaah haji atau umroh untuk bisa diterima masuk ke Negara Arab Saudi. Dan masih banyak contoh lagi lainnya, intinya mereka menerapkan kebijakan imunisasi bahkan lebih ketat dari kita (walau representasi “Negara Muslim” juga masih debatable.
Soal halal haram vaksin, kalau boleh dirujuk, bukankah Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mendukung program imunisasi di Indonesia? Beberapa fatwa MUI terkait imunisasi sudah lama dikeluarkan, dan belum pernah ditarik kembali, artinya masih berlaku. Terakhir fatwa MUI terkait PIN Polio 2016 (fatwa MUI Nomer 4 Tahun 2016) tentang Imunisasi, ditetapkan pada 23 Januari 2016. Memang perdebatan masih bisa terbuka, misalnya terkait representasi “umat Islam” yang disandang MUI.
Soal hoax pelemahan generasi. Kita bisa juga mengomentari hal ini sebagai terlalu lebai. Jika logikanya dibalik, bagaimana jika kampanye anti imunisasi merupakan upaya sistematis pelemahan generasi?. Bukankah para ahli imunologi atau imunisasi sangat yakin, jika imunisasi gagal maka wabah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasiakan meledak?. Pertanyaan lain bisa dilontarkan, misalnya mengapa Negara-negara maju (Eropa-Amerika), cakupan imunisasinya sangat tinggi? Apakah Negara-negara dimaksud lemah generasinya? .. Dan masih banyak pertanyaan lain yang dapat didiskusikan.


20 Mar 2016

Baru Capai 86,6 Persen, PIN Polio Pandeglang Diperpanjang Hingga 24 Maret 2016

SEBANYAK 111.540 anak Balita (bawah lima tahun) di Kabupaten Pandeglang telah mendapatkan imunisasi polio selama berlangsung Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio yang digelar sejak 8 sampai dengan 15 Maret 2016.
Capaian PIN polio tersebut baru sekitar 86,6 persen atau masih dibawah target sasaran balita yang harus mendapat imunisasi polio yakni sebanyak 128.798 anak.
“Dinkes Pandeglang targetnya, tingkat partisipasi PIN polio minimal 95 persen,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang Hj. Indah Dinarsiani, kemarin.
Menurut Kadinkes Indah Dinarsiani, berdasarkan laporan yang diterima dari 36 Puskesmas se-Kabupaten Pandeglang, sampai Kamis (17/3/2016) sebagian besar Puskesmas masih terus melakukan sweeping untuk menjangkau sasaran yang belum mendapatkan imunisasi polio. “Sebagian besar Puskesmas masih melaksanakan sweeping dengan mengunjungi dari rumah ke rumah bagi warga yang anaknya belum mendapat imunisasi polio,” katanya.
Diungkapkan, dari 36 Puskesmas sebanyak Sembilan Puskesmas telah melampaui cakupan imunisasi 95 persen yakni Puskesmas Carita, Cibitung, Cikupa, Kaduhejo, Menes, Perdana, Picung, Sindangresmi dan Puskesmas Pandeglang.  “Selebihnya cakupan imunisasi polio Puskesmas masih dibawah 95 persen. Oleh karena itu kita sudah instruksikan untuk terus mendatangi bayi dan balita yang belum mendapatkan imunisasi polio sampai dengan 24 Maret 2016,” ungkapnya.
Dijelaskan, Persentasi cakupan terkecil yakni Puskesmas Sobang (67,9%), Banjar (68,5%), Patia (72,4%), Cikeusik (75,9%), Pagelaran (77,2%) dan Puskesmas Cibaliung (77,6%). “Saya optimistis target minimal 95 persen sebagaimana waktu yang ditentukan sampai akhir Maret, bisa tercapai,” katanya. 
Menurut Indah, secara keseluruhan penerimaan Warga Pandeglang terhadap program PIN Polio bagus. Meski begitu, pada prakteknya pelaksanaan di lapangan, bukan tanpa hambatan. “Di Kabupaten Pandeglang masih ada 9 Puskesmas dengan kategori Puskesmas sulit seperti Puskesmas Banjar, Cibaliung, Cibitung, Cigeulis, Cikeusik, Cimanggu, Munjul, Patia dan Puskesmas Sindangresmi,” jelasnya.
Begitupun dari data yang dimiliki dinas kesehatan, masih ada 114 desa yang termasuk kategori desa sulit terutama akses transportasi dengan jangkauan wilayah yang sangat luas.
Ditambahkan, pelaksanaan PIN Polio 2016 Kabupaten Pandeglang tersebar di 36 Puskesmas, 1 sub Pos PIN Rumah Sakit (RS), dan 1.796 Pos PIN.  Sasaran estimasi adalah 128.798 balita. Kegiatan ini melibatkan 1.017 vaksinator dibantu 7.417 kader kesehatan.
Kepala Seksi Pengamatan, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Pandeglang Yudi Hermawan mengatakan, PIN Polio merupakan program pemerintah yang wajib disukseskan karena bertujuan baik, yakni mencegah timbulnya penyakit polio atau lumpuh layu.
“Dengan vaksin polio, katanya, balita akan memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit polimielitis. Dengan mendapat imunisasi polio, anak-anak juga akan tumbuh normal, sehat, kuat dan cerdas,” jelasnya. Dia berharap kepada ibu-ibu untuk bisa membawa putra-putrinya yang masih balita ke Puskesmas atau Pos PIN terdekat untuk mendapatkan imunisasi polio sampai tanggal 24 maret 2016.
"Sampai saat ini jumlah bayi yang diimunisasi belum seluruhnya masuh ke dinas kesehatan, jumlah yang ada sekarang itu dipastikan akan bertambah,” imbuhnya.
Yudi mengakui, ada beberapa keluarga saat PIN polio yang menolak imunisasi. Pihaknya pun tidak bisa memaksa. 

19 Mar 2016

Puskesmas Pandeglang Lampaui Target PIN Polio

PELAKSANAAN Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio yang dilakukan secara serentak mulai 8 – 15 Maret 2016 di wilayah Puskesmas Pandeglang telah berhasil mengimunisasi 828 balita. Kepala Puskesmas Pandeglang Hj. Umbiyati dengan rasa haru menyampaikan ucapan terima kasih tak terhingga kepada semua pihak sehingga pelaksanaan PIN di wilayah kerjanya yang meliputi Kelurahan kadomas dan Kalanganyar berjalan lancar dan mampu mencapai target lebih dari 95 persen. 
‘’Alhamdulillah, sudah selesai dan telah melampaui target sebesar 97 persen dari sasaran sebanyak 850 balita yang ada,’’ kata Hj Umbiyati, Selasa (15/3/2016). 
Menurutnya, minat masyarakat untuk mendapatkan imunisasi bagi anak balita cukup besar, begitupun semangat seluruh petugas kesehatan termasuk ibu kader posyandu yang mendatangi balita yang belum mendapat imunisasi polio secara door to door juga di seluruh pelosok kampung, patut diacungkan jempol. 
“Untuk pencapaian target lebih dari 95 persen tidak terlepas dari kegiatan sweeping yang dilaksanakan oleh petugas puskesmas maupun para kader dengan menerapkan sistem door to door,” ungkapnya.

Dikatakan, pencapaian target tersebut terbilang luar biasa mengingat tidak semua bayi dan balita saat pelaksanaan PIN polio dalam kondisi sehat. “Anak yang dalam kondisi sakit memang tidak boleh mendapat imunisasi polio, jadi kita menunggu sampai balitanya sembuh dulu,” tuntasnya.

18 Mar 2016

111.540 Balita Di Pandeglang Sudah Di Imunisasi Polio

SEBANYAK 111.540 anak Balita (bawah lima tahun) di Kabupaten Pandeglang telah mendapatkan imunisasi polio selama berlangsung Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio yang digelar sejak 8 sampai dengan 15 Maret 2016.
Capaian PIN polio tersebut baru sekitar 86,6 persen atau masih dibawah estimasi target sasaran balita yang harus mendapat imunisasi polio yakni sebanyak 128.798 anak.
“Dinkes Pandeglang targetnya, tingkat partisipasi PIN polio minimal 95 persen,” tutur Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang Hj. Indah Dinarsiani, Kamis (17/3/2016).
Untuk mencapai target 95 persen, Indah sudah menginstruksikan kepada seluruh Puskesmas untuk membuat jadwal sweeping yakni menyisir dari rumah ke rumah warga yang anaknya belum mendapat imunisasi polio hingga 24 Maret 2016.
“Kita punya semua data balita yang ada termasuk yang belum mendapat imunisasi mungkin karena sakit atau sedang bepergian saat PIN berlangsung,” jelasnya.
Diungkapkan, dari 36 Puskesmas sebanyak sembilan Puskesmas telah melampaui cakupan imunisasi 95 persen yakni Puskesmas Carita, Cibitung, Cikupa, Kaduhejo, Menes, Perdana, Picung, Sindangresmi dan Puskesmas Pandeglang. Sementara persentasi cakupan terkecil yakni Puskesmas Sobang (67,9%), Banjar (68,5%), Patia (72,4%), Cikeusik (75,9%), Pagelaran (77,2%) dan Puskesmas Cibaliung (77,6%). “Saya optimistis target minimal 95 persen sebagaimana waktu yang ditentukan sampai akhir Maret, bisa tercapai,” katanya. 
Menurut Indah, secara keseluruhan penerimaan Warga Pandeglang terhadap program PIN Polio bagus. Meski begitu, pada prakteknya pelaksanaan di lapangan, bukan tanpa hambatan. “Di Kabupaten Pandeglang masih ada 9 Puskesmas dengan kategori Puskesmas sulit seperti Puskesmas Banjar, Cibaliung, Cibitung, Cigeulis, Cikeusik, Cimanggu, Munjul, Patia dan Puskesmas Sindangresmi,” jelasnya.
Begitupun dari data yang dimiliki dinas kesehatan, masih ada 114 desa yang termasuk kategori desa sulit terutama akses transportasi dengan jangkauan wilayah yang sangat luas.
Kepala Seksi Pengamatan, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Pandeglang Yudi Hermawan mengatakan, PIN Polio merupakan program pemerintah yang wajib disukseskan karena bertujuan baik, yakni mencegah timbulnya penyakit polio atau lumpuh layu.
“Dengan vaksin polio, katanya, balita akan memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit polimielitis. Dengan mendapat imunisasi polio, anak-anak juga akan tumbuh normal, sehat, kuat dan cerdas,” jelasnya. Dia berharap kepada ibu-ibu untuk bisa membawa putra-putrinya yang masih balita ke Puskesmas atau Pos PIN terdekat untuk mendapatkan imunisasi polio sampai tanggal 24 Maret 2016.

"Sampai saat ini jumlah bayi yang diimunisasi belum seluruhnya masuk ke dinas kesehatan, jumlah yang ada sekarang itu dipastikan akan terus bertambah,” imbuhnya.