23 Mei 2015

Nakes di Desa Harus Jadi Motivator Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan



BIDAN desa (Bides) dan perawat desa harus menjadi motivator penggerak pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan di tingkat desa. Peran petugas kesehatan di desa (bidan dan perawat red), menurut Kepala Sub Bidang (Subid) Promosi Kesehatan (Promkes) Dinkes Banten, Mahmud, M.Kes, tidak sebatas memberikan pelayanan kesehatan dasar Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), namun diharapkan lebih berperan dalam masyarakat untuk tanggap dan peduli terhadap masalah kesehatan di desanya.
Hal itu disampaikan Kasubid Promkes Dinkes Banten, Mahmud, disela menjadi narasumber Pelatihan bidan/perawat  Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) se Provinsi Banten yang diselenggarakan di Mutiara Carita Cottage, Pantai Carita, Pandeglang, Kamis, (21/5/2015)
Hadir dalam acara tersebut Kepala Bidang Pemberantasan penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Banten, Didin Aliyudin, SKM, M.Kes, Kabid sumberdaya kesehatan dan promosi kesehatan Dinkes Pandeglang dr. H. Kodiat Juarsa, M.Kes.
Diungkapkan, pelatihan Petugas Kesehatan di desa tingkat Provinsi Banten di ikuti 71 peserta yakni 36 peserta dari Kabupaten Tangerang dan 35 peserta dari Kabupaten Lebak mulai Senin (18/5/2015) hingga Jumat 22 Mei 2015.
Usai pelatihan tambah Mahmud, peserta diharapkan mampu melakukan upaya peningkatan derajat pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang masih tinggi di Provinsi Banten.
Kabid Sumberdaya kesehatan dan Promosi Kesehatan Dinkes Pandeglang Dr. Kodiat Juarsa mengatakan,
kegiatan pemberdayaan masyarakat yang difasilitasi petugas kesehatan di desa salah satunya dapat dilaksanakan di sarana Poskesdes yang ada di setiap desa. “Poskesdes merupakan fasilitas untuk pelayanan kesehatan dasar, juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya seperti Posyandu, atau upaya kesehatan lain yang dibutuhkan masyarakat,” terangnya.
Oleh karena itu, lanjut dokter Kodiat, petugas kesehatan di desa harus memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam bidang pemberdayaan masyarakat.
“Bidan desa dan perawat desa diberikan pelatihan agar mampu memfasilitasi masyarakat dalam mengindentifikasi masalah dan membantu proses  pemecahan masalah masyarakat desa, hingga muncul prioritas masalah” paparnya.
Ditambahkan, pemecahan masalah dipecahkan bersama antara petugas kesehatan di desa , lintas sector desa dan warga setempat dalam wadah musyawarah masyarakat desa (MMD).

18 Mei 2015

Dinkes dan Kawarda Sukses Gelar Pertihusada Banten



DINAS Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten dan Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Banten sukses menggelar Perkemahan Bakti Saka Bakti Husada (Pertihusada) Daerah Banten di bumi perkemahan Kwarda Banten, Cikujang, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang pada 13-16 Mei 2015, pekan kemarin.
Kemah bakti SBH yang merupakan kegiatan Pertihusada pertama di Banten ini mengusung tema  ‘Pramuka Saka Bakti Husada, pelopor masyarakat cinta sehat’  dibuka secara resmi oleh Ketua Majelis Pembimbing SBH Kwarda Banten Drg. Sigit Wardoyo, M.Kes, pada Kamis (14/5/2015) diikuti 158 Pramuka Penegak/Pandega dari Kontingen Cabang SBH kabupaten/kota se Provinsi Banten, kecuali Kota Tangerang Selatan yang tidak mengutus kontingennya.
Hadir dalam acara tersebut, Ketua Kwarda Banten H. Mohammad Masduki beserta para wakil ketua dan andalan daerah gerakan pramuka Banten, para Ketua Kwarcab, pimpinan SBH se-Kwarda Banten, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang selaku Ketua Mabisaka Bakti Husada Kabupaten Pandeglang H. Deden Kuswan, serta para undangan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Drg. Sigit Wardoyo, M.Kes selaku  Ketua Majelis Pembimbing SBH Banten mengatakan, pentingnya kesehatan dalam kehidupan masyarakat membutuhkan banyak kader kesehatan yang dapat memberikan penyuluhan dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Oleh karena itu, diperlukan kemampuan bagi generasi muda untuk selalu mengasah pengetahuan tentang kesehatan,” katanya.
Menurutnya, salah satu wadah kegiatan mengasah kemampuan tersebut yakni melalui kegiatan gerakan kepramukaan dengan bergabung bersama satuan karya pramuka bakti husada (SBH). “Dibentuknya SBH adalah untuk mewujudkan kader pembangunan di bidang kesehatan, yang dapat membantu melembagakan norma hidup sehat bagi semua anggota masyarakat di lingkunganya,” ungkap Sigit
Sigit menjelaskan, SBH  merupakan wadah strategis yang memiliki potensi besar dalam mewujudkan pembangunan kesehatan di Provinsi Banten. “Setiap anggota SBH telah dibekali pengetahuan, keterampilan, dan pengamalan yang ada dalam krida saka bakti husada, yang terdiri dari krida lingkungan sehat, krida keluarga sehat, penanggulang penyakit, gizi, krida obat dan krida perilaku hidup bersih dan sehat,” jelas Sigit.
Dia menegaskan, potensi besar yang ada pada SBH ini akan berjalan dengan baik apabila pembinaannya dilakukan secara baik. “Berjalan tidaknya pembinaan ini ada pada kita semua, oleh karena itu dalam kesempatan yang baik ini pula saya mengajak kepada kakak-kakak pengurus majelis pembimbing dan pimpinan satuan karya pramuka bakti husada di tingkat kab/kota agar dapat memberikan bimbingan, dukungan dan bantuan moral, material dan finansial untuk pembinaan SBH,” tegasnya.
Dia berharap, dengan terlaksananya kegiatan Pertihusada ini diharapkan lebih meningkatkan eksistensi dan peran Pramuka SBH dalam mendorong pembangunan kesehatan di wilayah Provinsi Banten.
Ketua Panitia Pertihusada Banten Dadang Iskandar mengatakan, Pertihusada merupakan salah satu wujud kepedulian dan rasa pengabdian anggota gerakan pramuka terhadap masyarakat, bangsa dan negara. “Ini merupakan bakti nyata wujud pengabdian dan kepedulian anggota gerakan Pramuka terhadap masyarakat terutama dalam bidang kesehatan,” katanya.
Dadang mengungkapkan, Pertihusada dimaksudkan guna meningkatkan pemahaman anggota SBH terhadap kesehatan yang dikemas dalam 6 krida SBH. “Selain itu kegiatan ini juga untuk lebih meningkatkan peran aktif anggota SBH mempelopori masyarakat cinta sehat,” terangnya.
Oleh karenanya, lanjut Dadang berbagai kegiatan pun digelar selama Pertihusada baik kegiatan umum dan rutin seperti upacara, apel, api unggun dan malam bhakti satya legawa, korve, ibadah, maupun kegiatan rutin senam pagi.
“Selain itu ada kegiatan ceramah umum dari Ketua Kwarda Banten Kak Masduki, pembinaan mental oleh Waka Kwarda Banten, enterpreneurship berbasis kesehatan dan achievement motivation training,” katanya.
Sekretaris Panitia Pertihusada Banten Mahmud, M.Kes menambahkan, agenda utama dalam kemah bakti pramuka SBH yakni kegiatan kesakaan berupa pendalaman 6 krida SBH oleh Mabisaka bakti husada, kegiatan bakti kepada warga setempat berupa pembuatan jamban sehat yang berlokasi di  Masjid Cikujang, pengobatan gratis bagi warga sekitar, khitanan massal, pembuatan taman obat keluarga (Toga) hingga penyuluhan kesehatan masyarakat.
“Ada juga kegiatan persaudaraan sesama anggota pramuka SBH seperti apresiasi film, permainan tradisional, dinamika kelompok, anjangsana yang diikuti pula oleh masing-masing pimpinan kontingen cabang maupun Pembina pendamping dari dinas kesehatan kabupaten/kota,” ujar Mahmud yang juga Kepala Sub Bidang Promosi Kesehatan Dinkes Banten ini.
Ditambahkan, pada Pertihusada Banten ini Kontingen Cabang SBH Pandeglang merebut gelar sebagai juara umum dengan meraih tropi terbanyak dalam kegiatan lomba selama Pertihusada berlangsung yakni lomba tertib administrasi, lomba safari krida, lomba memasak menu bergizi dan seimbang, lomba cerdas tangkas baktihusada, lomba desain poster dan lomba penyuluhan kesehatan.

Pramuka SBH, Pelopor Generasi Muda dalam Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat


SATUAN Karya Pramuka (Saka) Bakti Husada merupakan salah satu wadah pengembangan pengetahuan, pembinaan keterampilan, penambahan pengalaman dan pemberian kesempatan untuk membaktikan dirinya kepada masyarakat dalam bidang kesehatan.Tujuan dibentuknya Saka Bakti Husada yakni untuk mewujudkan kader pembangunan di bidang kesehatan, yang dapat membantu melembagakan norma hidup sehat bagi semua anggota Gerakan Pramuka dan masyarakat di lingkunganya.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Sumberdaya Kesehatan Dinkes Pandeglang dr. H. Kodiat Juarsa, M.Kes usai mengikuti rangkaian upacara Pembukaan Perkemahan Bakti SBH (Pertihusada) daerah Banten di bumi perkemahan Kwarda Banten, Cikujang, Kecamatan Panimbang, Kamis (14/5/2015).
Berpakaian pramuka lengkap, Dokter muda yang kerap disapa dokter Koko ini menyatakan, Saka Bakti Husada dimaksudkan guna lebih  meningkatkan peran generasi muda sebagai penerus bangsa yang harus memiliki tanggung jawab tinggi dan dapat mewujudkan kader pembangunan di bidang kesehatan.
Sebagai sekretaris majelis Pembina SBH Pandeglang, dokter Koko menyatakan optimistis dalam jangka panjang, krida bidang kesehatan SBH akan turut meningkatkan jangkauan dan cakupan layanan kesehatan, seperti pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menguatkan pentingnya imunisasi, pencegahan HIV-AIDS, TB paru, malaria, serta termasuk juga pengendalian vektor penyakit.
"Kita patut bersyukur, pembangunan kesehatan di Kabupaten Pandeglang didukung dan diperkuat saka bakti husada sebagai bagian dari gerakan pramuka pelopor generasi muda cinta sehat,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan, jumlah anggota pramuka yang begitu banyak, terdapat disemua sekolah disemua jenjang pendidikan dasar dan menengah maupun perguruan tinggi, harus kita manfaaatkan sebagai agent of change di kalangan muda," ujarnya.
Dia memaparkan, pentingnya kesehatan dalam kehidupan masyarakat membutuhkan banyak kader kesehatan yang dapat memberikan penyuluhan dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Oleh karena itu, diperlukan kemampuan bagi generasi muda untuk selalu mengasah pengetahuan tentang kesehatan,” katanya.
Menurutnya, salah satu wadah kegiatan mengasah kemampuan tersebut yakni melalui kegiatan gerakan kepramukaan dengan bergabung bersama satuan karya pramuka bakti husada (SBH).  “Setiap anggota SBH akan dibekali pengetahuan, keterampilan, dan pengamalan yang ada dalam krida saka bakti husada, yang terdiri dari krida lingkungan sehat, krida keluarga sehat, penanggulang penyakit, gizi, krida obat dan krida perilaku hidup bersih dan sehat,” jelasnya.
Usai mengikuti upacara pembukaan Kemah bakti SBH dia juga meninjau kesiapan kontingen Cabang SBH Pandeglang yang terdiri dari 32 pramuka SBH. Dia pun mengaku optimistis kontingen Pandeglang meraih prestasi terbaik dalam Kemah bakti SBH yang merupakan kegiatan Pertihusada pertama di Banten ini.
Mengusung tema  ‘Pramuka Saka Bakti Husada, pelopor masyarakat cinta sehat’  Pertihusada Banten dibuka secara resmi dalam suatu upacara yang dipimpin inspektur Upacara  Ketua Majelis Pembimbing SBH Kwarda Banten Drg. Sigit Wardoyo, M.Kes, pada Kamis (14/5/2015) pagi dihadiri Ketua Kwarda Banten H. Mohammad Masduki beserta para wakil ketua dan andalan daerah gerakan pramuka Banten, para Ketua Kwarcab, pimpinan SBH se-Kwarda Banten, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang selaku Ketua Mabisaka Bakti Husada Kabupaten Pandeglang H. Deden Kuswan, serta para tamu undangan.



17 Mei 2015

Kontingen SBH Pandeglang Juara Umum Pertihusada Banten 2015



KONTINGEN Kwartir Cabang Saka Bakti Husada (SBH) Gerakan Pramuka Pandeglang menjadi juara umum perkemahan bakti satuan karya bakti husada  (Pertihusada) tingkat Daerah Banten yang digelar di bumi perkemahan Kwarda Banten, Cikujang, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang pada 13-16 Mei 2015, pekan kemarin.
Kemah bakti SBH yang merupakan kegiatan Pertihusada pertama di Banten ini mengusung tema  ‘Pramuka Saka Bakti Husada, pelopor masyarakat cinta sehat’  ini diikuti 158 Pramuka Penegak/Pandega dari Kontingen Cabang SBH kabupaten/kota se Provinsi Banten yang digelar Dinkes Provinsi Banten bekerja sama dengan Kwarda Banten.
Ketua Majelis Pembina Saka Bakti Husada Cabang Pandeglang H. Deden Kuswan mengatakan, Kontingen SBH Pandeglang terdiri dari dua sangga putra (16 orang) dan dua sangga putri berhasil meraih prestasi sebagai peraih tropi terbanyak dalam kegiatan lomba yang dilaksanakan selama Pertihusada berlangsung yakni sebagai juara satu lomba cerdas cermat, juara ketiga lomba sendratasik, juara kedua lomba Poster putra, juara satu lomba poster putrid, juara pertama lomba memasak putra putri, dan juara pertama lomba sapari krida putra putri.
“Dari 9 kategori yang dilombakan selama Pertihusada, Alhamdulillah kontingen SBH Pandeglang mendapat 8 tropi juara,” katanya, akhir pekan kemarin.
 Ketua Mabisaka SBH yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang ini berharap, dengan menjadi juara umum dan merebut piala bergilir ketua Mabisaka SBH Banten diharapkan lebih meningkatkan eksistensi dan peran Pramuka SBH dalam mendorong generasi muda sebagai pelopor pembangunan kesehatan di Kabupaten Pandeglang.
Sekretaris Dinkes Pandeglang selaku Pimpinan SBH cabang Pandeglang H. Didi Mulyadi menambahkan, agenda utama dalam kemah bakti pramuka SBH yakni kegiatan kesakaan berupa pendalaman 6 krida SBH oleh Mabisaka bakti husada, kegiatan bakti kepada warga setempat berupa pembuatan jamban sehat yang berlokasi di  Masjid Cikujang, pengobatan gratis bagi warga sekitar, khitanan massal, pembuatan taman obat keluarga (Toga) hingga penyuluhan kesehatan masyarakat.
“Ini merupakan bakti nyata wujud pengabdian dan kepedulian anggota gerakan Pramuka terhadap masyarakat terutama dalam bidang kesehatan,” katanya.
Ditambahkan, SBH merupakan gerakan pramuka sebagai wadah bagi anggota Pramuka Penegak dan Pandega guna menyalurkan minat serta menempa pengetahuan dan keterampilan mereka di bidang kesehatan.
Kemah bakti SBH yang merupakan kegiatan Pertihusada pertama di Banten ini mengusung tema  ‘Pramuka Saka Bakti Husada, pelopor masyarakat cinta sehat’  dibuka secara resmi dalam suatu upacara yang dipimpin inspektur Upacara  Ketua Majelis Pembimbing SBH Kwarda Banten Drg. Sigit Wardoyo, M.Kes, pada Kamis (14/5/2015).
Hadir saat pembukaan, Ketua Kwarda Banten H. Mohammad Masduki beserta para wakil ketua dan andalan daerah gerakan pramuka Banten, para Ketua Kwarcab, pimpinan SBH se-Kwarda Banten, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang selaku Ketua Mabisaka Bakti Husada Kabupaten Pandeglang H. Deden Kuswan, serta para tamu undangan.
Perlu kader kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Drg. Sigit Wardoyo, M.Kes selaku  Ketua Majelis Pembimbing SBH Banten dalam sambutan pembukaan mengatakan, pentingnya kesehatan dalam kehidupan masyarakat membutuhkan banyak kader kesehatan yang dapat memberikan penyuluhan dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Oleh karena itu, diperlukan kemampuan bagi generasi muda untuk selalu mengasah pengetahuan tentang kesehatan,” katanya.
Menurutnya, salah satu wadah kegiatan mengasah kemampuan tersebut yakni melalui kegiatan gerakan kepramukaan dengan bergabung bersama satuan karya pramuka bakti husada (SBH). “Dibentuknya SBH adalah untuk mewujudkan kader pembangunan di bidang kesehatan, yang dapat membantu melembagakan norma hidup sehat bagi semua anggota masyarakat di lingkunganya,” ungkap Sigit
Dia menjelaskan, SBH  merupakan wadah strategis yang memiliki potensi besar dalam mewujudkan pembangunan kesehatan di Provinsi Banten. “Setiap anggota SBH telah dibekali pengetahuan, keterampilan, dan pengamalan yang ada dalam krida saka bakti husada, yang terdiri dari krida lingkungan sehat, krida keluarga sehat, penanggulang penyakit, gizi, krida obat dan krida perilaku hidup bersih dan sehat,” jelas Sigit.
Dia menegaskan, potensi besar yang ada pada SBH ini akan berjalan dengan baik apabila pembinaannya dilakukan secara baik. “Berjalan tidaknya pembinaan ini ada pada kita semua, oleh karena itu dalam kesempatan yang baik ini pula saya mengajak kepada kakak-kakak pengurus majelis pembimbing dan pimpinan satuan karya pramuka bakti husada di tingkat kab/kota agar dapat memberikan bimbingan, dukungan dan bantuan moral, material dan finansial untuk pembinaan SBH,” tegasnya.
Dia berharap, dengan terlaksananya kegiatan Pertihusada ini diharapkan lebih meningkatkan eksistensi dan peran Pramuka SBH dalam mendorong pembangunan kesehatan di wilayah Provinsi Banten.

12 Mei 2015

Dinkes Pandeglang Gencarkan Sosialisasi Produk P-IRT



BANYAKNYA produk pangan lokal yang beredar di tengah masyarakat, harus diimbangi dengan memperhatikan kebersihan, dan yang pastinya harus sehat. Karena itu, Pemkab Pandeglang melalui Dinas Kesehatan (Diskes) Pandeglang berupaya mengantisipasi beredarnya pangan lokal yang diproduksi industri rumah tangga agar memenuhi standar mutu kesehatan.
Salah satunya, dengan menggencarkan upaya sosialisasi dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT).
Hal itu disampaikan Kepala Seksi sarana kesehatan, farmasi dan makanan minuman Dinkes Pandeglang Dindin Mohamad Syafarudin usai sosialisasi keamanan P-IRT di stasiun Radio Krakatau, Labuan, belum lama ini.  
Dia mengungkapkan, sejumlah pengembang industry rumah tangga belum merasa perlu untuk membuat sertifikat P-IRT karena menganggap usahanya masih berskala kecil. “Selain itu, kami mengakui masih kurangnya pengawasan yang dilakukan terhadap seluruh P-IRT yang ada di Kabupaten Pandeglang,” katanya.
Ditegaskan, sertifikasi atau izin P-IRT sangat penting untuk menjamin keamanan pangan terhadap konsumen dari bahan tambahan makanan yang berbahaya. “Bagi para pengusaha IRT, kepemilikan Nomor Register P-IRT dalam kemasan produk setidaknya memberikan jaminan atau kepercayaan bagi calon konsumen tentang produk yang ditawarkan,” tegas Dindin.
Dindin menjelaskan, pihaknya tengah gencar  menyosialisasikan informasi sertifikasi IRT guna optimalisasi layanan pendaftaran produk untuk dapat izin P-IRT. “Cara mendapatkan izin P-IRT dengan melakukan permohonan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang, kemudian nanti akan diperiksa kelengkapan berkasnya. Jika masih ada yang kurang kami akan kembalikan kepada pemohon untuk diperbaiki terlebih dahulu,” jelasnya.
Lebih lanjut kata Dindin, setelah semua memenuhi persyaratan, maka pemohon akan diwajibkan mengikuti penyuluhan keamanan pangan, dan diperiksa sarananya.”Jika semua sudah memenuhi persyaratan, maka surat izin P-IRT tersebut akan keluar,” paparnya.
Katanya, pemohon sertifikasi wajib melalui proses penyuluhan keamanan pangan, dimaksudkan agar pengusaha memahami untuk tetap menjaga pangan agar tetap aman, higienis, bermutu, bergizi, dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya setempat.
Diakui, sebagian besar P-IRT di Kabupaten Pandeglang hingga saat ini belum memiliki izin dari Dinkes. Berdasarkan data Dinkes Pandeglang, dari 318 industri rumah tangga (IRT) yang tercatat, hanya 33 IRT (10,4%) diantaranya yang telah memiliki legalitas berupa sertifikat produk pangan (SPP-IRT). “Salah satu penyebabnya karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sertifikat P-IRT,” tandasnya.