5 Jul 2015

Aksi Promkes Mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

SEKSI Promosi Kesehatan Dinkes Pandeglang menggelar berbagai aksi menyambut peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) atau (World No Tobacco Day) 31 Mei 2015 diantaranya dengan Talk Show di Radio, Memasang Spanduk, Poster dan Baliho anti rokok, hingga sosilisasi dan advokasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dilingkungan Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang.
Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinkes Pandeglang Rita Kusmawati mengatakan, aksi menyambut HTTS tersebut dilaksanakan di 10 titik yaitu di lingkungan Kantor Dinkes Pandeglang, Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DTP) Kecamatan Cadasari, Cimanuk, Saketi, Menes, Labuan, Panimbang, Cibaliung, Munjul, dan Puskesmas Sumur.
“Aksi ini untuk menurunkan jumlah perokok aktif, meningkatkan wawasan tentang bahaya rokok dan menurunkan angka kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan perilaku rokok,” katanya, akhir pekan kemarin.
Dia menargetkan, dalam bulan Mei 2015 ini Sembilan Puskesmas yang menjadi garapan dirinya dalam aksi mewujudkan KTR dapat terwujud dengan regulasi kebijakan yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Pandeglang. “Kita sudah buat surat edaran untuk 9 Puskesmas terpilih dengan tempat perawatan (DTP) semuanya sudah harus bebas asap rokok mulai 1 Juni 2015,” terangnya.
Rita mengungkapkan, KTR penting, bukan saja bagi siperokok, namun lebih dari itu KTR sangat penting untuk kesehatan masyarakat atau menyelamatkan orang yang tidak merokok. “KTR bertujuan untuk merubah letak perokok bukan menghalangi orang merokok,” terangnya.
Dia menyatakan, kondisi saat ini Indonesia masuk kategori darurat konsumsi rokok. “Lihat saja iklan, promosi dan sponsor rokok secara sistematis, masif dan terus menerus mengkondisikan orang untuk menjadi perokok,” ujarnya. Oleh karena itu, lanjut Rita perlu dilakukan langkah-langkah pengamanan rokok bagi kesehatan, diantaranya melalui penetapan KTR. “Terlebih petugas kesehatan harus menjadi pelopor hidup bersih dan sehat di fasilitas kesehatan,” imbuhnya.

4 Jul 2015

Berhenti Merokok Mulai Ramadhan dan Seterusnya



KONSUMSI rokok dapat menyebabkan gangguan penyakit seperti gangguan pernapasan, gangguan kardiovaskuler (hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner), kanker serta gangguan reproduksi dan kehamilan, bukan hanya itu  tetapi juga biaya hilangnya hari atau produktivitas.

Selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan seseorang dengan niat yang ihklas dan motivasi yang kuat sudah terlatih untuk tidak merokok dari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari selama satu bulan penuh. Tentunya, perilaku yang baik ini diharapkan dapat dilanjutkan setelah bulan Ramadhan

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dr. HM Subuh, MPPM, menyebutkan cara dan langkah  berhenti merokok serta tips berhenti merokok:

Cara pertama, berhenti seketika. Jika hari ini masih merokok, besok berhenti sama sekali. Cara ini yang besar kemungkinan berhasilnya.

Cara kedua, penundaan.  Tundalah saat merokok saat jam berbuka puasa. Misalnya, pada hari permulaan rokok pertama dihisap 1 jam setelah buka puasa. Pada hari kedua, rokok pertama dihisap 2 jam setelah buka puasa, dan seterusnya hingga hari ke empat berhenti sama sekali. Bila perlu, bisa juga masing masing  waktu dilakukan selama 2 hari, lalu 2 hari lagi bertahap mulai merokok lebih terlambat 1 jam, dan seterusnya sampai berhenti sama sekali.

Cara ketiga, pengurangan. Jumlah rokok yang dihisap setiap hari dikurangi secara berangsur angsur dengan jumlah yang sama sampai 0 batang pada hari yang ditetapkan.  Misalnya hari pertama 10 batang, lalu selang 1 atau 2 hari  turun jadi 8 batang dan seterusnya. Pola pengurangan rokok dan target tanggal berhenti menjadi nol sudah harus ditetapkan sejak dini dan tidak lupa untuk memberitahunkan kepada keluarga atau kerabat agar untuk membantu mengingatkan. Sebagai contoh, tanggal yang dipilih untuk memulai ialah pada 17 Ramadhan (Nuzulul Quran) atau tanggal ganjil pada 10 hari terakhir Ramadhan. 

Berhenti merokok memiliki banyak manfaat untuk kesehatan antara lain: perbaikan darah, denyut jantung dan aliran darah tepi  setelah 20 menit berhenti merokok. Jika berhenti merokok selama 15 tahun, maka risiko  jantung dan stroke turun ke tingkat yang sama dengan bukan perokok

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat JenderalKementerian Kesehatan RI.

15 Jun 2015

Ketua PPNI Pandeglang : Perawat Harus Jadi Teladan



PERSATUAN Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Pandeglang memberikan apresiasi terhadap anggotanya yakni Ishak CB yang telah meraih prestasi sebagai perawat teladan tingkat Kabupaten Pandeglang tahun 2015. Menurut Ketua PPNI Pandeglang Hj. Nuriah ,penghargaan kepada salah satu anggota PPNI yang diberikan Pemkab Pandeglang ini harus menjadi contoh dalam memberikan yang terbaik kepada masyarakat.
"Di masyarakat peran tenaga kesehatan perawat sangat besar dalam meningkatkan derajat kesehatan. Apalagi jumlah Perawat di Pandeglang sangat besar mencapai 900 orang lebih, ” ujar Nuriah, usai dilantik Bupati Pandeglang sebagai Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Kabupaten Pandeglang, di Pendopo pada Kamis (11/6/2015) akhir pekan kemarin.
Keteladanan yang dinasihatkan oleh Ketua PPNI Pandeglang periode 2013-2018 ini memiliki banyak bentuk. Ia mencontohkan,"Misalnya lebih disiplin dalam bekerja, menunjukkan kinerja yang prima, dan bertindak profesional dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai perawat, guna mendorong terwujudnya masyarakat Pandeglang yang sehat dan sejahtera," ujar perempuan kelahiran Menes 8 Mei 1966 ini.
Menurut dia, Ishak terpilih sebagai tenaga kesehatan teladan  untuk kategori perawat atas pengabdian dan inovasinya sebagai perawat di Puskesmas Labuan. “Di Puskesmas ini, manfaat yang diberikan para perawat langsung dirasakan masyarakat,” kata mantan Sekretaris Dinkes Pandeglang ini.
Dia menuturkan, Ishak dipilih sebagai teladan tahun ini berdasarkan inovasinya meningkatkan kualitas hidup masyarakat di bidang promotif-preventif (peningkatan dan pencegahan penyakit), maupun kuratif-rehabilitatif (pengobatan dan pemulihan kesehatan) dan bersaing dengan ratusan perawat lainnya dari 36 Puskesmas se Kabupaten Pandeglang.
“Ishak juga akan mewakili Kabupaten Pandeglang untuk pemilihan tenaga kesehatan perawat tingkat Provinsi Banten,” ungkap Nuriah.
Dia berharap, raihan prestasi teladan untuk kategori perawat ini semakin menunjukan eksistensi dan peran perawat sesuai semangat UU No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan.
“Prestasi ini menjadi cermin keberhasilan suatu daerah dalam pembinaan kualitas perawat dan harus dapat terus dipertahankan," tuturnya.
Selain Ishak yang menyandang predikat sebagai Perawat teladan peringkat pertama, Nuriah juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada anggota PPNI lainnya yakni Lisnawati Anggraeni (Puskesmas Majasari) dan Ika Ariestika (Puskesmas Bojong) yang telah menjadi tenaga kesehatan perawat teladan peringkat II dan III tingkat Kabupaten Pandeglang.
Meski saat ini mengemban amanah sebagai Kepala KPAD, perawat senior  yang sempat  menjabat sebagai  Camat Kota Pandeglang dan Kepala Kantor Ketahanan Pangan  yang merupakan jabatan diluar bidang kesehatan, Nuriah mengaku tetap fokus memimpin organisasi profesi dengan jumlah anggota terbesar di Kabupaten Pandeglang ini. "Jabatan ini amanah, mohon do’anya ya dari semua, biar bisa melasanakan tugas dengan baik,” tandasnya.




PPNI Apresiasi Perawat Teladan Ishak CB



KETUA Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Pandeglang Hj. Nuriah memberikan apresiasi terhadap anggotanya yakni Ishak CB yang telah meraih prestasi sebagai perawat teladan tingkat Kabupaten Pandeglang tahun 2015. Menurutnya, penghargaan kepada salah satu anggota PPNI yang diberikan Pemkab Pandeglang ini harus menjadi contoh dalam memberikan yang terbaik kepada masyarakat.
"Di masyarakat peran tenaga kesehatan perawat sangat besar dalam meningkatkan derajat kesehatan. Apalagi jumlah Perawat di Pandeglang sangat besar mencapai 900 orang lebih, ” ujar Nuriah, akhir pecan kemarin.
Keteladanan yang dinasihatkan oleh Ketua PPNI Pandeglang periode 2013-2018 ini memiliki banyak bentuk. Ia mencontohkan,"Misalnya lebih disiplin dalam bekerja, menunjukkan kinerja yang prima, dan bertindak profesional dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai perawat, guna mendorong terwujudnya masyarakat Pandeglang yang sehat dan sejahtera," ujar perempuan kelahiran Menes 8 Mei 1966 ini.
Menurut dia, Ishak terpilih sebagai tenaga kesehatan teladan  untuk kategori perawat atas pengabdian dan inovasinya sebagai perawat di Puskesmas Labuan. “Di Puskesmas ini, manfaat yang diberikan para perawat langsung dirasakan masyarakat,” kata mantan Sekretaris Dinkes Pandeglang ini.
Dia menuturkan, Ishak dipilih sebagai teladan tahun ini berdasarkan inovasinya meningkatkan kualitas hidup masyarakat di bidang promotif-preventif (peningkatan dan pencegahan penyakit), maupun kuratif-rehabilitatif (pengobatan dan pemulihan kesehatan) dan bersaing dengan ratusan perawat lainnya dari 36 Puskesmas se Kabupaten Pandeglang.
“Ishak juga akan mewakili Kabupaten Pandeglang untuk pemilihan tenaga kesehatan perawat tingkat Provinsi Banten,” ungkap perawat senior  yang pada Kamis (11/6/2015) dilantik Bupati Pandeglang sebagai Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Kabupaten Pandeglang itu.

26 Mei 2015

Perdana Masuk Nominasi Puskesmas Berprestasi Tingkat Provinsi Banten



PUSKESMAS Perdana Kecamatan Sukaresmi akhirnya terpilih sebagai Puskesmas berprestasi tingkat Kabupaten Pandeglang tahun 2015. Untuk prestasinya itu Puskesmas Perdana mendapat kunjungan tim penilai Puskesmas Berprestasi tingkat Provinsi Banten pada Senin (25/5/2015).
Kedatangan tim penilai Provinsi Banten disambut tim Penilai Kabupaten Pandeglang yang dipimpin Sekretaris Dinkes Pandeglang H. Didi Mulyadi, SKM, M.Kes.
Hadir dalam penilaian tersebut Kepala Bidang P2PL Dinkes Pandeglang dr. H. Firmansyah, Kabid Yankesus Hj. Eniyati, Kabid Yankesum Hj. Yeni Herlina, serta unsur Muspika setempat dan sejumlah tamu undangan.
Dalam sambutannya, Sekretaris Dinkes Pandeglang H. Didi Mulyadi menyampaikan, Pemkab  Pandeglang sangat menaruh perhatian terhadap upaya pelayanan  guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. “Pemkab selalu memberikan perhatian yang serius kepada Puskesmas yang ada, karena Puskesmas merupakan unsur terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” katanya.
Ia mengungkapkan, apa yang dilihat oleh tim juri tingkat provinsi saat ini, bukanlah hal yang dipersiapkan untuk perlombaan saja. “Akan tetapi ini merupakan agenda rutin Puskesmas dan kegiatan ini diakui keberadaannya oleh masyarakat di Kecamatan Sukaresmi,” ungkapnya.
Dalam rangkaian kegiatan penilaian tersebut, Kepala Puskesmas Perdana Jajat Mahrojat menyampaikan beberapa inovasinya diantaranya yakni kegiatan kemitraan tokoh agama setempat dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Selanjutnya dalam rangka membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, Kepala Puskesmas Perdana dan jajarannya secara kontinue melaksanakan penyuluhan PHBS di setiap Majlis taklim.
Ketua Tim Penilai Lomba Puskesmas berprestasi Kabupaten Pandeglang, Hj. Eniyati mengatakan, kriteria penilaian lomba Puskesmas berprestasi sangat komplek mencakup 17 indikator. “Selain harus mempresentasikan kinerja Puskesmas selama setahun, Indikator lainnya yang dinilai antara lain manajemen Puskesmas, administrasi Puskesmas, dan kinerja pelayanan dasar selama tahun 2014,” ujar Eniyati disela kunjungan lapangan tim penilai provinsi di Puskesmas Perdana, kemarin.
Selain itu, tambah Eni, Puskesmas berprestasi harus didukung program inovasi seperti adanya kemitraan dengan masyarakat, klinik gizi, sanitasi serta adanya pengelolaan limbah cair, ruang khusus pencegahan infeksi, dan lain-lain.
Sementara untuk penilaian kategori Klinik Berprestasi terpilih Klinik Wirdani Kecamatan Labuan sebagai klinik swasta terbaik tahun 2015. Usai penilaian Puskesmas berprestasi, tim penilai berkunjung ke Klinik Wirdani Kecamatan Labuan untuk penilaian nominasi sebagai Klinik swasta terbaik tingkat Provinsi Banten tahun 2015.
Nakes Teladan
Untuk tenaga kesehatan (nakes)teladan tingkat Kabupaten Pandeglang tahun 2015, tim Juri Kabupaten Pandeglang telah telah memilih 3 besar nakes teladan untuk masing-masing kategori yakni kategori dokter Puskesmas teladan yakni Della Ariyani (Majasari), Akbar Mulky (Labuan), Apri Ranti Nasir (Munjul). Perawat teladan yakni Ishak (Labuan), Lisnawati Anggraeni (Majasari) dan Ika Ariestika (Bojong). Petugas gizi Puskesmas yakni Bay Masnuah (Labuan), Fahmi Dina Amallia (mekarjaya) dan Ika Fiska Prilyanti (mandalawangi). Adapun Nakes teladan untuk kategori teknis kefarmasian (asisten apoteker) yakni Nurlela (Puskesmas Majasari), Mirna Safariah (Puskesmas Cisata) dan Cariwan (Puskesmas Labuan)

25 Mei 2015

Bidan dan Perawat Harus Mampu Menjadi Motivator Pemberdayaan Masyarakat



BIDAN desa (Bides) dan perawat desa harus menjadi motivator penggerak pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan di tingkat desa. Peran petugas kesehatan di desa (bidan dan perawat red), menurut Kepala Sub Bidang (Subid) Promosi Kesehatan (Promkes) Dinkes Banten, Mahmud, M.Kes, tidak sebatas memberikan pelayanan kesehatan dasar  dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), namun diharapkan lebih berperan dalam masyarakat untuk tanggap dan peduli terhadap masalah kesehatan di desanya.
Hal itu disampaikan Kasubid Promkes Dinkes Banten, Mahmud, disela menjadi narasumber Orientasi pemberdayaan masyarakat bagi bidan/perawat  Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) se Provinsi Banten yang diselenggarakan di Mutiara Carita Cottage, Pantai Carita, Pandeglang, Kamis, (21/5/2015)
Hadir dalam acara tersebut Kepala Bidang Pemberantasan penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Banten, Didin Aliyudin, SKM, M.Kes, Kabid sumberdaya kesehatan dan promosi kesehatan Dinkes Pandeglang dr. H. Kodiat Juarsa, M.Kes.
Diungkapkan, pelatihan Petugas Kesehatan di desa tingkat Provinsi Banten di ikuti 71 peserta yakni 36 peserta dari Kabupaten Tangerang dan 35 peserta dari Kabupaten Lebak mulai Senin (18/5/2015) hingga Jumat 22 Mei 2015.
Mahmud menjelaskan, kegiatan pemberdayaan masyarakat yang difasilitasi petugas kesehatan di desa salah satunya dapat dilaksanakan di sarana Poskesdes yang ada di setiap desa. “Poskesdes merupakan fasilitas untuk pelayanan kesehatan dasar, juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya seperti Posyandu, atau upaya kesehatan lain yang dibutuhkan masyarakat,” terangnya.
Oleh karena itu, lanjut Mahmud, petugas kesehatan di desa harus memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam bidang pemberdayaan masyarakat.
“Bidan desa dan perawat desa diberikan pelatihan agar mampu memfasilitasi masyarakat dalam mengindentifikasi masalah dan membantu proses  pemecahan masalah masyarakat desa, hingga muncul prioritas masalah” paparnya.
Menurutnya, pemecahan masalah dipecahkan bersama antara petugas kesehatan di desa , lintas sector desa dan warga setempat dalam wadah musyawarah masyarakat desa (MMD).
Usai pelatihan tambah Mahmud, peserta diharapkan mampu melakukan upaya peningkatan derajat pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang masih tinggi di Provinsi Banten.