18 Mar 2015

Kadinkes Pandeglang : Pelayanan Puskesmas Harus Lebih Baik



PEMBANGUNAN bidang kesehatan, merupakan salah satu program prioritas Pemkab Pandeglang. Kebijakan tersebut, didasarkan atas kenyataan bahwa bidang kesehatan merupakan bagian penting yang terkait langsung dengan peningkatan harkat dan martabat manusia dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas
Oleh karena itu, Dinkes Pandeglang berkomitmen untuk meningkatkan pembangunan kesehatan melalui perluasan jangkauan pelayanan kesehatan kepada segenap lapisan masyarakat.
Hal itu diungkapkan Kadinkes Pandeglang H. Deden Kuswan saat memberikan sambutan pada Peresmian Gedung Puskesmas Carita, Perdana dan Puskesmas Angsana yang dipusatkan di Puskesmas Carita, Rabu (18/3/2015).
Peresmian Puskesmas yang dilakukan oleh Bupati Pandeglang H. Erwan Kurtubi itu dihadiri oleh Asda II Setda Pandeglang H. Iskandar, Asda III Hj. Tati Suwagiharti, para anggota DPRD Pandeglang, unsur Muspika setempat, tokoh masyarakat dan agama, kader serta para Kepala Puskesmas se Kabupaten Pandeglang.
Deden mengatakan, berhasilnya pembangunan kesehatan, pada hakikatnya menuntut kerjasama yang lebih sinergis antara Pemerintah, stakeholders dan seluruh komponen masyarakat, serta tidak kalah pentingnya adalah kesadaran masyarakat untuk membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Untuk mewujudkan masyarakat Pandeglang yang lebih sehat harus ada sinergi antara peran Pemerintah dan masyarakat. Pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan sumberdaya kesehatan seperti Dokter, perawat, penempatan bidan di setiap desa, menyediakan akses informasi kesehatan melalui sosialisaasi dan penyebarluasan media promosi kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan, serta mendorong pemberdayaan peran aktif masyarakat dalam setiap upaya kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Sedangkan masyarakat, sambung Deden, harus juga bertanggung jawab dalam menyeimbangkan hak dan kewajiban dalam menjaga lingkungan serta berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Dia mengungkapkan, pembangunan kesehatan di Kabupaten Pandeglang menunjukan kemajuan yang berarti, antara lain dapat dilihat dari indicator kesehatan pada tahun 2010 dibandungkan dengan tahun 2014 yakni angka UHH meningkat dari 63,10 menjadi 64,4 tahun.
“Keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut, tidak lepas dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan khususnya bagi keluarga miskin diseluruh Puskesmas, melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta upaya perbaikan mutu pelayanan kesehatan di seluruh Puskesmas, Puskesmas pembantu hingga Pos Kesehatan Desa (Poskesdes),” terangnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kadinkes berpesan kepada seluruh jajaran kesehatan, agar memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melaksanakannya sesuai prosedur, dan ketentuan yang berlaku. “Dan kepada masyarakat agar dapat memanfaatkan keberadaan Puskesmas secara optimal,” tegasnya.
Diapun berharap, kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat bisa memuaskan masyarakat yang dating ke Puskesmas.
“Saya minta pelayanan Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan milik pemerintah harus lebih baik dari pelayanan kesehatan swasta,” tandasnya.
Peresmian gedung baru ketiga Puskesmas itu ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh Bupati Pandeglang H. Erwan Kurtubi didampingi Kepala Dinas Kesehatan H. Deden Kuswan dan sejumlah pejabat yang hadir.

16 Mar 2015

AKI dan AKB Pandeglang Masih Tinggi

SEKRETARIS Daerah (Sekda) Pandeglang H. Aah Wahid Maulani membuka acara Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Penurunan Kematian Ibu (AKI) dan Kematian bayi (AKB) di Pendopo Pandeglang, Rabu (11/3/2015).
Dalam sambutannya Sekda Pandeglang Aah mengatakan, kasus kematian ibu di Kabupaten Pandeglang masih cukup tinggi dibandingkan dengan Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Banten, dari tahun ke tahun jumlah kasus kematian ibu mengalami penurunan dan kenaikan yang sangat signifikan, 
“Dalam rangka memfokuskan percepatan penurunan kasus kematian ibu dan bayi di Kabupaten Pandeglang diperlukan upaya – upaya yang efektif dan efisien serta konsisten dari seluruh pemangku kepentingan untuk ikut bersama – sama berupaya dalam mempercepat penurunan AKI dan AKB,”katanya.
Lebih lanjut Sekda pandeglang menyampaikan, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Pandeglang untuk menurunkan AKI dan AKB adalah dengan memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui penempatan Bidan di Seluruh Desa, “Tujuannya untuk mendekatkan akses pelayanan kepada masyarakat terhadap pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terutama pada saat kehamilan dan persalinan,”lanjutnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang Deden Kuswan mengatakan, jumlah kasus angka kematian bayi dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dan penurunan diantaranya tahun 2012 kematian Ibu 47 Kasus dan246 kematian bayi, 35 kasus kematian Ibu dan 358 Kasus kematian Bayi tahun 2013, dan 47 Kasus Kematian Ibu dan 317 kasus kematian Bayi pada tahun 2014, “ Hal ini menunjukan masih rendah nya kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap prilaku yang mendukung kesehatan Ibu dan Bayi,”katanya.
Hadir dalam acara ini, perwakilan dari kementrian kesehatan Kasubid Kesehatan Ibu Hamil dr Lukas, Kepala Badan Pemberdayaan perempuan, Perlindungan Anak dan KB Hj Indah Dinarsiani, Para Camat dan Para Kepala Puskesmas se Kabupaten Pandeglang.

15 Mar 2015

Hari Ginjal Sedunia 2015 : Ginjal Sehat Untuk Semua

HARI Ginjal Sedunia diperingati setiap hari Kamis minggu kedua pada bulan Maret, yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 12 Maret 2015. Bila tak ingin kehilangan organ penting dalam tubuh, sayangilah ginjal Anda!

Ginjal merupakan organ penting yang ada di dalam tubuh berjumlah 2 buah dengan fungsi utama sebagai penyaring atau pencuci darah dan melaksanakan fungsi ekskresi (pembuang zat-zat yang tidak berguna).

Ginjal menjaga keseimbangan air serta keasaman darah dan juga elektrolit. Selain itu ginjal juga menghasilkan berbagai hormon antara lain erithropoitin yang berperan untuk pembentukan sel darah merah.

Mengingat peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, kita harus selalu menjaga ginjal kita dalam keadaan sehat.

Secara umum kerusakan yang terjadi pada ginjal merupakan dampak dari penyakit lain antara lain penyakit kencing manis (diabetes), hipertensi, penyakit asam urat tinggi, penyakit autoimun seperti penyakit Lupus.

Penyakit yang terjadi pada ginjal yang bisa berlanjut menjadi kronis adalah infeksi saluran kencing, batu ginjal atau polikistik ginjal serta sumbatan pada saluran ginjal.

Saat ini diabetes (DM) mendominasi penyebab gagal ginjal kronis yang menjalani cuci darah (hemodialisa). Penyakit hipertensi karena tekanan darah tidak terkontrol makin lama juga akan merusak ginjal, mulai dari kebocoran ginjal sampai gagal ginjal kronis sehingga pasien tersebut harus menjalani cuci darah.

Peningkatan kadar asam urat yang berkepanjangan juga akan menyebabkan terbentuknya batu ginjal dan jika berlanjut akan terjadi infeksi berulang pada ginjal dan akhirnya bisa juga menyebabkan gagal ginjal kronis.

Selain itu, hal lain yang bisa menyebabkan gangguan fungsi ginjal adalah obat-obatan. Penggunaan obat penghilang rasa sakit yang berkepanjangan dan tanpa konsultasi dokter juga bisa menyebabkan kerusakan ginjal.

Bagaimana mencegah penyakit gagal ginjal?

Pasien dengan DM, gula darahnya harus selalu terkontrol, pasien dengan hipertensi tekanan darahnya juga harus selalu terkontrol. Pasien dengan asam urat tinggi, asam uratnya harus diturunkan sampai normal. Pada pasien yang sudah diketahui menderita penyakit autoimun seperti Lupus, penyakit Lupus harus remisi (sembuh).

Saat ini di tengah masyarakat banyak berbagai alternatif pengobatan selain pengobatan modern yang mengklaim bisa menyembuhkan penyakit kencing manis atau hipertensi sehingga menjadi sembuh total. Jelas klaim ini tidak benar, karena penyakit kencing manis dan hipertensi hanya dapat dikatakan terkontrol baik dengan obat atau tanpa obat.

Oleh karena itu apapun pengobatan yang diberikan, kadar gula darah atau tekanan darah harus selalu dicek rutin. Karena jika hal ini tidak diperhatikan akan menyebabkan terjadinya komplikasi gagal ginjal kronis sehingga perlu cuci darah atau bahkan cangkok (transplantasi) ginjal.

Agar terhindar dari penyakit ginjal, ada beberapa tips penting, yaitu:

  1. Pemeriksaan urin lengkap dan ureum kreatinin pada pasien dengan penyakit kronis seperti kencing manis, hipertensi dan asam urat tinggi serta penyakit aoutoimun seperti penyakit Lupus Eritematosus.
  2. Tidak mengonsumsi obat-obatan secara rutin tanpa petunjuk dokter.
  3. Minum yang cukup 8-10 gelas per hari dalam kondisi normal.
  4. Tidak menahan buang air kecil dalam waktu lama.
  5. Jangan menghiraukan berbagai gangguan yang kemungkinan berhubungan dengan gangguan ginjal dengan segera berobat kedokter.
  6. Kenali gangguan kesehatan yang berhubungan dengan ginjal misal buang air kecil sakit, buang air kecil sering, buang air kecil tidak lampias, buang air kecil merah atau seperti cucian daging atau pinggang sakit. (dari berbagai sumber)***

14 Mar 2015

Tahukan Anda bahwa 3 Maret Adalah Hari Kesehatan Telinga



TANGGAL 3 Maret dipilih karena bentuk angka 3,3 menggambarkan atau berkaitan dengan bentuk telinga. Oleh karena itu, Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran Sedunia diperingati setiap tanggal 3 Maret untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan telinga dan pencegahan gangguan pendengaran.
Di Indonesia sendiri Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran dicanangkan pada 3 Maret 2010 lalu. Dan pada tahun ini tema yang di ambil adalah “Pendengaran Sehat Untuk Hidup Bahagia”
Menurut WHO, saat ini diperkirakan ada360 juta (5.3%) orang di dunia mengalami gangguan cacat pendengaran,328 juta (91%) diantaranya adalah orang dewasa (183 juta laki-laki, 145 juta perempuan) dan 32 juta (9%) adalah anak-anak.
Prevalensi gangguan meningkat seiring dengan pertambahan usia. Prevalensi gangguan pendengaran pada orang di atas usia 65 tahun bervariasi antara18 sampai hampir 50% di seluruh dunia. Serta diperkirakan20% orang dengan gangguan pendengaran membutuhkan alat bantu dengar.
Namun produksi alatbantu pendengaran saat ini hanya memenuhi 10% dari kebutuhan global dan hanya memenuhi 3% dari kebutuhan di negara berkembang.
Dengan meningkatnya permasalahan gangguan pendengaran dan ketuliandi Indonesia, maka perlu diantisipasi dengan melakukan upaya promotif, preventif serta memberikan pelayanan kesehatan Indera Pendengaran yang optimal sebagai upaya kuratif dan rehabilitatif terhadap masyarakat.
Untuk itu diperlukan kerjasama dan kesamaan visi dari berbagai pihak yaitu dokter, perawat, tenaga kesehatan (asisten audiologi, audiometris), terapis wicara, pendidik, teknisi, serta masyarakat.
Jadi hargai sistem pendengaranmu dan orang-orang disekitarmu yaaa, karna masalah kecil di dalam pendengaranmu dapat berakibat fatal bagi hidupmu. (dari berbagai sumber)***

7 Mar 2015

DBD Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat



DEMAM Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hal itu karena penyakit ini sering menimbulkan kematian bagi penderitanya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pandeglang H. Deden Kuswan mengatakan, tahun ini DBD di Pandeglang cenderung semakin luas penyebarannya. “Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang telah terinfeksi virus dengue,” ungkap Kadinkes Deden Kuswan usai membuka rapat Evaluasi Program DBD Kabupaten Pandeglang yang diikuti 36 pengelola Program DBD Puskesmas, Selasa (3/3/2015) kemarin.
Dia mengungkapkan, kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pandeglang selama 2015 sudah ada 50 orang yang dirawat karena terjangkit penyakit ini, dua diantaranya meninggal dunia.
“Pada 2014 lalu, sebanyak 208 kasus DBD ditemukan, tiga diantaranya meninggal,” ungkapnya.
Berdasarkan beberapa kasus yang ditemukan di beberapa wilayah Puskesmas inilah, maka Dinkes Pandeglang melakukan Evaluasi Penanggulangan DBD.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Pandeglang dr. Firmansyah mengatakan, upaya penangggulangan DBD ini diperlukan kerja sama antarlintas sektor dan lintas program. “Kecepatan tindak lanjut penanggulangan dan pengendalian kasus DBD dipengaruhi ketepatan dan kelengkapan laporan, khususnya dari puskesmas dan rumah sakit,” katanya.
Kepala Seksi  Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Pandeglang Yudi Hermawan, SKM mengatakan, perencanaan dalam upaya penanggulangan DBD dengan seluruh pengelola program di Puskesmas sangat dibutuhkan, mengingat sekarang ini masih musim penghujan. “Bagi warga masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir dan endemis DBD agar cepat tanggap untuk segera membersihkan lingkungan sekitar, serta membersihkan sarang nyamuk dan tempat-tempat yang berpotensi berkembangbiaknya jentik nyamuk DBD,” jelasnya.

6 Mar 2015

Puskesmas Bojong Fokus Tangani Gizi Buruk



SEJUMLAH kasus kekurangan gizi yang ditemukan saat penimbangan Posyandu di Kecamatan Bojong  tak selalu menunjukkan hal yang buruk. Ditemukannya anak bawah lima tahun (Balita) yang mengalami kekurangan gizi bisa menunjukkan bahwa program deteksi dini kasus gizi buruk selama ini berhasil seperti dikatakan oleh Kepala Puskesmas Bojong Suhaelianah.
Di Puskesmas Bojong ujar Kepala Puskesmas yang kerap disapa Bidan Eli ini, program gizi dilaksanakan mulai dari penimbangan bayi dan balita untukmelihat tumbuh kembang anak di Posyandu, penyuluhan oleh bidan desa hingga pelayanan penanggulangan kasus gizi buruk oleh tenaga kesehatan gizi (nutrisionis) yang ada di Puskesmas.  “Kondisi balita gizi buruk tahun ini di wilayah Puskesmas Bojong sebanyak 13 kasus, dan terbanyak ada di wilayah Desa Mekarsari,” ujar Bidan Eli usai melakukan pembinaan Posyandu di Kampung/Desa Mekarsari, Kecamatan Bojong, Kamis (26/2/2015).
Menurutnya, kondisi penderita gizi buruk di wilayah kerjanya mengalami penurunan dibanding tahun lalu sebanyak 17 penderita yang ditemukan. “Semua penderita gizi buruk sudah ditangani dengan intervensi pemberian makanan tambahan, dan konseling bagi keluarganya,” ujarnya.
Eli mengatakan kebanyakan kasus anak kurang gizi yang ditemukan karena faktor  pola asuh orang tua dan kemiskinan. “Diantara mereka juga memang ada hambatan untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan, karena alasan ekonomi,” terangnya.
Ditambahkan, tersiarnya kabar berita tentang kasus gizi buruk di wilayah kerjanya merupakan tantangan bagi Puskesmas untuk secara bertahap menuntaskan kasus gizi buruk di wilayah kerjanya. “Saya juga berterima kasih berkat pemberitaan gizi buruk sekarang sudah ada beberapa donatur yang ingin membantu penanganan gizi buruk di wilayah Kecamatan Bojong,” tandasnya.

5 Mar 2015

Waspada DBD, Warga Diimbau Melakukan Gerakan PSN

MESKI belum ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), serangan demam berdarah di Kabupaten Pandeglang tahun ini boleh dibilang memperihatinkan. Belum genap dua bulan saja, dua orang penderita diduga DBD telah meninggal. Sementara selama Januari-Februari 2015 Dinkes Pandeglang  mencatat sudah terjadi 52 penderita DBD yang mendapatkan perawatan.
Oleh karena itu, Dinkes Pandeglang mengimbau masyarakat waspada terhadap penyebaran penyakit yang bisa menimbulkan kematian ini.
“Dinkes sudah menginstruksikan seluruh jajaran Puskesmas waspada dan bersiap siaga sewaktu-waktu menghadapi KLB demam berdarah, karena menurut perkiraan, puncak siklus lima tahunan penyebaran DBD diperkirakan terjadi secara nasional pada 2015,” ungkap Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Pandeglang Yudi Hermawan, kemarin.
Siklus ini, lanjut Yudi, menuntut kesiapan yang lebih, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
Untuk mencegah penyebaran penyakit yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti ini,  masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan kebersihan lingkungan.
"Gerakan PSN lebih efektif untuk mematikan mata rantai penyebaran penyakit DBD dibandingkan dengan pengasapan atau fogging," tandasnya.