11 Jul 2014

Puasa Ramadhan Momentum Berhenti Merokok

Sungguh menyedihkan. Kampanye antirokok yang menjelaskan efek negatif rokok kini sudah tidak mempan akibat masifnya iklan rokok. Perokok masih banyak yang tetap ‘ngebul’ di tempat umum, di rumah atau di dalam mobil, padahal isteri dan anak-anak sebagai perokok pasif menanggung akibatnya.
 
“Kini di bulan suci Ramadhan merupakan momentum yang pas bagi perokok untuk berhenti. Menurut sebuah studi, 95 persen perokok muslim mengaku lebih mudah berhenti ngebul selama bulan suci Ramadhan,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL), Kemenkes RI, Prof. dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, di Jakarta, Jumat.
Menurut Tjandra Yoga, berpuasa 14 jam secara tidak langsung membantu perokok berhenti merokok lebih mudah karena mereka bisa mengendalikan dorongan untuk merokok.

Dia mendorong masyarakat mengkampanyekan anti-merokok dengan mengusung slogan ‘Ramadhan Titik Awal Menuju Berhenti Merokok.”
Dikatakan Tjandra, jika kampanye anti-rokok efektif dilakukan saat Ramadhan, dapat dipastikan pemerintah bisa mengurangi pengeluaran untuk subsidi pasien jantung, kanker paru dan penyakit kronis lainnya.
5 JUTA TEWAS
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), lima juta orang di seluruh dunia meninggal akibat merokok setiap tahunnya. “Jumlah ini tidak termasuk 600.000 non-perokok, termasuk 150.000 anak-anak yang akan mati dari paparan asap rokok,” urainya.
Pada 2030 nanti, jumlah orang yang meninggal karena rokok akan meningkat lagi mencapai 27.400 kematian setiap hari atau 2.280 kematian per jam atau satu kematian setiap tiga detik.
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad (K) menambahkan, seorang ibu hamil akan memaparkan racun rokok kepada janinnya, maka bayi akan lahir dengan berat di bawah normal.
“Bahkan bayi juga bisa mengalami sindroma kematian mendadak atau sudden infant death syndrome (SIDS), serta mengalami gangguan kecerdasan dan celebral palsi,” kata Prijo yang juga Ketua Komnas Pengendalian Tembakau, Jumat.
IQ RENDAH
Berdasarkan penelitian, 86 persen anak yang IQnya rendah adalah anak dari laki-laki perokok. Sedangkan 30 persen wanita yang terkena kanker payudara adalah isteri perokok.
Menurut Prijo, kini anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang makin disesaki risiko penyakit akibat rokok. Tak hanya sebagai perokok pasif bahkan mereka sudah aktif merokok sejak dini.
Paparan asap rokok sejak dini akan mengantarkan anak-anak pada kondisi membahayakan hidupnya. Ada lebih dari 20 jenis penyakit yang terkait dengan tembakau efek adiksi-kecanduan merupakan jalan menuju pemakaian narkoba. (aby)

10 Jul 2014

Puasa Cara Terbaik Berhenti Merokok

SELAIN keberkahan melimpah dan mendapatkan banyak pahala, berpuasa di bulan Ramadan juga membantu orang berhenti dari kebiasaan buruk merokok.

Seperti dikutip Gulftimes dari AP, puasa termasuk salah saru alat untuk mempertahankan  kesehatan dan sangat efektif menyembuhkan berbagai penyakit psikologis dan kelainan jiwa.

"Ramadan melatih para perokok berat untuk hidup sehat dengan menghindari rokok dan kecanduan nikotin untuk hidup normal," kata Dokter RS Family di Rawalpindi Haseeb Sitaar.

Menurutnya, berpuasa membuat orang tetap sehat dan bersih baik fisik maupun rohani, dan berhenti merokok merupakan cara terbaik bagi mereka yang punya infeksi serius.

"Di hari normal, orang cenderung  sulit untuk menahan tidak merokok karena rutinitas yang sibuk, tapi kalau di bulan Ramadan bisa menjauhkan mereka dari merokok, karena selama berpuasa dilarang merokok," ujarnya.

Beristirahat tidak merokok selama sebulan penuh terkadang bisa membuat orang menjadi berhenti total melakukan kebiasaan buruk tersebut.

Meskipun, terkadang orang yang sedang berusaha tidak merokok tersebut menjadi seorang yang pemarah, gelisah, tidak sabar, sulit tidur, dan sulit berkonsentrasi.

"Tapi puasa bisa membantu mereka menjaga kesabaran," kata dia. (tri)

Sumber : antaranews.com

9 Jul 2014

Pemkab Giatkan Gerakan Sayang Ibu

Pemkab Pandeglang kembali menggiatkan Gerakan Sayang Ibu (GSI). Melalui Kelompok Kerja Tetap (Pokjatap) yang terdiri dari lintas program dan sektor terkait, pembinaan GSI diaktifkan guna meningkatkan pengetahuan, kepedulian dan komitmen instansi Pemerintah dan peran serta masyarakat dalam upaya percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) secara integratif dan sinergis untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas.
Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluaraga Berencana (BP3AKB) atas nama Ketua Tim Pokjatap Kabupaten Pandeglang Hj. Tati Suwagiharti mengatakan, pihaknya telah melaksanakan pembinaan sekaligus evaluasi awal kegiatan GSI di tiga kecamatan sayang ibu (KSI) yakni Cisata, Pulosari dan Kecamatan Karangtanjung. “Termasuk didalamnya kami memberikan pembinaan terhadap kegiatan Bina Keluarga Balita dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),” katanya, kemarin.
Selain itu, Pokjatap yang terdiri dari perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diantaranya BP3AKB, Dinkes, Dinas pendidikan, BPMPD, melaksanakan pembinaan di desa siaga, Rumah Sakit Sayang Ibu (RSSI) di RSUD Berkah serta pembinaan disalah satu perusahaan pembina terbaik tenaga kerja perempuan di wilayah Pandeglang.
Kepala Seksi Promosi (Promkes) Kesehatan Dinkes Pandeglang Yudi Hermawan, SKM mengingatkan bahwa GSI merupakan gerakan pemerintah yang dilakukan bersama masyarakat. “Jadi harus ada juga kepedulian dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan, penurunan angka kematian bayi, program ASI eksklusif, kesehatan reproduksi dan peningkatan derajat kesehatan remaja putri ini,” tutur Yudi usai melakukan pembinaan GSI di RSUD Berkah, Rabu (25/6).
Dia mengungkapkan, kegiatan GSI ini rangkaian pembinaan oleh Pokjatap yang digelar mulai tanggal 23 – 27 Juni 2014. “Kegiatan ini pembinaan dan evaluasi awal untuk melihat beragam kegiatan GSI dimuai di kecamatan sayang ibu, desa siaga, RSSI, Puskesmas, Pondok sayang ibu hingga ditingkat warga dan suami siaga,” tandasnya.

7 Jul 2014

Kadinkes Pandeglang Ajak Tetap ber-PHBS di Bulan Ramadhan



BANYAK tantangan yang dihadapi dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Masih banyaknya iklan rokok yang ada di media cetak maupun elektronik, makanan dan minuman cepat saji yang kurang sesuai dengan prinsip gizi seimbang, serta belum diterapkannya kampanye PHBS melalui kawasan tanpa rokok (KTR).
Oleh karena itu, bagaimana upaya penerapan indikator sepuluh PHBS di lingkungan keluarga, tentu sangat tergantung dari kesadaran dan peran aktif masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Sebab, upaya mewujudkan lingkungan yang sehat akan mendukung pola perilaku kehidupan masyarakat yang sehat secara berkesinambungan.
Kepala Dinas Kesehatan (dinkes) Pandeglang H. Deden Kuswan mengatakan PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga, atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan.
“PHBS di rumah tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang menerapkan 10 indokator PHBS yakni persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, serta tidak merokok di dalam rumah,” katanya.
Menurut Kadinkes setiap keluarga dianjurkan untuk melaksanakan semua perilaku kesehatan tersebut, karena banyak manfaatnya diantaranya setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit, anak tumbuh sehat dan cerdas, anggota keluarga giat bekerja hingga menyentuh aspek ekonomi keluarga. “Kalau keluarga sehat akan berdampak pada menurunkan biaya untuk pengobatan, sehingga pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga,” terang H. Deden Kuswan.
Ia mengungkapkan, upaya promosi kesehatan melalui penerapan PHBS di rumah tangga ibarat kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Akan jauh lebih baik untuk menjaga diri tetap sehat daripada mencari pengobatan saat keadaan penyakit sudah berkembang. “Untuk mencapai hidup sehat ini sebenarnya sebuah pilihan bagi masyarakat, tetapi pelaksanaannya memang sangat dipengaruhi oleh keluarga, pengaruh sosial, dan termasuk lingkungan,” ungkapnya.
H. Deden Kuswan menegaskan, berkaitan dengan bulan Ramadhan, pihaknya mengajak warga untuk menerapkan tiga gaya hidup sehat dengan tetap berPHBS seperti makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, serta tidak merokok.
“Bagi perokok, saat ini adalah waktu yang tepat bagi orang yang memiliki tekad yang kuat untuk meninggalkan rokok. Waktu puasa adalah kesempatan yang baik untuk meninggalkan rokok karena sepanjang siang seseorang harus menahan diri dari merokok,” katanya.
Menurut orang nomor satu di Dinkes Pandeglang itu, kunci dari keberhasilan berhenti merokok ini pada dasarnya terletak pada keinginan yang kuat untuk berhenti merokok dan kemudian dengan bulan puasa akan membuat usaha berhenti merokok menjadi lebih mudah.
“Bagi yang masih belum bisa menghentikan kebiasaan merokok, saya mengimbau setiap anggota keluarga untuk tidak merokok di dalam rumah, karena rumah adalah tempat berlindung, termasuk dari asap rokok,” imbaunya.
Dia memaparkan, rokok ibarat pabrik bahan kimia. Dalam satu batang rokok yang diisap akan dikeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya, di antaranya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar, dan Carbon Monoksida (CO). Nikotin menyebabkan ketagihan dan merusak jantung dan aliran darah. Tar menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan kanker. CO menyebabkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen, sehingga sel-sel tubuh akan mati.
“Saya juga mengajak perokok pasif harus berani menyuarakan haknya untuk tidak menghirup asap rokok,” tandasnya.

6 Jul 2014

Integrasi Posyandu - BKB - PAUD Untuk Meningkatkan SDM

PEMBANGUNAN sumberdaya manusia (SDM) untuk mewujudkan manusia yang berkualitas harus di mulai sejak dini (bawah lima tahun/balita red). Kualitas tumbuh kembang  pada masa ini akan menentukan kualitas kesehatan fisik, mental, emosiona, sosial, kemampuan belajar dan perilaku sepanjang hidupnya.
Kepala Bidang Sumberdaya Kesehatan (Kabid SDK) Dinkes Pandeglang dr. H. Kodiat Juarsa, M.Kes, mengatakan berbagai studi menunjukan bahwa periode lima tahun pertama kehidupan anak merupakan masa emas (Golden Period) atau jendela kesempatan (Window Opportunity) dalam meletakan dasar tumbuh kembang seorang anak.
Oleh karena itu Golden Period harus di manfaatkan sebaik mungkin untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Hal itu diungkapkan Kabid SDK Dinkes Pandeglang dr. H. Kodiat Juarsa, M.Kes saat membuka kegiatan pertemuan pengembangan model integrasi Posyandu tingkat Kabupaten Pandeglang, yang digelar di Aula Lt.II Dinkes Pandeglang, Kamis (27/6).
Kegiatan yang melibatkan lintas sektoral ini diikuti 25 peserta  dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan Kabupaten, BP3AKB, BPMPD, Kemenag, Pokja IV TP PKK Kabupaten, Himpaudi Kabupaten, Forum kader posyandu, serta peserta dari unsur ditingkat Kecamatan dari tiga Puskesmas terpilih yakni Banjar, Koroncong dan Cimanuk.
Menurut pria yang akrab disapa dokter Koko ini, upaya pemenuhan kebutuhan dasar oleh pemerintah sudah difasilitasi dalam bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) setempat seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), bina keluarga balita (BKB), maupun pendidikan anak usia dini (PAUD) yang pelayanannya dilaksanakan dengan pelibatan peran serta masyarakat.
“Seyogyanya pelayanan yang sudah ada dan diberikan kepada masyarakat ini harus saling bersinergi dan mampu memenuhi kebutuhan dasar anak secara baik dari segi perawatan, pendidikan dan pengasuhan agar anak tumbuh kembang secara optimal,” katanya.
Ia mengatakan selama ini kegiatan Posyandu, BKB dan PAUD masih terkesan berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan akhir yang tidak ada kaitannya satu sama lain. “Apabila didalami lebih jauh, ketiga kegiatan tersebut sebenarnya dapat diintegrasikan (dipadukan red) karena satu sama lain saling mengisi dan melengkapi, baik dilaksanakan dalam satu waktu dan tempat maupun dengan waktu dan tempat yang terpisah,” jelasnya.
Dikatakan, tujuan integrasi ditunjukan dengan terkoordinasinya kegiatan dan waktu pertemuan  agar tidak saling mengganggu dengan kegiatan lainnya.
“Masing-masing kegiatan tetap berjalan seperti biasanya. Artinya, untuk kegiatan Posyandu sasarannya balita dan masyarakat termasuk ibu hamil dan menyusui dengan fokus kegiatan pertumbuhan dan kesehatan, untuk kegiatan BKB tetap memiliki sasaran ibu balita yang memiliki anak 0-5 tahun dengan fokus mengoptimalkan 9 aspek tumbuh kembang anak, sementara untuk PAUD dengan sasaran langsung balita yang akan memantau tumbuh kembang anak,” tandasnya.
Sebagai tindak lanjut pertemuan ini, tambah dokter Koko, disepakai 9 Posyandu di 3 kecamatan disepakati sebagai model pengembangan integrasi Posyandu di Kabupaten Pandeglang yakni Posyandu Widya Lestari Desa Banjar, Posyandu Melati Bodas Desa Cibodas, dan Posyandu Desa Bandung Kecamatan Banjar, Posyandu Matahari Desa Pasirjaksa, Posyandu Mawar Berkah Desa Koroncong, dan Posyandu Jambu Air Desa Pasirkarag Kecamatan Koroncong, serta Posyandu Dahlia Desa Kadudodol, Posyandu Melati Desa Cimanuk, dan Posyandu Teratai Desa Kupahandap.

5 Jul 2014

Mewujudkan Visi Sehat ala Puskesmas Pagadungan

MENGUSUNG visi menjadikan masyarakat sehat dan mandiri di wilayah kerjanya,
Kepala Puskesmas Pagadungan, Kecamatan Karangtanjung Hj. Eni Rohaniah, S.ST.
mengaku serius menggarap pelayanan kesehatan puskesmas yang langsung
menyentuh pada lapisan masyarakat yang paling bawah dan masyarakat yang
sangat membutuhkan. Salah satu upaya tersebut yakni melalui Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) dengan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) maupun
Upaya Kesehatan Masyarakat(UKM).

"Jaminan kesehatan ini merupakan bentuk perlindungan untuk menjamin
masyarakat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak,
terutama kalau jatuh sakit," terang perempuan berputra tiga kelahiran 7
Juni 1968 itu, Kamis (3/7).

Dia menjelaskan, dengan memberikan layanan UKM puskesmas berfungsi dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit di
masyarakat. "Sedangkan peran Puskesmas dalam UKP sebagai pelayanan
pengobatan dasar yang sesuai dengan standar pelayanan medik," katanya.

Ditambahkan, pelayanan yang menjadi tanggungjawab Puskesmas meliputi rawat
jalan dan rawat inap serta, pelayanan kesehatan masyarakat yang bersifat
publik dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta
mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan.

4 Jul 2014

Merokok, Didenda Rp 50 Ribu - Rp 10 Juta

Pemkab Serang akan memberlakukan denda bagi masyarakat di Kabupaten Serang yang ketahuan merokok di kawasan tanpa rokok. Dalam draf rancangan peraturan daerah kawasan tanpa rokok denda akan diberlakukan Rp 50 ribu bagi warga yang merokok di kawasan tanpa rokok atau diganti dengan kurungan maksimal tiga hari. Selain itu, Pemkab Serang juga mengenakan denda bagi orang atau badan yang menjual atau membeli dan mempromosikan rokok senilai Rp 5 juta atau kurungan paling lama tujuh hari.

Denda paling tinggi dikenakan kepada pimpinan atau penanggungjawab kawasan tanpa tokok yang tidak melakukan pengawasan, membiarkan orang merokok, tidak menyingkirkan asbak atau sejenisnya, dan tidak memasang tanda-tanda dilarang merokok di area kawasan tanpa rokok. Denda diberikan Rp 10 juta atau kurungan paling lama 15 hari. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang Sri Nurhayati mengatakan bahwa pihaknya mengajukan raperda kawasan tanpa rokok karena rokok menjadi pembunuh massal. Setiap tahun ada lima juta orang meninggal dunia karena rokok.

Di Indonesia, ada 92 juta warga yang terpapar asap rokok orang lain setiap hari. Sebanyak 43 juta orang di antaranya adalah anak kecil. Selain itu, rokok juga membunuh satu dari dua pengguna jangka panjang. Indonesia menjadi negara terbesar yang warganya menjadi pengguna rokok dibandingkan dengan Tiongkok dan India. Jika dirupiahkan, setiap hari konsumsi rokok masyarakat Indonesia mencapai Rp 700 miliar, atau Rp 255 triliun dalam setahun. Ironisnya, kata Sri, 70 persen perokok adalah warga miskin.

Di Kabupaten Serang, jumlah perokok aktif mencapai 400 ribu orang dengan perputaran uang Rp 4 miliar sehari dengan asumsi satu orang merokok satu bungkus dengan harga Rp 10 ribu. "Setahun Rp 1,4 triliun. Jadi kalau 70 persennya orang miskin, Rp 900 miliar dikeluarkan orang miskin untuk merokok di Kabupaten Serang," kata Sri saat menyampaikan penjelasan draf raperda kawasan tanpa rokok kepada pansus raperda kawasan tanpa rokok DPRD Kabupaten Serang di ruang paripurna DPRD, Rabu (2/7).

Sri mengatakan bahwa hal demikian tidak bisa dibiarkan terus dan harus ditekan karena memberikan dampak negatif kepada masyarakat. Dari tahun ke tahun, prevalensi kematian akibat penyakit tak menular yang diakibatkan oleh rokok terus meningkat. Kematian mendadak akibat jantung, kanker, paru-paru, gagal ginjal, dan sebagainya terus meningkat. Yang tak kalah membuat miris adalah jumlah perokok anak yang juga terus meningkat pesat dari tahun ke tahun.

Ketua Pansus Raperda Kawasan Tanpa Rokok DPRD Kabupaten Serang Ahmad Zaeni berjanji akan menyelesaikan raperda ini paling lambat Agustus. Zaeni ingin raperda ini menjadi kenang-kenangan yang bermanfaat dari anggota DPRD Kabupaten Serang periode 2009-2014 yang akan berakhir masa jabatannya September mendatang. "Raperda ini bukan untuk melarang merokok, tapi mengatur, menertibkan tempat-tempat yang boleh merokok dan yang tidak. Minimal wilayah-wilayah yang harusnya tidak tersentuh dengan asap rokok seperti di rumah sakit, di tempat ibadah, di sekolah, bisa terlindungi," kata Zaeni. (fikri)

Sumber : bantenraya.com