6 Mei 2012

Sejumlah Puskesmas Diusulkan Naik Status

PANDEGLANG, (KB).- Wakil ketua DPRD Pandeglang, Tengku Abdurahman mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan beberapa status puskesmas di daerah terpencil menjadi rumah sakit. Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Memang sebaiknya ada peningkatan status puskesmas di Cibaliung dan Cikeusik menjadi rumah sakit. Dengan demikian, ada pendekatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang tinggal di daerah terpencil itu,” kata Tengku.

Menurutnya, masyarakat yang berasal dari Pandeglang Selatan selama ini mengalami kesulitan untuk mengakses rumah sakit yang ada di Pandeglang saat ini. Selain jarak tempuh yang terlalu jauh, kondisi jalan yang buruk juga membuat masyarakat tidak bisa menempuh perjalanan lebih cepat.

Untuk itu, ungkap dia, diperlukan peningkatan status puskesmas di Pandeglang Selatan guna menunjang pelayanan kesehatan kepada masyrakat. Dengan begitu, masyarakat di Pandeglang yang sakit, tidak perlu ke rumah sakit Pandeglang, melainkan cukup mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit terdekat.

“Untuk tenaga medisnya, adalah dokter PNS yang ada di Pandeglang. Dalam aturannya, setiap PNS harus siap ditempatkan dimana saja. Karena itu, ada kewenangan bupati untuk menempatkan dokter PNS atau perawat,” katanya.

Tengku juga menjelaskan, jarak tempuh dari Cibaliung ke Pandeglang mencapai tiga hingga empat jam. Dengan jarak tempuh seperti itu, pasien akan lebih menderita. Demikian pula dari Cikeusik menuju RSUD berkah. Bila pelayanan didekatkan,upaya untuk menolong pasien yang menderita sakit akan lebih cepat dilakukan. (H-18)***

5 Mei 2012

Kadinkes Imbau Warga Tidak Panik DBD, Tapi Tetap Waspada


TERKAIT penyakit DBD yang terjadi di wilayah Ciekek Masjid Kecamatan Majasari, Kadinkes Pandeglang H. Iskandar menyatakan fihaknya telah mengambil langkah antisipasi dengan melakukan fogging (pengasapan) di lokasi kejadian dan rumah-rumah warga sekitar untuk membunuh nyamuk Aides Aigyfti. Dia juga mengatakan fihaknya telah menurunkan tim penyelidikan epidemiologi dari Bidang Penanggulangan penyakit Dinkes Pandeglang guna memastikan penyebab penyebaran DBD dan langkah efektif memutus rantai penyebarannya. “Penderita DBD saat ini sedang mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Kami mengimbau warga tidak panik, tetapi harus tetap waspada,” katanya.
Dia mengakui tingginya tingkat perkembangan nyamuk Aides akan ada kecenderungan meningkatkatnya pula penyakit DBD di lingkungan warga. Oleh karena itu dia berharap warga lebih sadar akan pentingnya memberantas sarang nyamuk melalui kegiatan tiga M yakni mengubur, menutup dan  menguras tempat perindukan nyamuk secara berkala sepekan sekali.
Sementara itu soal penderita DBD yang meninggal, Kepala Puskesmas Majasari Mei Wijaya mengakui ada yang meninggal di wilayah kerjanya sepuluh hari yang lalu dan pernah mendapat perawatan di Puskesmas Majasari. “Ya berdasarkan laporan medical record Puskesmas yang meninggal 10 hari yang lalu, kemudian masuk lagi tiga hari yang lalu sebanyak empat orang penderita DBD lainnya ke Puskesmas Majasari, sekarang semua pasien sudah dirujuk ke RSUD Berkah untuk diberikan perawatan intensif”  kata Mei yang dihubungi, kemarin.
Ditambahkan, saat ini pihaknya terus memantau perkembangan penyakit DBD di wilayahnya sambil terus melakukan penyuluhan dan mengajak warga untuk menjaga lingkungan agar terhindar dari DBD.

Diinformasikan sebelumnya dari berbagai media : 
Selama sepekan terakhir, sedikitnya 5 orang warga Kampung Ciekek Masjid, Kelurahan Karaton, Kecamatan Majasari, terserang wabah penyakit deman berdarah dengue (DBD). Bahkan, Minggu (29/4) lalu, satu dari lima orang penderita dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan secara intensif di Rumah Sakit (RS) Serang.
Sementara ke empat orang penderita DBB, yang hingga kemarin masih menjalani perawatan di RS Berkah Pandeglang itu, diantaranya Dede Hermawan (11), Gojali (13), Dede Ibad (11), dan Tiara (1,5). Sementara Ahmad Saiful Iman (10) meninggal dunia.
Orang tua salah seorang penderita DBD meninggal, Tati Suharti, menuturkan, sebelum meninggal, anaknya sempat mengalami deman yang cukup tinggi. Ketika itu Ahmad kemudian dibawa ke Puskesmas setempat untuk mendapat perwatan. Lalu, karena tidak ada perubahan anaknya kemudian di rujuk ke RS Berkah termasuk RS Serang.
"Anak saya sempat di rawat di Puskesmas, karena kondisinya semakin memburuk maka dibawa ke RS Berkah dan kemudian RS Serang. Tetapi tetap saja kesehatan anak saya tidak membaik, dan akhirnya meninggal dunia. Bahkan, sebelum meninggal sekitar pukul 13.00 WIB, anaknya Ahmad beberapa kali sempat mengeluarkan darah dari hidung, bahkan kondisi tubuhnya semakin panas,” paparnya, kemarin.
Sementara Iroh Rohayati (30), ibunda Dede Hermawan mengaku, anaknya sudah dirawat di RS sejak dua hari kemarin. Dikatakan, anaknya mengalami gejala sama seperti anak-anak lainnya di Kampung Ciekek yang menderita DBD.
“Pertamanya anak saya merasakan suhu tubuh yang sangat panas disertai pusing. Lalu kondisi kesehatan Dede terus menurun sehingga dibawa ke RS Berkah,” katanya.
Bukan KLB
Kepala Bagian (Kabag) Rekam Medis, RSU Berkah Pandeglang, Herul Haerullah mengatakan, kejadian DBD di Kampung Ciekek belum bias dikatagirokan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Namun dirinya menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan lingkungan agar terhindar dari berbagai penyakit.
Berdasarkan data RSU Berkah Pandeglang, kata Herul, pada tahun 2011 pihaknya mencatat sebanyak 189 kasus DBD. Sedangkan hingga Mei, pihaknya masih melakukan pendataan secara riil tentang kasus DBD di Pandeglang.
“Tercatat pada bulan Januari ada 18 kasus DBD, Februari 40 kasus DBD dan Maret terdapat 32 kasus DBD. Sedangkan data DBD pada April belum belum melihat data secara rinci,” ungkapnya.
Diterangkannya, wabah penyakit bisa dikatagorikan sebagai KLB jika kapasitas pasien di ruang rawat rumah sakit itu mencapai lebih dari 50 persen.
“Jika kapasitas pasien di ruang rawat itu sudah mencapai lebih dari 50 persen dengan penyakit yang sama dalam satu daerah, maka itu bias dikatakan sebagai KLB,” pungkasnya.

3 Mei 2012

Pengadaan Barang & Jasa : Dinkes Resmi Gunakan SPSE

DINAS Kesehatan (Dinkes) Pandeglang secara resmi menggunakan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) dalam proses pengadaan barang dan jasa (PBJ) untuk tahun anggaran 2012.
Lembaga LPSE Kabupaten Pandeglang selaku penyelenggara pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik (e-procurement) telah merilis berita Rencana Umum Pengadaan Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang tahun anggaran 2012 sejak 27 April 2012 lalu.

Berdasarkan hal itu seluruh tahapan e-procurement DinkesPandeglang secara online sudah dapat diakses mengikuti ketentuan sebagai mana yang diatur http://lpse.pandeglangkab.go.id selaku situs resmi LPSE Kabupaten Pandeglang.

Sebelumnya diinformasikan Dinkes Umumkan Tahapan Procurement secara online melalui situs resminya dialamat di www.dinkespandeglang.com yang diunduh pada Kamis (26/4/2012) pukul 10.58 Wib.


2 Mei 2012

Selamat Jalan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih

SETELAH berjuang melawan kanker paru-paru selama tiga minggu dalam perawatan di Paviliun Kencana RSCM, mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (57) akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu (2/5/2012) pukul 11.41 WIB. Menkes dideteksi menderita kanker sejak Oktober 2010, setahun setelah menjabat sebagai menteri untuk periode 2009-2014.

Selama 1,5 tahun terakhir, Endang Rahayu mulai menjalani perawatan untuk melawan penyakitnya itu, baik di dalam maupun di luar negeri, hingga akhirnya tiga minggu yang lalu dia dilarikan ke RSCM karena merasa nyeri di tubuhnya.

Pengobatan yang selama ini telah dijalani mantan Menkes antara lain radiasi lokal dan bedah beku, tujuannya untuk mengobati kanker secara lokal serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Kondisi mantan Menkes mengalami penurunan sejak dua hari yang lalu dan berada dalam kondisi kritis sejak Selasa (1/5/2012) pagi. Ia dimasukkan dalam perawatan ICU.

Namun, sel kanker yang telah menyebar ke bagian lain di tubuhnya membuat Endang Rahayu akhirnya wafat, meninggalkan seorang suami, Dr Reanny Mamahit, SpOG, MM, dua putra dan satu putri. Putra pertama bernama Arinanda Wailan Mamahit, putra kedua bernama Awandha Raspati Mamahit, dan anak putri paling kecil bernama Rayinda Raumanen Mamahit. 

Perjalanan Karier

Nama Endang Rahayu Sedyaningsih mulai dikenal luas sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatnya menjadi Menteri Kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II pada Oktober 2009. 

Penunjukan menteri kelahiran Jakarta, 1 Februari 1955, oleh Presiden Yudhoyono itu cukup mengejutkan karena diumumkan di saat-saat terakhir.

Sebelumnya, nama Endang tidak pernah disebut dalam daftar nama calon menteri yang diuji Presiden hingga hari-hari terakhir pengumuman susunan kabinet. Sebagian besar orang mengira posisi yang sebelumnya ditempati Siti Fadilah Supari itu akan diisi istri mantan Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek, Nila Djuwita Moeloek.

Bahkan, Nila Moeloek sudah sempat menjalani pemeriksaan kesehatan di RSPAD Jakarta bersama dengan para kandidat menteri yang lain. 

Endang Rahayu yang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan kemudian diangkat menjadi Menteri Kesehatan periode 2009-2014. Ia berjanji akan melakukan reformasi di sektor kesehatan. 

Endang memperoleh gelar sarjana pada tahun 1979 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan melanjutkan spesialisasi Kesehatan Masyarakat di Harvard School of Public Health di Boston, Amerika Serikat, tahun 1992. Ia kemudian mengambil program doktor, juga di Harvard dan lulus pada 1997.

Endang juga pernah berkarier di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Geneva, Swiss, di bidang penanganan penyakit menular dan memegang peran penting. Dia menjabat sebagai penasihat teknis pada Departemen Penyebaran Penyakit dan Respons di Geneva, Swiss, tahun 1997-2006.

Endang Rahayu Sedyaningsih mengundurkan diri dari jabatan sebagai Menteri Kesehatan pada 29 April 2012. Ia menyampaikan pengunduran diri ini kepada Presiden Yudhoyono yang datang menjenguknya di RSCM.

Presiden menerima pengunduran diri Endang dan menunjuk Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti untuk menjalankan tugas kementerian beserta pejabat-pejabat Kementerian Kesehatan lainnya.


Sumber : Kompas.Com

Kanker Hentikan Endang Sedyaningsih...


SELASA malam (1/4) seorang teman jurnalis mengirim pesan: Menteri Kesehatan non aktif, Endang Sedyaningsih, dalam kondisi kritis. Sejak tiga pekan lalu, perempuan dokter ahli ginekologi dan obstetri itu dirawat super intensif oleh tim dokter di Paviliun Kencana, RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.

Perkembangan kondisi kesehatan Sedyaningsih, menurut keterangan-keterangan hasil wawancara para tokoh yang menjenguk, memang "stabil" atau dikatakan "bertahan". Pers yang menunggui di selasar paviliun VIP RS Cipto Mangunkusumo secara bergantian tidak diijinkan menemui menteri kesehatan; itu sudah jelas.

Akan tetapi, pada pukul 11.43 WIB Rabu, dalam usianya yang 57 tahun, kabar sudah berubah bahwa ibu dua anak lelaki dan satu anak perempuan itu telah berpulang selamanya... 

Sel-sel kanker telah menggerogoti paru-paruperempuan tamatan program doktoral Harvard School of Public Health, Boston, Amerika Serikat, pada 1992. Pada saat dia dirawat di paviliun itu, diketahui stadium kanker paru-parunya telah ada di tingkatan empat alias parah. 

Karena merasa tidak bisa lagi memikul tugas dan kewajiban sebagai menteri, dia mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Susilo Yudhoyono, yang sempat menjenguk. Namun Yudhoyono tidak langsung menunjuk pengganti definitifnya.

Dengan kepergian perempuan bernama lengkap Endang Rahayu Sedyaningsih, yang menikah dengan kolega dokternya, Dr Reanny Mamahit, ini maka Kabinet Indonesia Bersatu II telah dua kali kehilangan tokoh-tokoh pentingnya. Yang pertama adalah Wakil Menteri ESDM, Widjajono Partowidagdo, pada 21 April lalu, dalam pendakiannya ke puncak Gunung Tambora, NTB.

Nama Sedyaningsih sempat menjadi kontroversi menjelang perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II oleh Presiden Susilo Yudhoyono, tahun lalu. Saat itu, menteri kesehatan adalah Siti Fadilah Supari dan orang yang disebut-sebut akan menjadi pengganti adalah Nola Moeloek. Akan tetapi setelah rangkaian uji kepatutan dan kelayakan, nama Sedyaningsih inilah yang diumumkan Yudhoyono di Cikeas, saat itu.

Sebenarnya saat itu, tidak ada hal menonjol terjadi di khasanah kesehatan nasional yang bisa melatari penggantian Supari dari posisinya. Jika ada, beberapa bulan sebelumnya terjadi penyebaran flu burung H5N1 dan sebelumnya flu babi (swine influenza) H1N1, yang memang cukup menyita perhatian pemerintah dan masyarakat umum.

Bicara keperluan mengganti menteri, Yudhoyono dan wakilnya, Boediono, menyadari ada sejumlah pos saat itu yang harus lebih direvitalisasi agar target kerja kabinet bisa dipenuhi. Tidak banyak yang paham benar penyebab pos di Kementerian Kesehatan masuk dalam daftar.

Yang bisa dirunut saat itu adalah Supari menyoalkan pengiriman dan penyimpanan spesimen virus flu burung H5N1 dari Indonesia kepada WHO dengan kepentingan penelitian pembuatan vaksin antinya. WHO bertanggung jawab mewujudkan kesehatan penduduk dunia, dimana Indonesia menjadi anggota WHO.

Di sinilah kemudian kisah bermula karena bagi negara-negara di lintang menengah-tinggi, terkena virus H5N1 bisa menjadi malapetaka sangat serius. Virus ini jauh lebih berbahaya ketimbang virus flu babi H1N1, apalagi jika sudah bisa bermigrasi dari manusia ke manusia yang di negara tropis daya penduduknya dianggap lebih ketimbang wilayah lain dunia.

Jika sampai menyebar luas, dunia bisa mengalami pandemi flu burung dan derivat-derivatnya.

Oleh Supari, pertanyaan kepada WHO itu berimbas pada berbagai institusi penelitian manca negara di Indonesia. Di antara paling terkait adalah Naval Medical Research Unit 2 atau NAMRU 2 yang berlokasi di belakang Kompleks Badan Pengawasan Obat dan Makanan Kementerian Kesehatan, di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. 

Supari membekukan aktivitas NAMRU 2 pada 2008 dengan alasan kerangka kerja sama bilateral penelitian penyakit tropis dan virologis tentang itu telah berakhir pada 2005 sejak 1970. Di seluruh dunia, terdapat enam stasiun penelitian penyakit tropis dan virologis; yang di Indonesia tidak banyak diketahui wartawan. Khusus Indonesia, adalah pemerintah Indonesia yang "mengundang" Amerika Serikat mendirikan fasilitas militer itu pada 1970.

Aktivitas badan milik Angkatan Laut Amerika Serikat di Jakarta ini tidak jelas benar. Untuk bisa masuk ke dalam lingkungan perkantoran NAMRU 2 yang dijaga ketat personel militer Amerika Serikat saja tidak mungkin tanpa ijin khusus dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Yang bisa diketahui umum cuma ada aktivitas penelitian Amerika Serikat di sana. 

Pula, sudah cukup lama situs resmi NAMRU tidak bisa lagi diakses.

Sedyaningsih pernah menjadi penasehat teknis pada Departemen Penyebaran Penyakit dan Respons, di Jenewa, Swiss, di mana WHO berkantor pusat. Posisi itu dia raih setelah merampungkan pendidikan strata dua dan tiganya di Harvard School of Medicine. 

Lebih khusus lagi, dia juga menjadi direktur Pusat Penelitian Biomedik dan Farmasi dan Pengembangan Program di Kementerian Kesehatan Indonesia sejak 2007 setelah menjadi koordinator penelitian flu burung pada 2006. 

Taklimat perdana Sedyaningsih kepada pers pada 24 Oktober 2009 tentang NAMRU 2 ini. Dia menyatakan --saat itu-- NAMRU 2 dioperasikan lagi setelah sempat ditutup pendahulunya. Namun yang berbeda kali itu adalah NAMRU 2 tidak lagi melakukan aktivitas militernya; dibatasi hanya pada kerja sama sipil belaka.

Nama NAMRU 2 juga diubah menjadi Indonesia-United States for Medical Research (UIS). Menurut satu media massa luar negeri, Sedyaningsih tidak pernah membantah kedekatannya dengan NAMRU 2.

Apapun itu, kini Endang Rahayu Sedyaningsih telah berpulang... Adalah kefanaan menjalani perjuaangan mengatasi kanker yang menghentikan perjalanannya. Selamat tinggal, Ibu Endang Sedyaningsih... (*) COPYRIGHT © 2012

Menkes Endang Rahayu tutup usia


Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih meninggal dunia pada usia 57 tahun di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Rabu (02/05).
Endang sejak beberapa pekan terakhir dirawat intensif di RSCM karena penyakit kanker paru-paru yang beberapa tahun ini menderanya.
''Menteri Kesehatan meninggal pukul 11:41 siang,'' kata Direktur Utama RSCM Akmal Taher.
Belum diketahui kapan dan dimana Menteri Kesehatan akan dimakamkan, tetapi menurut rencana jenazah akan disemayamkan di Kementerian Kesehatan Jakarta.
Kamis (26/04) ia telah menyampaikan pengunduran dirinya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan tugas menteri kesehatan untuk sementara dijabat oleh wakilnya Ali Gufron.
"Ibu Endang beberapa waktu lalu secara resmi memintakan pengunduran diri beliau kepada Saya. Tujuannya supaya bisa konsentrasi untuk kesehatan beliau," kata Yudhoyono usai menjenguk Endang saat itu.
"Saya terharu tetapi saya harus menghormati bahwa beliau harus berkonsentrasi untuk pengobatan yang sedang dilakukan dan saya setujui pengunduran diri beliau," kata dia.
Lahir di Jakarta pada 1 Februari 1955, Endang menikah dengan Reanny Mamahit dan memiliki dua putra dan satu putri.
Ia dilantik sebagai menteri di Kabinet Indonesia Bersatu II pada 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes sejak 2007.
Ia memperoleh gelar sarjana pada tahun 1979 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan melanjutkan spesialisasi Kesehatan Masyarakat di Harvard School of Public Health di Boston, Amerika Serikat tahun 1992. Program doktor dia ambil di bidang dan kampus yang sama dan lulus pada 1997.
Ia dideteksi menderita kanker paru pada Oktober 2010 dideteksi menderita kanker paru dan telah menjalani pengobatan selama kurang lebih satu setengah tahun di dalam dan di luar negeri.

Sumber : BBC Indonesia

28 Apr 2012

Bidan Diminta Segera Urus STR


PENGURUS Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Pandeglang meminta para bidan segera mengurus kelengkapan administrasi Surat Tanda Registrasi (STR). Ketua IBI Pandeglang Hj. Eniyati, SKM mengatakan, STR sangat diperlukan para bidan sebagai salah satu syarat mengajukan Surat Ijin Praktek Bidan (SIPB).
“Setiap bidan wajib memiliki STR. Ketentuan ini berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1796/Menkes/Per/VIII/2011tentang Registrasi Tenaga Kesehatan,” ujar Eniyati, Jum’at (27/4) akhir pekan kemarin.
Dia menjelaskan, STR merupakan regulasi pemerintah untuk menggantikan Surat Ijin Bidan (SIB) sebelumnya yang diperuntukan bagi Bidan berpendidikan Diploma Satu (D-1). Mulai tahun ini kata Eniyati, untuk memperoleh STR, bidan lulusan Akademi Kebidanan tahun 2012 keatas harus memilki ijazah D-3 Kebidanan dan sertifikasi kompetensi dari lembaga pendidikan yang bersangkutan.
“Ijazah dan sertifikasi kompetensi diberikan kepada peserta didik setelah dinyatakan lulus ujian program pendidikan dan uji kompetensi,” jelasnya.
Sementara untuk kelulusan D-3 kebidanan 2011 kebawah, Eni mengatakan para bidan mendapatkan “pemutihan” (pengecualian red) sehingga tidak perlu mengikuti uji kompetensi. “Bidan bisa langsung mengurus STR secara kolektif melalui pengurus IBI Cabang Pandeglang,” ujarnya.
Untuk tahun 2012 ini lanjut Eniyati yang juga Kepala Seksi Kesehatan Ibu dan Anak (Kasie KIA) Dinkes Pandeglang, pihaknya menargetkan pengiriman berkas usulan STR bidan asal Pandeglang kepada Ketua Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) di Kemenkes RI, Jakarta dalam dua gelombang yakni Januari dan Juli.
“Awal Januari 2012 lalu kami telah mengusulkan 90 untuk diterbitkan STR oleh MTKI, sisanya kami masih melakukan pemberkasan secara bertahap dengan prioritas Bidan yang memiliki SIPB dengan masa berlaku sampai akhir tahun 2012,” ungkapnya.
Namun demikian ditegaskan Eni, jika SIPB masa berlaku saat ini sudah habis tetapi belum memiliki STR, dia menganjurkan untuk tetap segera mengajukan perpanjangan SIPB sementara yang hanya berlaku selama tiga bulan.
Ditambahkan, bagi para bidan yang masih memiliki surat ijin praktik dengan masa berlaku tahun 2013 keatas diminta bersabar mengingat SIB dan SIPB yang ada saat ini, masih diakui keabsahannya sesuai masa berlaku surat ijin yang dikeluarkan pejabat yang berwenang. (mr.adesetiawan@gmail.com)***