10 Jun 2012

RAP : 'Penderita Gangguan Jiwa Jangan Dipasung'


Salah seorang warga Kabupaten Lebak penderita gangguan jiwa dipasung yang berhasil dievakuasi Relawan Anti Pasung (RAP) setelah dua tahun dalam kungkungan balok pasung. Foto diambil Kamis (7/6) kemarin.

GERAKAN bebas pasung tidak akan dapat menjadi kenyataan tanpa kesiapan dan dukungan masyarakat. Karenanya, pasien gangguan jiwa perlu mendapat perhatian yang memadai, terlebih masih banyak penderita yang dipasung.
“Kebanyakan pasien-pasien  dengan gangguan jiwa yang dipasung karena ketidaktahuan masyarakat bagaimana cara membawanya ke fasilitas Rumah Sakit dan biasanya sudah di bawa ke orang pintar (dukun, kiyai dan pengobatan alternatif lainnya red), dikarenakan tidak kunjung sembuh akhirnya dipasung,” kata Koordinator Relawan Anti Pasung (RAP)  Hj. Mei Wijaya, SKM, MARS seusai mengevakuasi pasien gangguan jiwa dan korban pasung di wilayah Kabupaten Pandeglang dan Lebak, kemarin.
Dia berharap keluarga dengan anggota keluarga gangguan jiwa jangan dipasung, melainkan diberi pengobatan yang rasional dengan membawanya ke rumah sakit jiwa.
Menurutnya, secara langsung pemasungan penderita gangguan jiwa sudah tidak mengganggu, akan tapi secara tidak langsung teriakannya, ocehannya dan nyanyiannya tetap mengganggu masyarakat sekitarnya.
“Pemasungan ternyata bukan solusi disamping memang melanggar HAM. Oleh karena hal tersebut Rumah Sakit Bersalin (RSB) permata ibunda bekerja sama dengan RSJ Grogol, Jakarta untuk membebaskan pasien dengan gangguan jiwa yang dipasung,” kata Mei yang juga Manajer RSB Permata Ibunda Pandeglang itu.
Dijelaskan, pada Kamis, 7 Juni 2012,  pihaknya telah menjemput delapan penderita gangguan jiwa korban pasung, dari Kecamatan Karangtanjung (2), Majasari (2), Banjar (3) dan seorang dari Desa Pasirtangkil Kec. Warunggunung Kab. Lebak.
Program ini, tutur Mei sudah berlangsung sejak tiga tahun lalu dan evakuasi kemarin adalah penjemputan sudah yang ke-5 kali.
“Jumlah pasien gangguan jiwa dipasung yang sudah kami evakuasi secara keseluruhan ke RSJ Grogol sebanyak 32 orang dan yang kami intervensi untuk berobat jalan sebanyak 86 orang. Mereka tersebar di delapan kecamatan di Pandeglang,” ungkap Mei yang mengaku mulai membantu mencari pasien gangguan jiwa yang dipasung sejak dicanangkan oleh Menkes RI " Indonesia bebas pasung 2014 " pada September 2009. (mr.adesetiawan@gmail.com)***

9 Jun 2012

RSB Permata Ibunda – RSJ Grogol Kerja Sama Bebaskan Pandeglang dari Korban Pasung


RUMAH Sakit Bersalin (RSB) Permata Ibunda Pandeglang bekerja sama dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grogol Jakarta untuk membebaskan pasien-pasien dengan gangguan jiwa yang dipasung di wilayah Pandeglang- Banten.
Menurut pendiri RSB Permata Ibunda sekaligus penyandang dana kegiatan pembebasan korban pasung Dr. H. Suradal Sastradibrata, SPOG kegiatan yang dilakukannya sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah untuk mewujudkan Indonesia bebas Pasung.
“Kebanyakan pasien dengan gangguan jiwa yang dipasung karena ketidaktahuan masyarakat bagaimana cara membawanya ke fasilitas kesehatan atau Rumah Sakit dan biasanya sebelumnya sudah dibawa ke orang pintar seperti dukun dan pengobatan alternatif lainnya. “Karena tidak kunjung sembuh akhirnya penderita dipasung,” katanya.
Untuk melakukan gerakan pembebasan korban pasung, pihaknya membentuk tim relawan anti pasung (RAP) sejak tahun 2009 untuk wilayah Kabupaten Pandeglang.
Untuk mendapatkan informasi korban pasung, tambah Suradal  yang juga dokter spesialis kandungan RSUD Berkah Pandeglang itu. “Kami membentuk tim relawan yang terdiri dari masyarakat yang peduli, kader posyandu dan atau keluarga pasien yang pernah menderita gangguan jiwa tetapi sudah disembuhkan,” ungkapnya.
Menurut pemaparannya, teknis penjemputan bila ada laporan dari tim relawan pemantau, pihaknya akan melakukan kunjungan ke lokasi korban pasung untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.  “Setelah terkumpul minimal lima orang kami mengajukan permohonan ke RSJ Grogol untuk dijemput dan selanjutnya diobati,” terangnya.
Ditegaskan, secara langsung penderita gangguan tidak mengganggu karena sudah dipasung. Kendati demikian tetap saja secara tidak langsung teriakannya, ocehannya dan nyanyiannya mengganggu masyarakat sekitarnya. “Pemasungan bukan solusi bagi penderita gangguan jiwa, disamping pasung itu melanggar hak azasi manusia (HAM),” tegasnya. (mr.adesetiawan@gmail.com)

Pemasungan Bukan Solusi Tepat Atasi Penderita Gangguan Jiwa

Salah seorang warga Pandeglang penderita gangguan jiwa dipasung yang berhasil dievakuasi Relawan Anti Pasung (RAP) setelah 3 tahun dalam kungkungan balok pasung. Foto diambil Kamis (7/6) kemarin.
SEPULUH tahun sudah Farhul alias Memed (47) menghabiskan waktunya di dalam kamar yang selalu terkunci rapat diantara beberapa kamar yang ada di rumah milik keluargannya di Kampung Kotamanik, Kelurahan Kadumaerak, Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang.
Ruangan kamar berdiameter sekitar 3 x 4 itu, khusus disediakan pihak keluarga untuk ditempati Fahrul seorang yang menderita gangguan kejiwaan.
Di ruangan kamar layaknya ruangan isolasi itu, selain terasingkan dari hiruk pikuk  orang diluar sana, Fahrul yang sebelumnya sempat memiliki istri dan lima orang anak, yang kini sudah meninggalkannya itu terpasung dengan kondisi tangan terikat di dalam ruang kamar tersebut.
Belenggu dikedua tangan yang dipasang pihak keluarga terhadap dirinya itu, bukan tidak ada alasan. Mengingat pria yang sudah memasuki usia paruh baya ini, kerap mengamuk dan dikhawatirkan membayakan keselamatan orang lain, anggota keluarga yang ada dan bahkan dirinya sendiri.
Apa yang dialami Fahrul ternyata tak sendirian. Pemasungan juga banyak dialami beberapa warga yang juga memiliki kelainan jiwa di wilayah Kabupaten Pandeglang.
Untuk itu, Kamis (7/6) kemarin Relawan Anti Pasung (RAP) Pandeglang bekerjasama dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Soeharto Herjan Grogol Jakarta, melakukan upaya pembebasan sekaligus evakuasi korban pasung agar masyarakat atau pihak keluarga tidak melakukan pemasungan terhadap penderita gangguan jiwa. Seharian itu, sekitar delapan  orang korban pasung dari berbagai kecamatan di Pandeglang dan Kabupaten Lebak berhasil dievakuasi ke RSJ Grogol untuk diberikan bantuan pelayanan pengobatan rawat inap.
Koordinator Relawan Indonesia Bebas Pasung Kabupaten Pandeglang, Hj. Mei Wijaya, SKM, MARS mengatakan, pihaknya telah menjemput delapan penderita gangguan jiwa korban pasung tersebar di beberapa tempat diantaranya Kecamatan Karangtanjung (2), Majasari (2), Banjar (3) dan seorang dari Desa Pasirtangkil Kecamatan Warunggunung Kabupaten Lebak. “Ke delapan penderita ganguan jiwa itu kami bawa ke RSJ Grogol untuk mendapatkan pelayanan pemulihan kesehatan,” katanya.
Menurutnya, program ini sudah berlangsung sejak 2009. Dimana pihaknya selama itu dengan dibantu tim RAP mencari pasien gangguan jiwa yang di pasung untuk kemudian di bawa ke RSJ untuk diberikan pemulihan. “Jumlah pasien gangguan jiwa dipasung yang sudah kami evakuasi dan menjalani pengobatan rawat inap di RSJ Grogol sebanyak 32 orang,” ungkapnya.
Dia mengatakan, kebanyakan pasien dengan gangguan jiwa yang di pasung karena ketidaktahuan masyarakat bagaimana cara menangani dan minimnya akses informasi bagaimana cara membawa ke fasilitas Rumah Sakit yang memiliki fasilitas pelayanan kesehatan jiwa. "Kebanyakan masyarakat malah lebih memilih membawa pasien ke orang pintar, dukun atau pengobatan alternatif semacamnya," ungkapnya. 
Menurut Mei yang juga Manager RSB Permata Ibunda, pemasungan bukanlah solusi tepat mengatasi penderita dengan gangguan kejiwaan.  “Pemasungan bukan solusi, disamping itu melanggar hak azasi manusia (HAM),” tuturnya. (H-38)***

Delapan Korban Pasung Dibebaskan Relawan Anti Pasung


Salah seorang warga Pandeglang penderita gangguan jiwa dipasung yang berhasil dievakuasi Relawan Anti Pasung (RAP) setelah 3 tahun dalam kungkungan balok pasung. Foto diambil Kamis (7/6) kemarin.

SEBANYAK delapan penderita gangguan jiwa yang dipasung keluarganya dibebaskan Tim Relawan Anti Pasung  (RAP) Kabupaten Pandeglang, Kamis (7/6) kemarin.
Koordinator Indonesia Bebas Pasung  Hj. Mei Wijaya melalui release menjelaskan, pihaknya telah membebaskan dan menjemput delapan penderita gangguan jiwa korban pasung untuk diberi pengobatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grogol Jakarta.
“Mereka yang dibebaskan dari pasung dan dievakuasi terdiri dua orang dari Kecamatan Karangtanjung, dua orang dari Majasari Pandeglang, tiga orang asal Banjar Pandeglang, dan seorang dari Desa Pasirtangkil Kecamatan Warunggunung Kabupaten Lebak,” kata Hj. Mei Wijaya, kemarin.
Menurut Mei yang juga Manager RSB Permata Ibunda Pandeglang, kedelapan korban pasung terdiri dari masing-masing empat orang perempuan dan empat orang laki-laki. “Program ini sudah kami lakukan sejak tiga tahun lalu sejak Oktober 2009,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, pembebasan pasung sekaligus evakuasi penderita gangguan jiwa dilaksanakan sudah yang kelima kali. “Korbannya tersebar di sembilan kecamatan di wilayah Kabupaten Pandeglang dan Lebak,” katanya.
Kesembilan kecamatan yang sudah diintervensi tim RAP yakni Kecamatan Majasari, Pandeglang, Cadasari, Mekarjaya, Banjar, Kaduhejo, Saketi, dan Jiput serta Kecamatan warunggunung Kabupaten Lebak.
“Sistem kerja kami membebaskan korban dari pasung dan mengevakuasinya ataupun mengintervensi pasien gangguan jiwa untuk diobati di RSJ Grogol,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, jumlah pasien gangguan jiwa dipasung yang sudah dievakuasi (berobat rawat inap) secara keseluruhan ke RSJ Grogol sebanyak 32 orang dan yang diintervensi untuk berobat jalan sebanyak 86 orang.
“Saya mulai membantu mencari pasien gangguan jiwa yang dipasung sejak dicanangkan oleh Menkes  ‘Indonesia bebas pasung 2014’ pada bulan September 2009,” ungkapnya.

Ditambahkan, sistem kerja yang digunakan untuk mengevakuasi ataupun mengintervensi pasien-pasien penderita gangguan jiwa dilakukan bila ada laporan kepala puskesmas, Kader posyandu atau kerabat pasien. “Kami akan melakukan kunjungan rumah, dan hasilnya kami laporkan ke RSJ Grogol, kemudian tim grogol datang menjemput, seperti yang dilakukan kemarin,” tandasnya. 
Kerja Sama RSB Permata Ibunda – RSJ Grogol
Sementara itu Dr. Suradal, SPOG selaku penyandang dana kegiatan pembebasan korban pasung di wilayah Pandeglang menyatakan mendukung Indonesia bebas Pasung. Oleh karena hal tersebut kata Suradal yang juga pemilik RSB Permata Ibunda itu, pihaknya bekerja sama dengan RSJ Grogol untuk membebaskan pasien-pasien dengan gangguan jiwa yang dipasung.
“Kebanyakan pasien dengan gangguan jiwa yang dipasung karena ketidaktahuan masyarakat bagaimana cara membawanya ke fasilitas kesehatan atau Rumah Sakit dan biasanya sebelumnya sudah dibawa ke orang pintar seperti dukun dan pengobatan alternatif lainnya. “Karena tidak kunjung sembuh akhirnya penderita dipasung,” katanya.
Menurutnya, secara langsung penderita gannguan tidak mengganggu karena sudah dipasung . Kendati demikian tetap saja secara tidak langsung teriakannya, ocehannya dan nyanyiannya mengganggu masyarakat sekitarnya.
“Pemasungan bukan solusi bagi penderita gangguan jiwa, disamping pasung itu melanggar HAM,” katanya.
Untuk mendapatkan informasi korban pasung, tambah Suradal  yang juga dokter spesialis kandungan RSUD Berkah Pandeglang itu, pihaknya membentuk tim relawan yang terdiri dari masyarakat yang peduli, kader posyandu dan keluarga pasien.
“ Teknis penjemputan bila ada laporan dari tim relawan pemantau kami melakukan kunjungan ke lokasi korban pasung untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.  Setelah terkumpul minimal lima orang kami mengajukan permohonan ke RSJ Grogol untuk dijemput dan selanjutnya diobati,” terangnya. (mr.adesetiawan@gmail.com)***

6 Jun 2012

UKS Wahana Investasi Masa Depan Anak untuk Hidup Sehat


MENGHADAPI Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat nasional tahun 2012, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Pandeglang terus berbenah mulai penataan lingkungan hingga peningkatan kapasitas pengetahuan  siswa tentang kesehatan. 
Sebagai juara LLS untuk kategori SLTA tingkat Banten, salah satu sekolah favorit di Pandeglang  ini merupakan wakil provinsi untuk bersaing dengan SMA lainnya di seluruh Indonesia. Karena itu wajar jika Gubernur Banten dalam kesempatan meninjau pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di SMP Negeri 1 Karangtanjung, mengagendakan untuk meninjau persiapan LSS  di SMAN 1 Pandeglang, Selasa (24/4) kemarin.
Didampingi para pejabat Pemprov Banten, Gubernur Ratu Atut Chosiyah melakukan audiensi dengan Kader Kesehatan Remaja (KKR) serta dewan guru di ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) SMAN 1 Pandeglang. Dalam kesempatan tersebut Gubernur mengkampanyekan  tentang pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan sekolah. Perhatian yang begitu besar terhadap program PHBS di sekolah yang ditunjukan Gubernur Atut itu bagian dari apresiasinya terhadap program kesehatan di Kabupaten Pandeglang. Oleh karena itu, pernyataan Gubernur Banten itu patut ditindaklanjuti secara sungguh-sungguh oleh SKPD terkait mengingat keberadaan wahana UKS merupakan salah satu bentuk investasi masa depan anak untuk hidup sehat.
Disela kunjungan itu Atut juga memberikan paket bantuan berupa UKS Kit yang diperuntukan bagi kelengkapan ruang UKS dan bantuan lainnya bagi sekretariat Tim Pembina UKS Kabupaten Pandeglang.
Hadir dalam kunjungan tersebut, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Pandeglang Hj. Siti Erna Erwan, Asisten daerah (Asda) Bidang Ekbang Utuy Setiadi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pandeglang H. Iskandar, Kepala Disdik Abdul Aziz serta sejumlah pejabat Pandeglang lainnya
Sementara itu, Kadinkes Pandeglang H. Iskandar mengatakan, pembinaan sekolah sehat merupakan bagian dari program UKS. “Secara berkala Puskesmas melakukan kunjungan pembinaan ke sekolah-sekolah yang ditujukan untuk penjaringan anak sekolah dalam rangka pemeriksaan kesehatan murid mulai SD sampai tingkat SLTA,” kata Iskandar didampingi Kepala Bidang Sumberdaya Kesehatan (Kabid SDK) Akhrul Aprianto.
Akhrul Aprianto menambahkan, dalam pembinaan tindak lanjut, Puskesmas juga membentuk kader kesehatan di sekolah guna menjalankan program UKS di tingkat sekolah. Sebutan kader kesehatan kata Akhrul yakni Dokter Kecil untuk tingkat SD. “Sedangkan untuk sekolah lanjutan disebut KRR,” pungkasnya.

5 Jun 2012

SMAN 1 Pandeglang Dinominasikan Juara LSS Nasional


DALAM rangka seleksi nasional lomba sekolah sehat (LSS), tim penilai pusat yang terdiri dari unsur Depdagri, Kemenkes, Kemendiknas dan Kemenag berkunjung ke SMAN 1 Pandeglang, Selasa (29/5)
Koordinator Tim Penilai LSS tingkat nasional dr. Sri Kusminarti, M.Kes mengatakan, kunjungannya dilakukan dalam rangka meninjau langsung salah satu nominator juara LSS tingkat nasional. Menurutnya, SMAN 1 Pandeglang merupakan wakil Provinsi Banten dan merupakan 24 nominator yang diseleksi secara nasional dalam rangka LSS 2012.
Dalam kesempatan tersebut, Tim penilai pusat yang berjumlah 9 orang memberikan penilaian langsung di lokasi SMAN 1 Pandeglang berupa observasi langsung mengamati lingkungan fisik serta sarana dan prasarana sekolah. Selain itu tim memberikan penilaian melalui diskusi kelompok terarah (DKT) terhadap perwakilan siswa dan siswi, wawancara mendalam dengan guru UKS sekolah, guru BP dan guru olah raga.
Dalam sambutannya, ketua Tim   dr. Sri Kusminarti, M.Kes menyatakan apresiasi terhadap prestasi yang telah diraih SMAN 1 Pandeglang. Dia mengemukakan pentingnya program UKS sebagai salah satu sarana strategis dalam rangka pembinaan mental, spiritual dan fisik anak didik untuk mencapai derajat kesehatan.
Dia berharap pembinaan sekolah sehat terus diupayakan berkala serta dilakukan secara lintas program dan lintas sektoral secara berkala ada atau tidak ada lomba.
Hadir dalam acara tersebut Tim Pembina UKS Provinsi Banten, TP UKS Kabupaten Pandeglang, Ketua TP PKK Pandeglang Hj. Siti Erna Erwan, Kabag Humas Anwari Husnira, Kadinkes Pandeglang H. Iskandar serta sejumlah kepala SKPD dan pejabat Pemkab lainnya.
Kepala Dinas pendidikan Kabupaten Pandeglang Abdul Aziz dalam sambutannya mengatakan Keberhasilan Provinsi Banten dan Kabupaten Pandeglang  yang diwakili SMAN 1 Pandeglang dalam LSS  tidak terlepas dari kerja keras semua jajaran Aparatur Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Pandeglang yang tergabung dalam Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah  dan tim pelaksana UKS di tingkat sekolah.
Kepada Tim Penilai dimohon penilaian lomba sekolah sehat tingkat nasional dia berharap tidak hanya menilai segi fisik saja. “Karena secara penampilan fisik sekolah kami mungkin akan kalah megah dibandingkan SMA di kota besar,” katanya.
Kepala SMAN 1 Pandeglang Efi Saepudin mengatakan sejumlah prestasi yang telah dicapainya dalam program UKS seperti perubahan perilaku peserta didik yang lebih mengarah kepada perilaku hidup bersih dan sehat,  sekolah bebas asap merokok, kebiasaan mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, hingga mampu mencegah penyalahgunaan narkoba maupun tawuran.
“Kita semua berharap melalui lomba sekolah sehat dan kegiatan UKS yang dilaksanakan di sekolah dapat memberikan daya ungkit yang nyata terhadap prestasi anak didik,” katanya.
Kadinkes Iskandar mengatakan program UKS dan sekolah sehat merupakan investasi anak untuk hidup sehat . ”UKS yang dilaksanakan di sekolah, madrasah, serta pesantren dapat memberikan daya ungkit yang nyata terhadap kesehatan anak. Mereka berjumlah besar dan merupakan sasaran yang mudah dicapai karena terorganisir dengan baik. Selain itu mereka sangat cepat menerima informasi dalam rangka pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat”, ujar Iskandar.
Usai penilaian SMAN 1 Pandeglang, Tim penilai pusat yang didampingi TP UKS Kabupaten dan Provinsi melanjutkan memberikan penilaian ke sekretariat TP UKS Kecamatan Karangtanjung dan Sekretariat TP UKS Kabupaten Pandeglang.

4 Jun 2012

Gubernur Atut Janjikan Umroh Bagi Sekolah Juara UKS

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah menjanjikan hadiah umroh bagi kepala sekolah yang sekolahnya menjadi juara lomba unit kesehatan sekolah (UKS) tingkat nasional.
     
"Ibu gubernur menjanjikan hadiah berangkat umroh atau haji bagi kepala sekolah yang sekolahnya menjadi juara UKS nasional," kata Asisten Daerah Kesejahtraan Rakyat (Asda III) Provinsi Banten Eutik Suarta usai menerima tim penilai nasional lomba sekolah sehat dan UKS di pendopo Gubernur Banten di Serang, Selasa.
      
Eutik mengatakan, hadiah tersebut sebagai bentuk komitmen dan perhatian Gubernur Banten terhadap kesehatan lingkungan sekolah dan UKS. Bahkan, komitmen pemerintah daerah tersebut mendapatkan apresiasi dari tim penilaian nasional lomba UKS dan sekolah sehat dari perwakilan empat kementerian.

 Ketua tim penilaian nasional lomba UKS dan sekolah sehat, Sri Kusminarti mengatakan, lomba UKS strategis untuk mendidik siswa-siswi karena anak-anak sekolah sebagai agen pembaharu dibekali dengan pendidikan untuk menjaga kesehatan lingkungan sekolahnya.
       
"Banten masuk ke dalam 24 provinsi yang dinominasikan dalam penilaian nasional. Selama ini penilaian dengan instrumen baru hasil reformasi," kata Kusminarti.
      
Menurutnya, instrumen penilaian dalam lomba UKS nasional tersebut berbeda dengan tahun sebelumnya yang instrumen penilaiannya disamaratakan untuk setiap daerah. "Sekarang instumen penilaiannya tidak disamaratakan seperti antara daerah yang berada di wilayah barat dan timur," kata Kusminarti.

"Kriteria penilaian lomba UKS itu yakni sekolah yang sudah melaksanakan trias UKS, perilaku siswa dan lingkungan sekolah dalam melakukan dan mempromosikan kesehatan sekolah, serta sekolah yang sudah dinominasikan di tingkat provinsi," kata Kusminarti.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Hudaya mengatakan, sekolah yang mewakili Banten dalam lomba UKS tingkat nasional antara lain untuk kategori TK, TK Atisa Dipamkara Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang, kemudian kategori sekolah SD, sekolah SD Islam plus Insan Rubani Kecamatan Tigaraksa  Kabupaten Tangerang, kategori sekolah SMP diwakili  MTSN I Rajeg Kabupaten Tangerang dan tingkat SMA diwakili SMAN I Pandeglang. 
     
"Sekolah-sekolah tersebut sebelumnya menjadi juara lomba UKS tingkat provinsi," kata Hudaya.


Sumber : Kompas.Com